BEI Buka Suspensi Agro Bahari (UDNG), Ini Saran Analis
- Investor ritel disarankan kembali memperhatikan saham PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), usai PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut suspensi perdagangan per sesi satu perdagangan Jumat (17/4/2026).
Di balik dibukanya suspensi saham UDNG, analis justru mengingatkan adanya risiko besar, terutama terkait likuiditas yang rendah dan volatilitas yang tinggi.
"Berdasarkan penilaian Bursa, maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) di pasar reguler dan pasar tunai dibuka kembali mulai sesi I tanggal 17 April 2026," tulis manajemen BEI.
Baca juga: OJK-BEI Buka Data Pemegang Saham, Investor Kini Bisa Lihat “Dalang” di Balik Pergerakan Harga
Sebelumnya, saham UDNG dihentikan sementara sejak 7 April 2026, setelah mengalami penurunan harga kumulatif yang signifikan dalam waktu singkat.
Kebijakan tersebut diambil untuk melindungi investor.
Senior Investment Specialist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mencatat saham UDNG sebelumnya mengalami penurunan harga yang cukup signifikan, sehingga tekanan jual di pasar masih berpotensi berlanjut.
Kondisi ini tidak terlepas dari riwayat suspensi yang terjadi sebelumnya, yang menggambarkan tekanan jual besar dari pelaku pasar.
“Terkait dengan UDNG ya kan, ini kan sudah mengalami penurunan harga ya, tentunya tekanan juga masih bisa terbuka lebar ya kan. Ini kan berkaitan dengan suspensi yang terjadi sebelumnya, jadi sudah menjadi tekanan jual yang luar biasa,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Jumat.
Saham tersebut juga dinilai tidak likuid, sehingga investor perlu lebih berhati-hati saat mengambil keputusan.
Setelah melalui periode suspensi yang relatif lama, tingkat ketidakpastian meningkat karena belum ada kepastian apakah keseimbangan antara permintaan dan penawaran sudah benar-benar pulih.
Dalam situasi tersebut, Nafan menyarankan agar investor ritel lebih mengutamakan likuiditas dan disiplin dalam pengelolaan risiko.
“Saham ini tidak liquid nih, sahamnya, hati-hati. Hati-hati nih kalau hemat saya nih. Apalagi kalau suspensi itu kan cukup lama, jadi otomatiskan risiko ketidakpastian bisa meningkat ya kan. Kalau misalnya bagi Investor sih sebaiknya ke saham likuiditas ya, ini kan (UDNG) sebelumnya kan suspensi,” paparnya.
Nafan menilai potensi volatilitas tinggi pada saham UNDG masih sangat terbuka.
Menurutnya, kenaikan harga UNDG tidak mencerminkan kekuatan pasar karena likuiditas rendah.
Untuk diketahui, saham UDNG lonjakan hingga ke level Rp 825 saat penutupan perdagangan Jumat ini.
Angka itu naik 10 persen dari posisi sebelumnya di area Rp 750.
“Saham kayak tadi kan, katanya dia naik, tapi kan tidak liquid. Candle-nya tidak ada yang terbentuk, hanya garis setrip doang, masalahnya seperti itu,” tukas Nafan.
Ia juga menyoroti penurunan harga sebelumnya dipicu aksi jual masif, sementara minat beli terbatas.
Kondisi tersebut membuat supply lebih dominan dibanding demand, menunjukkan kedalaman pasar yang lemah.
Lebih jauh, investor ritel disarankan mengalihkan dana ke saham yang lebih produktif, likuid, serta memiliki pergerakan yang jelas dan prospek yang bisa diukur.
Likuiditas menjadi faktor utama karena menentukan kemudahan masuk dan keluar dari posisi tanpa tekanan harga yang berlebihan.
“Lebih baik memegang kas lah, daripada memegang aset atau pemegang saham yang profit risikonya itu tidak bisa dianalisis. Seperti itulah. Lalu jangan lupa, tidak boleh FOMO ya. Tidak boleh FOMO,” pungkas Nafan.
Sementara itu, Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai pergerakan saham UDNG pada perdagangan menunjukkan kondisi yang relatif terkendali.
Saham ini ditutup menguat 10 persen, tanpa tekanan jual berarti, ditopang antrean beli yang tebal di atas 160.000 lot sehingga risiko koreksi di awal sesi dinilai minim.
Ia melihat masuknya UDNG ke papan Full Call Auction (FCA) justru membantu meredam volatilitas yang biasanya liar pada saham dengan likuiditas terbatas.
Dengan mekanisme ini, pembentukan harga menjadi lebih terstruktur karena transaksi dilakukan dalam sesi lelang, bukan continuous trading.
“UDNG dibuka menguat 10 persen tanpa ada panic selling. Minat beli sangat kuat dengan antrean mencapai di atas 160.000 lot, sehingga risiko tertekan saat pembukaan sangat minim. Masuknya UDNG ke papan FCA justru meredam volatilitas liar,” ungkap Azharys kepada Kompas.com.
Baca juga: 18 Emiten Didepak dari BEI, Ini Hak dan Risiko Investor Ritel yang Pegang Sahamnya
Selain itu, faktor hari perdagangan juga berpengaruh. Karena berlangsung pada hari Jumat dengan empat sesi matching, proses price discovery menjadi lebih bertahap dan tidak terlalu agresif.
Antrean beli yang kuat juga memberikan ruang likuiditas yang cukup, baik bagi investor yang ingin masuk maupun keluar posisi.
“Karena hari ini Jumat, terdapat 4 sesi matching, sehingga pergerakan harga lebih terukur dan stabil. Dengan antrean beli yang tebal, likuiditas tersedia cukup baik bagi yang ingin exit maupun masuk” katanya.
Untuk memantau potensi harga secara lebih akurat, ia menyarankan penggunaan indikator IEP dan IEV pada aplikasi trading, karena kedua indikator ini dapat menggambarkan keseimbangan harga dan volume yang terbentuk di setiap sesi lelang.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.