Iran Hadapi Inflasi 69 Persen, Tekanan Ekonomi Kian Dalam
Tekanan inflasi di Iran menunjukkan eskalasi yang semakin tajam di tengah kombinasi faktor domestik dan eksternal yang membebani perekonomian negara tersebut.
Proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan tingkat inflasi Iran dapat mencapai 69 persen, salah satu yang tertinggi dalam sejarah modern negara itu.
IMF memproyeksikan inflasi Iran akan menyentuh 69 persen pada 2025, tepatnya 68,9 persen.
Baca juga: Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus 114 Dollar AS
Seorang pria berdiri membawa bendera Iran di persimpangan Valiasr Square di Teheran, Senin (6/4/2026). Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026) mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Respons Negara-negara soal Gencatan Senjata Iran-AS: Sambut Positif dan Desak Perdamaian Abadi
Di saat yang sama, tekanan ekonomi tidak hanya datang dari sisi harga.
IMF juga memperkirakan ekonomi Iran mengalami kontraksi signifikan, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil sempat berada di level negatif 6,1 persen.
Kondisi ini mempertegas tren inflasi kronis yang telah lama membayangi ekonomi Iran, di mana tekanan harga tinggi berjalan beriringan dengan pelemahan aktivitas ekonomi.
Inflasi tinggi yang bersifat struktural
Secara historis, inflasi di Iran bukan fenomena baru. Dalam jangka panjang, ekonomi negara tersebut memang ditandai oleh inflasi tinggi yang persisten.
Baca juga: Belum Setimpal, Trump Urung Terima Proposal Damai Iran
Faktor utama yang sering disebut adalah defisit anggaran pemerintah yang dibiayai melalui ekspansi moneter.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan likuiditas yang pada akhirnya memicu kenaikan harga secara luas. Selain itu, ketergantungan terhadap pendapatan minyak serta kelemahan dalam sistem fiskal memperburuk siklus inflasi.
Ilustrasi inflasi.
Data IMF juga menunjukkan struktur fiskal Iran relatif terbatas, dengan penerimaan pemerintah sekitar 10,37 persen terhadap PDB dan belanja pemerintah sekitar 14,2 persen terhadap PDB.
Kesenjangan antara penerimaan dan belanja tersebut mencerminkan tekanan fiskal yang berpotensi mendorong pembiayaan melalui ekspansi moneter, yang pada akhirnya berkontribusi pada inflasi.
Baca juga: Trump Tak Puas dengan Proposal Iran, Negosiasi Konflik Masih Buntu
Di sisi lain, depresiasi nilai tukar rial Iran menjadi faktor penting lain yang mempercepat inflasi. Pelemahan mata uang meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang konsumsi dan bahan baku produksi.
Dampak sanksi dan konflik geopolitik
Salah satu faktor utama yang memperparah inflasi Iran adalah sanksi ekonomi internasional, terutama yang menyasar sektor minyak dan sistem keuangan. Pembatasan ini mengurangi pendapatan devisa negara sekaligus mempersempit akses terhadap pasar global.
Akibatnya, pasokan barang impor terganggu dan biaya produksi meningkat, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga domestik. Sanksi juga memicu ketidakstabilan nilai tukar yang mempercepat inflasi.
Selain itu, eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperburuk situasi. IMF dalam berbagai laporan menilai konflik tersebut meningkatkan harga energi global dan memperdalam tekanan inflasi, baik di tingkat global maupun domestik.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun Tipis, Ketegangan AS-Iran Bayangi Pasar
Dalam konteks ini, inflasi di Iran tidak hanya dipengaruhi faktor internal, tetapi juga dinamika eksternal yang kompleks.
Lonjakan harga dan tekanan pada masyarakat
Kenaikan inflasi yang tinggi secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok seperti makanan, energi, dan perumahan mengalami kenaikan signifikan, sehingga menekan kesejahteraan rumah tangga.
Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi di Iran konsisten berada di atas 40 persen, dengan lonjakan harga pangan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata.
Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.
Kondisi ini menciptakan tekanan yang lebih besar bagi kelompok berpendapatan rendah.
Baca juga: Harga Minyak Turun Usai Iran Ajukan Proposal Damai ke AS
Dikutip dari Iranwire, lonjakan harga juga beriringan dengan penyusutan ukuran ekonomi.
IMF memperkirakan nilai PDB Iran berada di kisaran sekitar 300 miliar dollar AS pada 2026, menunjukkan skala ekonomi yang relatif stagnan di tengah tekanan inflasi tinggi.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana inflasi tinggi tidak diimbangi dengan ekspansi ekonomi yang kuat, sehingga memperdalam tekanan terhadap masyarakat.
Risiko menuju hiperinflasi
Sejumlah analis memperingatkan bahwa Iran berisiko memasuki fase hiperinflasi apabila tidak ada reformasi struktural yang signifikan. Tanpa perubahan kebijakan ekonomi yang mendasar, negara tersebut bergerak cepat menuju masa depan gelap hiperinflasi.
Baca juga: Iran Ajukan Proposal Baru ke AS, Selat Hormuz Masih Ditutup
Peringatan ini didasarkan pada kombinasi faktor, mulai dari defisit fiskal, ketergantungan pada impor, hingga ekspektasi inflasi yang tinggi di kalangan masyarakat.
Hiperinflasi adalah kondisi inflasi yang sangat tinggi, tidak terkendali, dan terjadi secara cepat, ditandai dengan kenaikan harga barang/jasa secara drastis serta penurunan nilai mata uang yang tajam, biasanya melebihi 50 persen per bulan.
Situasi ini melumpuhkan daya beli masyarakat dan sering dipicu oleh pencetakan uang berlebih oleh pemerintah untuk membiayai defisit anggaran.
Ketika pelaku ekonomi memperkirakan harga akan terus naik, mereka cenderung mempercepat konsumsi atau mengalihkan aset ke bentuk yang lebih stabil. Kondisi ini memperkuat tekanan inflasi secara berkelanjutan.
Baca juga: Blokade Berlanjut, Trump Sebut Ekonomi Iran Akan Tumbang
Seorang pria yang membawa bungkusan di pundaknya berjalan melewati papan reklame besar yang menampilkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di sebuah jalan di Teheran pada 20 April 2026.
Respons pemerintah dan kebijakan subsidi
Dalam menghadapi lonjakan inflasi, pemerintah Iran telah mengambil sejumlah langkah, termasuk pemberian subsidi dan bantuan langsung kepada masyarakat.
Kebijakan subsidi memang telah lama menjadi bagian dari strategi ekonomi Iran untuk menekan harga barang kebutuhan pokok. Namun, kebijakan ini juga memiliki konsekuensi terhadap anggaran negara.
Pengeluaran subsidi yang besar berpotensi memperlebar defisit fiskal, yang pada akhirnya dapat kembali memicu inflasi melalui ekspansi moneter.
Upaya pengalihan subsidi menjadi bantuan langsung yang lebih terarah juga telah dilakukan, meskipun efektivitasnya dalam menahan inflasi masih menjadi perhatian.
Baca juga: Prediksi Rupiah ke Rp 17.400: Dampak Krisis Energi dan Konflik Iran
Inflasi dan prospek ekonomi Iran
Proyeksi inflasi sebesar hampir 70 persen dari IMF menegaskan bahwa tekanan harga di Iran masih berada dalam tren yang meningkat.
Dengan inflasi tinggi yang terjadi bersamaan dengan kontraksi ekonomi dan tekanan fiskal, Iran menghadapi kondisi yang mencerminkan tekanan ekonomi yang kompleks.
Data IMF menunjukkan bahwa selain inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi Iran juga terbatas, dengan proyeksi pertumbuhan yang hanya sekitar 1,1 persen pada periode berikutnya.
Kombinasi antara inflasi tinggi, pertumbuhan rendah, dan tekanan eksternal menempatkan ekonomi Iran dalam situasi yang penuh tantangan.
Tag: #iran #hadapi #inflasi #persen #tekanan #ekonomi #kian #dalam