Rupiah Anjlok, Sektor-sektor Ini Ketiban Untung
Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar AS(Thinkstockphotos.com/ThamKC)
17:20
15 Mei 2026

Rupiah Anjlok, Sektor-sektor Ini Ketiban Untung

- Ketika pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) memukul beberapa industri nasional, sejumlah sektor berbasis ekspor justru diperkirakan menikmati keuntungan besar.

Pelemahan rupiah membuat harga produk Indonesia menjadi lebih murah di mata pembeli asing, sehingga berpotensi mendongkrak permintaan ekspor.

Nilai tukar rupiah di pasar spot masih ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda melemah 0,39 persen ke level Rp 17.597 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, kurs rupiah anjlok 17.600 per dollar AS saat pembukaan perdagangan Jumat pagi.

Baca juga: Rupiah Anjlok, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Masyarakat dengan Tabungannya?

Presiden Direktur Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, mengatakan industri yang memiliki pasar luar negeri atau berbasis ekspor mendapat berkah dari pelemahan rupiah.

Pasalnya, produk-produk Tanah Air menjadi relatif lebih murah di mata pembeli asing ketika nilai dollar AS menguat, sehingga berpotensi menarik lebih banyak permintaan dari pasar global.

“Yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah adalah industri yang pangsa pasarnya orang asing karena barang-barang Indonesia dianggap lebih murah dengan nilai dollar AS mereka yang menguat, sehingga menarik lebih banyak pembeli,” ujar Ariston saat dihubungi Kompas.com, Jumat sore.

Keuntungan yang diperoleh eksportir bisa berlipat karena pendapatan perusahaan diterima dalam bentuk dollar AS, sementara sebagian biaya produksi dan bahan baku masih menggunakan rupiah.

Situasi ini membuat margin keuntungan perusahaan berpotensi meningkat ketika kurs dollar AS naik.

Ariston mencatat sektor yang bisa menikmati keuntungan dari pelemahan rupiah antara lain industri pertambangan, hasil pertanian, hingga perkebunan yang selama ini memiliki orientasi ekspor cukup besar.

“Keuntungan juga menjadi dobel karena penjualan dalam dollar AS dengan bahan baku rupiah. Contohnya Eksportir apapun misalnya tambang, hasil pertanian dan perkebunan,” paparnya.

Penguatan dollar AS juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perdagangan dalam negeri, terutama pelaku UMKM di kawasan wisata.

Nilai tukar dollar AS yang lebih kuat membuat wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar saat berkunjung ke Indonesia, sehingga aktivitas belanja dan konsumsi mereka berpotensi meningkat.

“Penguatan dollar AS juga bisa mendatangkan banyak turis asing untuk berbelanja di dalam negeri,” beber dia.

Ariston memandang, sektor yang diuntungkan dari pelemahan rupiah, seperti industri ekspor dan pariwisata, pada akhirnya dapat memberikan dampak positif terhadap masyarakat yang bekerja di dalamnya.

Peningkatan permintaan dan aktivitas usaha dinilai berpotensi ikut meningkatkan pendapatan para pekerja di sektor terkait.

Industri Berbasis Impor Tertekan dan Potensi PHK

Sebaliknya, sejumlah industri nasional, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor disebut-sebut cukup terpukul.

Kondisi tersebut tidak hanya memicu kenaikan biaya produksi, tetapi juga membuka peluang terjadinya efisiensi tenaga kerja alias pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menyebut industri tekstil menjadi salah satu sektor yang cukup rentan karena sebagian besar bahan bakunya masih didatangkan dari luar negeri, sehingga kenaikan kurs dollar AS otomatis meningkatkan biaya produksi.

Lalu, industri bahan kimia juga diperkirakan mengalami tekanan serupa akibat tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Kondisi ini membuat biaya operasional perusahaan berpotensi meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah.

“Pertama ya, itu kan bahan baku penolong buat industri. Yang industri tekstil. Itu kan bahan bakunya itu sebagian besar impor. Kemudian industri bahan kimia ini juga terdampak bahan bakunya impor,” ucap Tauhid saat dihubungi Kompas.com.

Ilustrasi Pariwisata IndonesiaDokumentasi Biro Komunikasi Kemenparekraf Ilustrasi Pariwisata Indonesia

Industri farmasi atau obat-obatan juga tidak lepas dari tekanan pelemahan mata uang Garuda karena mayoritas bahan baku masih berasal dari luar negeri.

Hal yang sama terjadi pada sektor otomotif, khususnya kendaraan yang belum diproduksi di dalam negeri, sehingga harga jualnya berpotensi ikut naik.

“Mungkin itu terdampak sebagian. Kemudian industri obat-obatan itu sebagian besar impor. Termasuk juga kendaraan otomotif yang tidak diproduksi di Indonesia masih ikut naik,” tukasnya.

Menurutnya, kenaikan biaya bahan baku impor pada industri tekstil dan sektor manufaktur lainnya pada akhirnya akan mendorong penyesuaian harga produk di pasar.

“Kalau makanan, minuman, rasanya tidak terlalu ya untuk domestik, tapi yang lain saya kira akan terdampak. Saya kira mungkin itu yang terdampak,” kata Tauhid.

Sementara itu, sektor makanan dan minuman dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak kurs karena lebih banyak mengandalkan pasar domestik dan bahan baku lokal.

Namun, sebagian besar sektor industri lain tetap akan terdampak oleh pelemahan rupiah, termasuk industri besi dan baja yang juga masih menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya.

Situasi itu membuka peluang terjadinya langkah efisiensi di berbagai sektor industri, termasuk efisiensi tenaga kerja.

Perusahaan dinilai akan berupaya menekan beban operasional agar tetap mampu bertahan di tengah kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.

“Punya peluang untuk terjadi efisiensi,” kata dia.

Besaran dampak efisiensi tersebut akan berbeda-beda di setiap sektor, tergantung tingkat ketergantungan industri terhadap bahan baku impor serta kondisi pasar domestik masing-masing perusahaan.

Lebih jauh, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah mitigasi untuk menahan dampak pelemahan rupiah terhadap industri nasional yang bergantung pada impor bahan baku.

Salah satu adalah memberikan pengurangan atau pembebasan bea masuk untuk sejumlah komoditas dan kebutuhan industri tertentu agar biaya produksi tidak semakin membengkak.

Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menurunkan tarif impor dan memberikan pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk barang-barang tertentu yang menjadi kebutuhan penting industri.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan kurs dollar AS.

Dukungan lain yang juga diperlukan adalah pemberian insentif kurs, khususnya bagi importir yang memiliki kebutuhan pembiayaan dalam valuta asing.

“Pengurangan atau pembebasan bea masuk bagi komoditas rumah tangga, pengurangan tarif impor, pembebasan PPN untuk barang tertentu, insentif kurs. Khususnya bagi kredit untuk importir,” kata dia.

Baca juga: Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

Tag:  #rupiah #anjlok #sektor #sektor #ketiban #untung

KOMENTAR