Cadangan Kas Berkshire Capai Rp 6.868 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
– Berkshire Hathaway membukukan lonjakan cadangan kas dan penguatan laba operasional pada kuartal pertama 2026 di bawah kepemimpinan CEO baru, Greg Abel.
Mengutip Bloomberg, Minggu (3/5/2026), cadangan kas Berkshire Hathaway tercatat sebesar 397 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.868,1 triliun (asumsi kurs Rp 17.300 per dollar AS). Angka tersebut naik ke level tertinggi sepanjang sejarah setelah sebelumnya sempat melemah pada akhir tahun lalu.
Kenaikan tersebut ditopang oleh aksi divestasi bersih saham senilai 8,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 140,13 triliun selama periode Januari–Maret 2026.
Baca juga: Gaji CEO Baru Berkshire Hathaway Naik 19 Persen, Jauh di Atas Warren Buffett
Dari sisi kinerja, laba operasional Berkshire juga meningkat menjadi 11,35 miliar dollar AS, atau tumbuh hampir 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penguatan ini terutama berasal dari perbaikan bisnis asuransi.
Greg Abel, yang menggantikan investor legendaris Warren Buffett sebagai CEO tahun ini, turut kembali mengaktifkan program pembelian kembali saham (buyback).
Pada kuartal tersebut, perusahaan membeli kembali saham senilai 234,2 juta dollar AS (sekitar Rp 4,05 triliun).
Langkah buyback tersebut mencerminkan keyakinan manajemen bahwa nilai intrinsik saham masih lebih tinggi dibandingkan harga pasar. Keputusan ini sebelumnya juga disepakati bersama Buffett sebelum masa transisi kepemimpinan.
Baca juga: Warren Buffett Resmi Pensiun dari CEO Berkshire Setelah 60 Tahun
Meski demikian, saham Berkshire Hathaway masih tertinggal dari pasar yang lebih luas sejak rencana suksesi diumumkan. Sepanjang tahun berjalan, saham perusahaan tercatat turun 5,9 persen.
Dalam pertemuan tahunan di Omaha, Nebraska, Greg Abel untuk pertama kalinya memimpin rapat pemegang saham sebagai CEO. Sementara Warren Buffett yang kini berusia 95 tahun tetap hadir dan memberikan sambutan singkat.
Kinerja Berkshire Hathaway kerap menjadi barometer ekonomi Amerika Serikat karena portofolio bisnisnya yang luas, mulai dari asuransi, perkeretaapian, energi, hingga manufaktur.
Di lini asuransi, laba underwriting naik menjadi 1,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 29,41 triliun, tumbuh sekitar 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang terdampak kerugian akibat kebakaran hutan di Los Angeles.
Baca juga: Laba Berkshire Melesat, Buffett Pilih Tumpuk Kas Jadi Rp 6.336 Triliun
Namun, unit asuransi kendaraan GEICO mencatat penurunan laba underwriting sebelum pajak sebesar 35 persen. Tekanan berasal dari meningkatnya klaim serta biaya akuisisi nasabah baru.
Analis CFRA Research, Cathy Seifert, menilai kinerja Geico tertinggal dibandingkan pesaingnya. “Sebagian besar kompetitor Geico mencatat perbaikan signifikan pada hasil underwriting kuartal ini,” ujarnya.
Sementara itu, laba bersih unit perkeretaapian BNSF Railway naik 13 persen menjadi 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 24,22 triliun). Kinerja ini dinilai mencerminkan dampak awal efisiensi biaya di bawah kepemimpinan CEO Katie Farmer.
Abel menyebut hasil tersebut sebagai awal yang positif, meski ia menegaskan masih ada ruang perbaikan terutama pada efisiensi operasional dan margin keuntungan.
Baca juga: Profil Warren Buffett, Miliarder dan CEO Berkshire Hathaway
Di sisi investasi, Berkshire juga melepas sejumlah portofolio saham yang sebelumnya dikelola Todd Combs. Combs sendiri kini bergabung dengan JPMorgan Chase sebagai penasihat investasi sejak akhir 2025.
Untuk kepemilikan di Kraft Heinz, Berkshire belum mencatatkan penurunan nilai baru.
Nilai buku investasinya masih lebih tinggi sekitar 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24,22 triliun dibandingkan nilai wajarnya. Tahun lalu, perusahaan sempat membukukan kerugian penurunan nilai sebesar 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 65,74 triliun.
Tag: #cadangan #berkshire #capai #6868 #triliun #tertinggi #sepanjang #sejarah