MSCI Umumkan Rebalancing, Saham Big Banks Dibayangi Tekanan Asing
Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (30/4/2026).( ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
12:48
16 Mei 2026

MSCI Umumkan Rebalancing, Saham Big Banks Dibayangi Tekanan Asing

- Saham bank-bank besar bergerak bervariasi setelah pengumuman hasil tinjauan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Di tengah aksi reposisi investor asing dan pelemahan rupiah, analis menilai fundamental emiten perbankan jumbo masih relatif solid meski volatilitas jangka pendek belum mereda.

Pada perdagangan sepekan terakhir, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil ditutup menguat. Sementara saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi.

Baca juga: Setelah MSCI, Giliran FTSE Russell Coret Saham-saham HSC asal Indonesia

Saham BBCA mencatat kenaikan tertinggi dengan penguatan 2,52 persen ke level Rp 6.100 per saham dalam sepekan. Meski demikian, saham BBCA masih mencatat aksi jual bersih asing (net sell) sebesar Rp 245,93 miliar.

Saham BBNI turut naik 1,04 persen menjadi Rp 3.870 per saham. Investor asing juga tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 44,59 miliar pada saham tersebut.

Di sisi lain, saham BBRI turun 1,27 persen menjadi Rp 3.120 per saham. Meski harga saham melemah, investor asing masih membukukan pembelian bersih sebesar Rp 120,83 miliar.

Adapun BMRI menjadi saham dengan koreksi terdalam setelah turun 6,87 persen menjadi Rp 4.200 per saham dalam sepekan. Penurunan tersebut terjadi seiring periode ex date dividen perseroan. BMRI juga mencatat aksi jual bersih asing terbesar mencapai Rp 1,41 triliun.

Baca juga: IHSG Tertekan Usai MSCI dan FTSE Russell “Coret” Saham RI

Efek rebalancing MSCI

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, saham bank besar tetap berpotensi terdampak hasil rebalancing indeks MSCI meski tidak ada emiten big banks yang dikeluarkan dari indeks global tersebut.

“Walaupun saham utama yang dikeluarkan dari MSCI berasal dari sektor energi dan material, pengurangan nilai agregat Indonesia akan mendorong asing mengurangi porsi portofolionya di saham bank besar,” ujar Harry, Jumat (15/5/2026), dikutip dari Kontan.co.id.

Menurut dia, investor asing cenderung melakukan penyesuaian portofolio terhadap aset-aset di pasar Indonesia setelah perubahan komposisi indeks MSCI diumumkan.

Selain sentimen MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga dinilai menjadi faktor yang menekan sektor perbankan.

Nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp 17.500 per dollar AS dinilai dapat membebani kinerja bank ke depan, terutama karena sejumlah bank besar mulai meningkatkan pencadangan atau provisi pada kuartal I-2026.

Baca juga: Prajogo Pangestu Jual 1 Miliar Saham CUAN, Dua Hari Sebelum Dicoret dari MSCI

Fundamental dinilai masih solid

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai fundamental saham bank besar masih cukup kuat. Ia memproyeksikan kinerja emiten perbankan jumbo akan lebih agresif pada kuartal II-2026.

“Ada optimisme terhadap kualitas aset big banks yang mulai stabil, potensi pertumbuhan kredit pada semester II-2026, serta sentimen stimulus pemerintah yang bisa mendorong konsumsi dan pembiayaan masyarakat,” kata Wafi.

Ia juga menilai valuasi saham bank besar saat ini sudah berada di level yang relatif murah sehingga masih menarik untuk dikoleksi secara bertahap.

Menurut Wafi, saham BBRI menarik karena pertumbuhan segmen UMKM domestik mulai membaik. Sementara BMRI dinilai memiliki pendapatan yang stabil.

Adapun BBNI disebut memiliki valuasi paling rendah di antara saham bank besar lainnya sehingga berpotensi dimanfaatkan investor untuk akumulasi.

Baca juga: Daftar Saham yang Didepak MSCI Mei 2026, dari AMMN hingga BREN

Volatilitas diperkirakan berlanjut

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai saham bank besar sejauh ini masih ditopang fundamental yang solid dan likuiditas tinggi.

Menurut dia, kedua faktor tersebut dapat menjaga aliran dana asing agar tidak keluar lebih besar dari saham-saham perbankan jumbo, terlebih emiten tersebut masih masuk dalam MSCI Global Standard Index.

Meski demikian, Nafan memperkirakan volatilitas saham bank besar masih akan berlangsung dalam jangka pendek setelah pengumuman MSCI.

“Saham big banks kemungkinan masih akan turun dalam sepekan ke depan,” ujar Nafan.

Ia memperkirakan volatilitas mulai mereda pada akhir Mei 2026. Nafan juga memberikan target harga atau take profit saham bank besar, yakni BBCA di Rp 8.350, BBRI di Rp 3.670, BBNI di Rp 4.520, dan BMRI di Rp 5.650.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Menakar Prospek Saham Big Banks: BBCA, BBRI, BMRI & BBNI Pasca Pengumuman MSCI

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #msci #umumkan #rebalancing #saham #banks #dibayangi #tekanan #asing

KOMENTAR