Gen Z Ramai Pakai Fintech, Tapi Minim Literasi
Penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda kian masif. Namun di balik tingginya adopsi tersebut, masih tersimpan persoalan mendasar yaitu, rendahnya pemahaman terhadap risiko finansial yang bisa berdampak panjang, termasuk gagal bayar hingga rusaknya reputasi kredit.
Kondisi ini tercermin dari data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara inklusi dan literasi keuangan. Indeks inklusi keuangan tercatat sudah mencapai 80,51 persen, sementara literasi masih berada di angka 66,46 persen.
Khusus pada kelompok Gen Z (usia 18–25 tahun), tingkat inklusi bahkan menyentuh 89,96 persen, namun literasi mereka tertinggal di level 73,22 persen. Artinya, banyak anak muda sudah menggunakan layanan keuangan digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko dan tanggung jawabnya.
Fenomena ini mendorong PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash), platform pinjaman daring (pindar) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memperkuat edukasi keuangan bagi generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan literasi keuangan bertajuk “Literasi Keuangan Generasi Muda di Era Digital” di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, menilai percepatan adopsi fintech belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Ilustrasi gen Z (Pexels/fauxels)"Kami melihat kecepatan adopsi layanan fintech belum sepenuhnya dibarengi dengan pemahaman yang mendalam. Di Surabaya, kami tidak hanya ingin memberikan akses, tetapi juga mendorong generasi muda untuk #JadiLebihPaham sehingga bijak dalam mengatur keuangan dengan sehat melalui pendekatan program edukasi keuangan yang lebih relevan," ujar Wildan di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, Surabaya sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di Indonesia memiliki populasi anak muda yang dinamis, namun juga rentan terhadap risiko finansial jika tidak dibekali literasi yang tepat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Easycash memperkenalkan dua inisiatif edukasi, yakni Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar. MOJANG dikemas dalam format zine yang ringan dan kontekstual bagi Gen Z dan milenial, sementara ChatPindar hadir sebagai teknologi berbasis AI yang dapat menjadi “teman ngobrol” terkait pinjaman daring.
Melalui kedua program ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami berbagai aspek penting, mulai dari manajemen arus kas, mengenali platform legal dan ilegal, hingga menjaga reputasi kredit.
Wildan menegaskan, reputasi kredit menjadi faktor krusial yang kerap diabaikan, padahal dampaknya bisa panjang.
"Reputasi kredit adalah aset masa depan. Sekali seseorang mengalami gagal bayar (galbay) karena keputusan keuangan yang salah atau kurangnya pemahaman tentang aspek keuangan, maka rekam jejak tersebut akan tercatat dan berpotensi menghambat akses mereka ke layanan keuangan lainnya di masa depan," tambah Wildan.
Dari sisi perencana keuangan, Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia, Mirzan Hasan, menilai tantangan pengelolaan keuangan generasi muda juga dipengaruhi gaya hidup di era digital.
Masalah keuangan yang dihadapi mahasiswa sering kali bukan tentang seberapa besar uang yang mereka miliki, tetapi tentang bagaimana mereka menentukan prioritas. Banyak Gen Z terjebak dalam lifestyle inflation.
"Kami mengajarkan mahasiswa untuk mulai mencatat arus kas dan memahami bahwa penghasilan kita harus dikelola dengan baik, memilah antara kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan pinjaman secara lebih produktif, bukan impulsif," jelas Mirzan.
Ia menambahkan, derasnya arus informasi di media sosial kerap menciptakan ilusi kemakmuran yang mendorong perilaku konsumtif tanpa perencanaan matang.
Ke depan, kolaborasi antara industri fintech, asosiasi, dan institusi pendidikan diharapkan mampu mempersempit kesenjangan literasi tersebut. Dengan begitu, teknologi finansial tidak hanya menjadi alat kemudahan akses, tetapi juga sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.