Asing Terus Net Sell, Siapa Penopang IHSG?
- Aksi jual bersih atau net sell investor asing masih membayangi perdagangan di pasar modal tanah air. Net sell kerap menjadi beban bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tekanan tersebut terutama menghantam saham kapitalisasi besar atau blue chip, khususnya sektor perbankan yang menjadi motor penggerak utama indeks.
Pada perdagangan Rabu (6/5/2026), investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp 484 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual asing paling besar terjadi pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai jual Rp 189 miliar.
Aksi jual asing juga tercatat pada saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 122 miliar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 90 miliar. Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) membukukan net sell asing Rp 79 miliar, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp 74 miliar.
Baca juga: Investor Asing Kabur dari BMRI, BBCA, Hingga CUAN, IHSG Tetap Ditutup Hijau
Meski demikian, laju IHSG belum kehilangan tenaga. Pada perdagangan Rabu, IHSG ditutup menguat 0,50 persen atau bertambah 35 poin ke level 7.092.
Di tengah derasnya arus keluar dana asing, investor domestik hingga saham-saham second liner -saham dengan kapitalisasi pasar menengah yang berada di bawah kelompok saham blue chip- justru menjadi penguat IHSG.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan saham big caps menjadi kelompok yang rentan terhadap aksi capital outflow asing. Itu lantaran investor global memiliki porsi kepemilikan pada saham tersebut, misalnya di sektor perbankan ada BBCA, BBRI, hingga BMRI.
“Bahwasanya ketika investor asing melepaskan saham-saham blue chip, kan ini lagi net sell tuh, kalau saham-saham blue chip itu kan seperti perbankan, misalnya ada BRI, Mandiri, dan BCA,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam.
Menurutnya, tekanan terhadap saham-saham unggulan tersebut tidak otomatis membuat IHSG terpuruk. Sebab, terdapat peran besar investor domestik yang menjadi bantalan utama pasar saat asing melakukan aksi jual.
Investor institusi lokal seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer investasi, hingga BPJS Ketenagakerjaan diyakini aktif melakukan akumulasi saham ketika harga mengalami koreksi atau dinilai berpotensi mendatangkan keuntungan dalam jangka panjang.
“Nah ini para pelaku dana institusi lokal ini ya ini mereka itu benar-benar memanfaatkan peluang memanfaatkan peluang ketika harga saham untuk akumulasi secara jangka panjang seperti itu,” paparnya.
Para institusi lokal memanfaatkan momentum pelemahan harga saham untuk memperkuat portofolio investasi jangka panjang. Strategi akumulasi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas IHSG di tengah tekanan arus keluar modal asing.
Dalam kondisi saham-saham kapitalisasi besar tertekan akibat foreign outflow, Nafan melihat saham second liner mulai memainkan peran penting sebagai penstabil indeks atau index stabilizer.
Saham second liner relatif lebih tahan terhadap tekanan jual asing karena pergerakannya tidak terlalu bergantung pada aliran dana global.
Penguatan saham second liner umumnya dipicu oleh sentimen aksi korporasi emiten, ekspansi bisnis, hingga fundamental perusahaan yang masih solid. Kondisi tersebut membuat saham lapis kedua tetap memiliki ruang penguatan, meski IHSG bergerak fluktuatif.
Lebih jauh, sejumlah sektor yang banyak menopang pergerakan saham second liner antara lain sektor konsumer non-siklikal, energi, hingga properti. Selain itu, saham-saham milik kelompok konglomerasi domestik juga masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik.
Selain investor institusi, partisipasi investor ritel juga dinilai cukup tinggi. Investor ritel disebut aktif memburu saham-saham yang tengah mengalami rotasi sektor sehingga likuiditas transaksi di pasar tetap terjaga.
“Nah kemudian ada juga investor retail ya kan. Partisipasi investor retail tetap tinggi karena mereka juga seringkali masuk ke saham-saham yang sedang mengalami rotasi sektor, sehingga likuiditas pasar tetap terjaga, meskipun asing keluar,” tukasnya.
Jumlah investor ritel di pasar modal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah investor pasar modal telah menembus lebih dari 20 juta pada 2025, dengan pertumbuhan yang didominasi investor domestik dan generasi muda.
Bahkan, sepanjang 2025 saja jumlah investor bertambah lebih dari 5 juta, mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam investasi.
OJK mencatat, hingga akhir Maret 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 24,74 juta, tumbuh pesat dari awal tahun.
Pertumbuhan ini didorong oleh dominasi investor ritel, di mana usia di bawah 30 tahun mencapai 54 persen, dan penambahan 1,78 juta investor baru hanya dalam satu bulan (Maret 2026 secara bulanan atau month to month/mtm).