22 Persen Perdagangan Dunia Lewat Selat Malaka, Mengapa Sangat Penting?
Selat Malaka. Media Malaysia Sebut Indonesia Bakal Tarik Pajak Kapal yang Melewati Selat Malaka(BBC INDONESIA)
11:12
24 April 2026

22 Persen Perdagangan Dunia Lewat Selat Malaka, Mengapa Sangat Penting?

Selat Malaka kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Selat Hormuz.

Namun jauh sebelum ketegangan terbaru di Timur Tengah, jalur laut di antara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand ini telah lama menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global, khususnya minyak.

Status strategis itu tak lepas dari posisi Selat Malaka sebagai jalur laut terpendek yang menghubungkan Timur Tengah dan Eropa dengan Asia Timur.

Baca juga: Mengapa Selat Malaka Krusial bagi Perdagangan dan Pasokan Energi Dunia?

Tangkapan layar Google Maps, Selat Malaka.Tangkapan layar Google Maps Tangkapan layar Google Maps, Selat Malaka.

Dikutip dari Reuters, Jumat (24/4/2026), jalur sepanjang sekitar 900 kilometer itu menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas menuju China, Jepang, dan Korea Selatan. Ini adalah negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat hampir 22 persen perdagangan maritim dunia melintasi Selat Malaka.

Dari sisi energi, mengutip Malay Mail, jalur ini bahkan disebut sebagai oil transit chokepoint terbesar di dunia oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), melampaui Selat Hormuz.

Pada semester I 2025, sekitar 23,2 juta barrel minyak per hari melintas di Selat Malaka, setara 29 persen total aliran minyak maritim global. Sebagai perbandingan, volume di Selat Hormuz tercatat 20,9 juta barrel per hari.

Baca juga: Purbaya Buka Wacana Pajak Kapal di Selat Malaka, Terinspirasi Skema Selat Hormuz

Data ini menempatkan Selat Malaka sebagai simpul paling vital dalam perdagangan minyak dunia.

Jalur terpendek, biaya paling efisien

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Salah satu alasan utama Selat Malaka menjadi jalur penting adalah efisiensi logistik. Bagi kapal tanker yang membawa minyak dari Teluk Persia menuju Asia Timur, melintasi Selat Malaka memangkas waktu tempuh dibanding rute alternatif seperti Selat Lombok atau memutar lebih jauh di selatan Indonesia.

Jika jalur ini terganggu atau ditutup, kapal harus mengambil rute alternatif yang lebih panjang, yang berarti ongkos pengiriman naik, pasokan melambat, dan harga energi berpotensi terdorong lebih tinggi.

Pengalihan rute semacam itu dapat menunda pengiriman dan menaikkan harga.

Baca juga: Indonesia, Malaysia, dan Singapura Gelar Pertemuan Bahas Keselamatan Pelayaran di Selat Malaka

Volume lalu lintasnya juga mencerminkan kepadatan dan pentingnya jalur ini. Departemen Kelautan Malaysia mencatat lebih dari 102.500 kapal melintasi Selat Malaka sepanjang 2025, naik dari sekitar 94.300 kapal pada 2024.

Mayoritas merupakan kapal komersial, termasuk kapal tanker minyak.

Dalam laporan Indian Express, posisi Malaka sebagai chokepoint juga membuatnya menjadi simpul yang menentukan kelancaran arus perdagangan global, karena gangguan kecil sekalipun dapat memberi dampak berantai pada rantai pasok internasional.

Ketergantungan Asia terhadap pasokan energi

Pentingnya Selat Malaka juga berkaitan erat dengan ketergantungan negara-negara Asia pada impor minyak.

Baca juga: Memaksimalkan Koridor Ekonomi di Selat Malaka

China menjadi salah satu pengguna paling vital jalur ini. Data Vortexa yang dikutip Reuters menunjukkan sekitar 75 persen impor minyak mentah China melalui laut melewati Selat Malaka.

Sementara laporan NDTV bahkan menyebut proporsinya bisa mencapai sekitar 80 persen untuk pasokan minyak China dari Timur Tengah dan Afrika.

Ketergantungan ini dikenal luas sebagai Malacca Dilemma, yakni kerentanan strategis China terhadap potensi gangguan di selat tersebut.

Ilustrasi kapalPIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal

Dalam laporan NDTV, Selat Malaka disebut lebih penting bagi China dibandingkan Selat Hormuz, mengingat jalur itu merupakan pintu masuk utama energi untuk menopang industri dan ekonomi negara tersebut.

Baca juga: RI Ajak Malaysia dan Singapura Perkuat Kerja Sama di Selat Malaka

Tak hanya China, Jepang dan Korea Selatan juga sangat bergantung pada jalur yang sama untuk suplai minyak dari Timur Tengah.

Karena itu, keamanan navigasi di Selat Malaka tidak hanya menjadi isu regional Asia Tenggara, tetapi juga menyangkut stabilitas energi Asia Timur.

Chokepoint terbesar, sekaligus titik rawan

Besarnya volume minyak yang melintas justru beriringan dengan kerentanan struktural Selat Malaka.

Di titik tersempitnya, Phillips Channel di Singapura hanya memiliki lebar sekitar 2,7 kilometer atau 1,7 mil. Kondisi ini menciptakan bottleneck alami yang meningkatkan risiko tabrakan, kandas, hingga tumpahan minyak.

Baca juga: RI, Malaysia, dan Jepang Kumpul Bahas Keselamatan Pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura

Kedalaman yang relatif dangkal, sekitar 25 sampai 27 meter di sejumlah titik, juga membatasi kapal-kapal raksasa tertentu. Sebagian very large crude carriers (VLCC) memilih menghindari jalur ini dan mengambil rute lain.

Malay Mail menyebut keterbatasan itu justru menegaskan pentingnya Selat Malaka: meski ada jalur alternatif, biayanya jauh lebih mahal dan tidak seefisien Malaka.

Selain persoalan teknis, keamanan maritim juga menjadi perhatian. Jalur ini lama dikenal rawan pembajakan dan serangan terhadap kapal dagang.

ReCAAP Information Sharing Centre mencatat sedikitnya 104 serangan kriminal tahun lalu, meski insiden pada kuartal I 2026 dilaporkan menurun.

Baca juga: Bertemu Menteri Transportasi Malaysia, Menhub Bahas Layanan Angkutan Penyeberangan Dumai-Malaka

Ilustrasi Sejarah Selat Malaka: Mengapa Selat Malaka Berpotensi Menjadi Titik Krusial Global Berikutnya Setelah Selat Hormuz?Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.COM/Serafica Gischa Ilustrasi Sejarah Selat Malaka: Mengapa Selat Malaka Berpotensi Menjadi Titik Krusial Global Berikutnya Setelah Selat Hormuz?

Otoritas Malaysia juga mengingatkan berkembangnya praktik ship-to-ship transfer ilegal di perairan tersebut, yang kerap dipakai untuk menyamarkan asal minyak.

Selat Hormuz memicu kekhawatiran ke Selat Malaka

Ketegangan di Selat Hormuz turut membuat perhatian dunia beralih ke Selat Malaka.

Jika Hormuz selama ini dipandang sebagai jalur paling sensitif bagi minyak global, sejumlah analis kini menyoroti risiko berantai bila gangguan serupa merembet ke Asia.

Risiko di satu chokepoint dapat dengan cepat mengubah persepsi keamanan pada chokepoint lain, termasuk Malaka. Kekhawatiran itu menguat karena jalur ini berada dekat titik-titik strategis lain, termasuk Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

Baca juga: Kemenhub Sebut Keselamatan Pelayaran di Selat Malaka Tak Hanya Tanggung Jawab 3 Negara

CSIS, seperti dikutip Reuters, mencatat sekitar 21 persen perdagangan maritim dunia juga melewati Selat Taiwan, membuat kawasan Indo-Pasifik menjadi rangkaian chokepoint yang saling terkait.

Dalam konteks itu, Selat Malaka bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi bagian dari kalkulasi geopolitik energi global.

Negara pesisir jaga jalur tetap terbuka

Besarnya arti strategis Selat Malaka juga tercermin dari komitmen negara-negara pesisir menjaga jalur ini tetap terbuka.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, dikutip Reuters, menegaskan negara-negara di sepanjang selat memiliki kepentingan strategis bersama untuk tetap membukanya, dan telah sepakat tidak mengenakan tarif lintasan.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Salurkan Bahan Bakar untuk Kapal Besar di Selat Malaka

Ia juga mengatakan Singapura telah meyakinkan Amerika Serikat (AS) dan China bahwa hak lintas bagi semua pihak terjamin.

Ilustrasi Selat Malaka.WIKIMEDIA COMMONS/DRONEPICR Ilustrasi Selat Malaka.

Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan juga menegaskan tidak ada keputusan sepihak terkait pengelolaan selat tersebut.

“Tidak ada keputusan sepihak yang dapat dibuat mengenai selat tersebut,” kata Hasan, seraya menyebut Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Thailand melakukan patroli bersama menjaga jalur itu tetap terbuka.

Pernyataan itu muncul setelah sempat muncul wacana soal potensi pungutan atau toll di Selat Malaka, yang memicu kekhawatiran pasar.

Baca juga: KKP: Pemburu Harta Karun Asing Incar Kapal Flor de la Mar yang Tenggelam di Selat Malaka

Namun pernyataan lanjutan dari para pejabat kawasan menekankan tidak ada rencana pembatasan navigasi, sejalan dengan prinsip kebebasan pelayaran internasional.

Bukan sekadar jalur laut biasa

Besarnya volume perdagangan, dominasi arus minyak, efisiensi rute, dan ketergantungan ekonomi Asia membuat Selat Malaka menempati posisi yang sulit tergantikan.

Sekitar 22 persen perdagangan dunia melintas di jalur ini, dengan hampir sepertiga perdagangan minyak mentah lewat laut melewati Selat Malaka. Bahkan, Selat Malaka disebut sebagai chokepoint minyak terbesar di dunia.

Karena itu, setiap pembahasan soal keamanan energi global hampir selalu kembali ke satu titik yang sama: Selat Malaka, jalur sempit yang menopang sebagian besar aliran minyak dunia.

Tag:  #persen #perdagangan #dunia #lewat #selat #malaka #mengapa #sangat #penting

KOMENTAR