Cadangan Minyak Dunia Menyusut, Harga BBM Terancam Naik?
Ilustrasi BBM. (Freepik/jcomp)
14:16
17 Mei 2026

Cadangan Minyak Dunia Menyusut, Harga BBM Terancam Naik?

Cadangan minyak global menyusut dengan laju tercepat dalam sejarah di tengah terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran kenaikan harga minyak dan bahan bakar minyak (BBM) menjelang puncak permintaan musim panas tahun ini.

Badan energi internasional International Energy Agency (IEA) memperingatkan, cadangan minyak dunia bisa mendekati level kritis apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka dalam waktu dekat.

Baca juga: Harga Minyak Naik Usai China Setuju Beli Minyak Mentah AS

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

“Penyusutan cepat cadangan di tengah gangguan yang terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan harga di masa mendatang,” tulis IEA dalam laporan pembaruan bulanannya, dikutip dari CNBC, Minggu (17/5/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak global. Penutupan jalur tersebut membuat pasokan minyak dunia terganggu dan memaksa pasar mengandalkan stok cadangan yang tersedia.

CEO Exxon Mobil, Darren Woods, mengatakan pasar minyak sejauh ini belum sepenuhnya merasakan dampak gangguan pasokan karena masih ditopang oleh persediaan komersial milik industri, cadangan strategis pemerintah, serta minyak yang masih berada di kapal tanker dalam perjalanan.

Dalam paparan kinerja kuartal I 2026 Exxon Mobil, Woods menjelaskan stok cadangan itu membantu meredam dampak gangguan pasokan selama Maret dan April 2026.

Baca juga: China Disebut Akan Beli Minyak AS, Trump: Mereka Haus Energi

Namun, menurut dia, persediaan komersial pada akhirnya akan turun ke level yang tidak lagi mampu menopang pasokan pasar.

“Kami memperkirakan jika hal itu terjadi dan selat tetap tertutup, kita akan terus melihat kenaikan harga di pasar,” terang Woods.

Cadangan minyak dunia mendekati titik terendah

Ilustrasi produksi minyak.FREEPIK/ATLASCOMPANY Ilustrasi produksi minyak.

Bank asal Swiss, UBS, memperkirakan cadangan minyak dunia berada di level lebih dari 8 miliar barrel pada akhir Februari 2026. Namun, jumlah itu turun menjadi sekitar 7,8 miliar barrel pada akhir April 2026.

Analis UBS menilai stok minyak dunia dapat mendekati rekor terendah sebesar 7,6 miliar barrel pada akhir Mei 2026 apabila permintaan minyak tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

Baca juga: IEA: Cadangan Minyak Dunia Terus Menipis akibat Konflik Timur Tengah

Penurunan persediaan hingga level tersebut dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap rantai pasok energi global.

Analis JPMorgan dalam catatan riset tertanggal 30 April 2026 menyebut, cadangan minyak sebesar miliaran barrel memang terdengar besar.

Akan tetapi, hanya sekitar 800 juta barrel yang sebenarnya tersedia tanpa mengganggu stabilitas sistem distribusi energi.

Sisanya diperlukan untuk menjaga pipa distribusi dan tangki penyimpanan tetap berada pada level minimum agar rantai pasok dapat beroperasi dengan efisien.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Kekhawatiran Serangan Kapal di Selat Hormuz

Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menggambarkan kondisi tersebut seperti sistem peredaran darah dalam tubuh manusia.

“Seperti tekanan darah dalam tubuh manusia, masalahnya adalah sirkulasi,” tutur Kaneva.

“Sistem ini tidak gagal karena minyak menghilang, tetapi gagal karena jaringan sirkulasi tidak lagi memiliki volume kerja yang cukup,” lanjut dia.

Harga minyak berpotensi melonjak

JPMorgan memperkirakan cadangan minyak global dapat turun hingga level kritis sebesar 6,8 miliar barrel pada September 2026 apabila Selat Hormuz masih tetap ditutup hingga saat itu.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun Saat Dollar AS dan Minyak Naik, Investor Waspadai Risiko Baru

Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.

Sementara itu, perusahaan riset energi Rapidan Energy memperkirakan persediaan produk bahan bakar justru bisa mencapai level kritis lebih cepat, yakni pada Juli atau Agustus 2026.

Dalam catatan riset tertanggal 7 Mei 2026, analis Rapidan Energy memperingatkan dampak yang lebih luas terhadap aktivitas ekonomi global apabila pasokan energi terus terganggu.

“Ekonomi global akan lumpuh, dengan infrastruktur transportasi penting yang tidak dapat memperoleh bahan bakar dengan harga berapa pun,” tulis analis Rapidan Energy.

Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu operasional transportasi penting karena kesulitan memperoleh BBM meskipun dengan harga tinggi.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Konflik Iran-AS Bikin Pasokan Global Tertekan

Meski demikian, Rapidan Energy menilai kemungkinan stok minyak benar-benar mencapai level kritis relatif kecil. Sebelum itu terjadi, harga minyak dan bahan bakar diperkirakan akan melonjak lebih dahulu sehingga menekan permintaan.

Kenaikan harga energi itu dinilai berpotensi memicu perlambatan ekonomi yang tajam.

“Kemungkinan besar itu akan terjadi sebelum kuartal III 2026,” tulis analis Rapidan Energy.

Kondisi ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan besar menjelang periode konsumsi tinggi pada musim panas di sejumlah negara.

Baca juga: Poin-Poin Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Bahas Minyak hingga AI

Ketika stok minyak terus menyusut dan jalur distribusi utama belum kembali normal, risiko lonjakan harga minyak dunia dinilai semakin terbuka.

IEA pun menilai menyusutnya cadangan minyak secara cepat di tengah berlanjutnya gangguan pasokan dapat menjadi sinyal awal terjadinya lonjakan harga berikutnya.

Bagi konsumen, kondisi tersebut berpotensi berdampak pada kenaikan harga bahan bakar hingga biaya transportasi apabila tekanan di pasar energi global terus berlanjut.

Sementara bagi industri, terutama sektor transportasi dan manufaktur yang bergantung besar pada energi fosil, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan biaya operasional dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Pertemuan Trump-Xi, Masih di Atas 100 Dollar AS

Pasar saat ini masih mengandalkan stok cadangan untuk menjaga pasokan tetap tersedia.

Namun, sejumlah lembaga keuangan dan perusahaan energi memperingatkan kemampuan cadangan tersebut tidak akan bertahan lama apabila gangguan distribusi di Timur Tengah terus berlangsung.

Tag:  #cadangan #minyak #dunia #menyusut #harga #terancam #naik

KOMENTAR