Harga Minyak Dunia Naik ke 101 Dollar AS per Barrel, Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat (8/5/2026) seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia.()
14:36
8 Mei 2026

Harga Minyak Dunia Naik ke 101 Dollar AS per Barrel, Konflik AS-Iran Kembali Memanas

- Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat (8/5/2026) seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk Persia.

Kenaikan harga minyak terjadi ketika investor masih mencermati peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik sekitar 1 persen ke level 101 dollar AS per barrel pada perdagangan Asia.

Sementara itu, pasar saham global bergerak beragam. Bursa Asia masih berada di jalur penguatan mingguan yang solid berkat lonjakan sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Departemen Keuangan AS Jatuhkan Sanksi ke Pejabat Irak, Dituduh Bantu Iran Jual Minyak

Kontrak berjangka saham Eropa turun sekitar 0,8 persen. Futures FTSE melemah 0,7 persen, sedangkan futures indeks S&P 500 AS justru menguat 0,3 persen.

Pasar bergerak hati-hati setelah AS dan Iran kembali terlibat bentrokan di kawasan Teluk Persia. Uni Emirat Arab (UEA) juga kembali mengalami serangan dalam ujian terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar satu bulan.

Meski demikian, kedua pihak dinilai berupaya meredam situasi sehingga investor masih berharap konflik tidak berkembang lebih luas.

Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management, Kerry Craig, mengatakan perhatian investor masih tertuju pada kuatnya kinerja keuangan perusahaan-perusahaan AS.

“Fokus pasar masih pada kuatnya pendapatan perusahaan di AS,” ujar Craig.

Baca juga: Pertamina dan BGN Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Rendah Karbon

Ia menambahkan, pelaku pasar juga menyambut positif upaya kedua pihak untuk mencapai kesepakatan sementara demi membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz sambil melanjutkan pembahasan perdamaian yang lebih menyeluruh.

Di kawasan Asia, pasar saham sempat terkoreksi tipis dari level tertinggi setelah reli besar yang didorong permintaan AI. Lonjakan pendapatan dan rencana belanja perusahaan hyperscaler AI di AS menjadi sentimen positif bagi produsen chip Asia.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,9 persen. Namun, indeks KOSPI Korea Selatan hanya melemah 0,1 persen dan masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan lebih dari 13 persen, terbesar sejak 2008, didorong lonjakan saham Samsung dan SK Hynix.

Indeks saham Taiwan naik 7 persen sepanjang pekan ini, sedangkan indeks Nikkei Jepang menguat 5,2 persen.

Baca juga: Trump: Jika Harga Minyak Capai 200 Dollar AS, Perang Iran Tetap Sepadan

Di pasar mata uang, pergerakan relatif stabil dengan dollar AS mulai pulih dari pelemahan sebelumnya. Yen Jepang menjadi perhatian setelah otoritas Jepang disebut melakukan intervensi pasar valuta asing pada awal Mei guna menahan pelemahan mata uang tersebut.

Euro diperdagangkan di level 1,1736 dollar AS, sementara yen berada di posisi 156,8 per dollar AS.

Yuan China, yang menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia sejak perang pecah, mendekati level penguatan di bawah 6,8 per dollar AS atau terkuat sejak 2023.

Selain perkembangan geopolitik, investor kini menunggu rilis data tenaga kerja AS atau non-farm payrolls pada Jumat waktu setempat.

Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan jumlah pekerjaan di AS bertambah 62.000 pada April 2026 setelah meningkat 178.000 pada Maret.

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Pertimbangkan Kawal Kapal di Selat Hormuz

Pasar juga mencermati hasil pemilu lokal di Inggris. Pelemahan dukungan terhadap Partai Buruh dikhawatirkan dapat menekan posisi Perdana Menteri Keir Starmer dan memicu tekanan di pasar obligasi Inggris.

Analis ING menilai ketidakpastian politik berpotensi membuat investor global mencari alternatif investasi lain di luar Inggris.

Di sisi lain, pengadilan perdagangan AS memutuskan tarif impor global sementara sebesar 10 persen yang diterapkan Presiden Donald Trump tidak sesuai dengan undang-undang perdagangan era 1970-an.

Meski demikian, analis memperkirakan pemerintah AS akan segera mengajukan banding sehingga dampaknya terhadap kebijakan tarif diperkirakan terbatas.

Kenaikan harga minyak hari ini juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran inflasi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,39 persen.

Tag:  #harga #minyak #dunia #naik #dollar #barrel #konflik #iran #kembali #memanas

KOMENTAR