Harga Kondom Naik Gara-gara Perang AS-Iran, Kok Bisa?
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS dan Israel mulai berdampak luas pada berbagai sektor industri, termasuk kesehatan reproduksi.
Karex, produsen kondom terbesar di dunia asal Malaysia, memperingatkan bahwa harga produk mereka kemungkinan besar akan mengalami kenaikan signifikan jika gangguan pada rantai pasok global terus berlanjut.
CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengungkapkan bahwa perusahaan mungkin terpaksa menaikkan harga jual sebesar 20% hingga 30%.
Hal ini dipicu oleh terhambatnya jalur perdagangan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026, yang memutus akses terhadap material penting dalam pembuatan kondom.
"Situasinya saat ini sangat rapuh dan biaya produksi membengkak. Kami tidak memiliki pilihan lain selain membebankan biaya tersebut kepada konsumen saat ini," ujar Goh dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Selasa (21/4/2026).
Meskipun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang Iran mendapat perhatian utama dunia, para ekonom mengkhawatirkan dampak tersembunyi pada produk turunan minyak bumi atau feedstock. Produk petrokimia ini merupakan bahan dasar plastik dan material lainnya yang krusial bagi manufaktur.
Beberapa bahan kunci yang mengalami kelangkaan antara lain:
- Naphtha: Bahan utama pembuat kemasan produk. Sekitar 41% pasokan naphtha di Asia berasal dari Timur Tengah.
Minyak Silikon dan Amonia: Bahan dasar utama dalam proses produksi kondom.
Angie Gildea, kepala global minyak dan gas di KPMG, menekankan bahwa kekurangan pasokan bahan kimia dasar ini sama gentingnya dengan kelangkaan diesel atau bensin. Jika negara produsen seperti Malaysia tidak bisa mengakses bahan baku ini, kenaikan harga produk jadi menjadi tak terelakkan.
Selain faktor bahan baku, keterlambatan pengiriman menjadi tantangan besar lainnya. Banyak stok produk yang saat ini tertahan di kapal-kapal kargo yang belum sampai ke pelabuhan tujuan karena gangguan rute pelayaran internasional.
"Kami melihat banyak sekali stok kondom yang sebenarnya sangat dibutuhkan, namun saat ini hanya bisa tertahan di atas kapal di tengah laut," tambah Goh.
Meski demikian, Goh menyebutkan bahwa stok perusahaan saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar selama beberapa bulan ke depan sebelum kenaikan harga benar-benar diterapkan secara luas.
Dikutip via CNN, krisis energi akibat perang ini juga mulai memukul mobilitas pekerja di Asia Tenggara. Di beberapa negara seperti Myanmar dan Kamboja, penjatahan bahan bakar telah diberitahukan secara resmi.
Bahkan, sejumlah sekolah di Vietnam telah mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah karena biaya transportasi yang terlalu mahal bagi siswa.
Para analis industri khawatir tren ini akan menghambat kemampuan pekerja pabrik untuk mencapai fasilitas manufaktur.
Jika hal ini terus berlanjut, produksi produk-produk ekspor penting menuju pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, dipastikan akan mengalami perlambatan besar.
Karex sendiri merupakan raksasa industri yang memproduksi lebih dari 5 miliar kondom per tahun dan mengekspor ke 130 negara melalui merek-merek populer seperti ONE, Trustex, Carex, dan Pasante.