Produksi Gula 2026 Diproyeksi Surplus, tapi Industri Masih Defisit
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memimpin rapat koordinasi di Nusantara Hall PT Sinergi Gula Nusantara, Minggu (19/4/2026) siang.(Dokumentasi Pribadi)
14:24
21 April 2026

Produksi Gula 2026 Diproyeksi Surplus, tapi Industri Masih Defisit

— Produksi gula nasional pada 2026 diproyeksikan meningkat dan berpotensi menciptakan surplus untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, di tengah masih besarnya tantangan pemenuhan kebutuhan sektor industri.

Berdasarkan hasil pertemuan taksasi awal giling Gula Kristal Putih (GKP) 2026 bersama seluruh pabrik gula se-Indonesia di Surabaya, produksi gula nasional diperkirakan mencapai 3,04 juta ton dengan dukungan luas areal panen tebu existing sebesar 576.538 hektar.

"Dari sisi produktivitas, rata-rata hasil GKP diperkirakan sebesar 5,28 ton per hektar. Sedangkan produktivitas tebu berada pada angka 70,87 ton per hektar," kata Dr Abdul Roni Angkat, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian, kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Rata-rata rendemen nasional juga diproyeksikan mencapai 7,45 persen, yang menunjukkan peningkatan efisiensi dalam proses pengolahan tebu menjadi gula.

"Dengan total produksi sebesar 3,04 juta ton, capaian tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi masyarakat yang berada pada kisaran 2,8 juta ton," imbuhnya.

"Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 0,2 juta ton untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga."

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasokan dan harga gula konsumsi di dalam negeri, seiring mulai terlihatnya hasil dari program peningkatan produktivitas tebu dan perbaikan kinerja industri.

Baca juga: Momentum Tahun Swasembada Gula Konsumsi

Kebutuhan Industri Masih Jadi Tantangan

Meski surplus pada sisi konsumsi rumah tangga mulai terlihat, kebutuhan gula untuk sektor industri masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Pada 2026, kebutuhan gula industri diperkirakan mencapai 3,4 juta ton, jauh melampaui pasokan GKP yang selama ini lebih difokuskan untuk konsumsi masyarakat.

Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan industri ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mencari solusi, baik melalui peningkatan produksi, efisiensi, maupun strategi impor yang terukur.

Baca juga: Momentum Tahun Swasembada Gula Konsumsi

Peran BUMN Pangan Didorong

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah terus memperkuat sinergi dengan BUMN pangan untuk mempercepat target swasembada.

Hal ini tercermin dari kunjungan kerja Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, ke PT Sinergi Gula Nusantara dalam rangka Rapat Koordinasi Percepatan Swasembada Pangan.

“Bapak ibu, kenapa kami merasa swasembada telah dicapai itu atas BUMN pangan, PTPN. Kami diberi target oleh Presiden dan diminta laporan secara rutin kepada Bapak Presiden untuk BUMN pangan, karena BUMN pangan yang menjadi motor penggerak,” ujarnya.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai program strategis, mulai dari peningkatan produktivitas hingga optimalisasi peran holding perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan.

Sebagai bagian dari holding perkebunan PTPN, PT Sinergi Gula Nusantara terus didorong untuk meningkatkan kontribusi dalam sektor gula nasional.

Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat industri gula nasional.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri gula nasional sebagai bagian dari kontribusi nyata BUMN pangan dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia,” pungkasnya.

Baca juga: Impor Gula Rafinasi Bakal Dialihkan ke BUMN, Harga Bakal Naik?

Tag:  #produksi #gula #2026 #diproyeksi #surplus #tapi #industri #masih #defisit

KOMENTAR