Rupiah Melemah, Komisi XI DPR Minta Pemerintah Cegah Dampaknya ke Masyarakat
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). . (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
14:44
15 Mei 2026

Rupiah Melemah, Komisi XI DPR Minta Pemerintah Cegah Dampaknya ke Masyarakat

- Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah mencegah dampak dari rupiah melemah ke masyarakat luas.

Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

"Kalau pelemahan rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa ke biaya produksi, harga barang impor, sampai harga kebutuhan masyarakat," jelas Misbakhun dikutip dari Kontan, Jumat (15/5/2026).

Bank Indonesia (BI) juga diminta proaktif mengantisipasi pelemahan rupiah lebih jauh lagi.

Baca juga: Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

Setelahnya, memperkuat nilai tukar sekaligus menjaga kepercayaan pasar agar modal tak keluar dari Indonesia.

"Yang dijaga bukan cuma angka kursnya. Yang lebih penting itu kepercayaan pasar dan kepastian bagi pelaku usaha. Komunikasi kebijakan harus cepat, jelas, dan kredibel," jelasnya.

Lalu di sisi fiskal, ia menyoroti begitu pentingnya optimalisasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE).

Baca juga: Rupiah Melemah, Begini Dampaknya ke Harga BBM dan Tiket Pesawat

DHE bila berhasil dilaksanakan maka penguatan rupiah lebih cepat dan berdampak pada ketahanan nasional dari gejolak global.

Ditambah adanya relaksasi bagi industri yang masih tergantung bahan baku impor, tujuannya agar kenaikan biaya produksi tak membebani harga jual ke masyarakat.

"Jangan sampai pelemahan rupiah ujung-ujungnya menaikkan biaya produksi lalu dibebankan lagi ke harga barang di masyarakat. Kalau itu terjadi, daya beli bisa ikut tertekan," ujarnya.

Dibalik pelemahan rupiah, perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen di kuartal I-2026.

Baca juga: Harga TV dan AC Mulai Naik, Rupiah Melemah Tekan Dompet Warga

Konsumsi rumah tangga 

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat Indonesia tetap kuat disaat  rupiah melemah.

Konsumsi rumah tangga menyumbang 2,94 persen dari total pertumbuhan ekonomi di angka 5,61 persen kuartal I-2026.

“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ujar Purbaya dikutip dari Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Dampaknya ke Pasar Modal Indonesia

Diikuti investasi, menyumbang 1,79 persen, lalu belanja pemerintah senilai 1,26 persen.

Struktur pertumbuhan ekonomi didasarkan pada kontribusi masing-masing sektor ke Produk Domestik Bruto (PDB).

Penghitungannya, kontribusi pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan setiap komponen dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian.

Baca juga: Rupiah Melemah Hari Ini, Purbaya: Kita Serahkan ke Ahlinya, Bank Indonesia

"Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional," jelasnya.

Pemerintah, terus berupaya memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Level Rp 17.414 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya

Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Rupiah Tertekan, Komisi XI DPR Minta BI & Pemerintah Gerak Cepat Cegah Inflasi Impor" dan "Ini Kata Purbaya soal Keluhan Kadin China ke Prabowo"

Tag:  #rupiah #melemah #komisi #minta #pemerintah #cegah #dampaknya #masyarakat

KOMENTAR