Bukan Kurma, Garmen Jadi Komoditas Terbesar Kiriman Jemaah Haji
- Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mengungkapkan garmen menjadi komoditas terbesar dalam pengiriman barang jemaah haji dari Arab Saudi ke Indonesia sepanjang 2025.
Kepala Seksi Impor III DJBC Kementerian Keuangan Cindhe Marjuang Praja mengatakan, berdasarkan data DJBC menunjukkan, produk garmen mendominasi kiriman dengan kontribusi 32,5 persen atau senilai 643.920 dollar AS dari total nilai devisa barang kiriman jemaah haji.
Di mana Cindhe mengatakan, barang kiriman jemaah haji umumnya didominasi oleh produk tekstil dan kebutuhan konsumsi.
"Secara barang ini mungkin bisa kita kategorikan besarannya, ini mungkin 10 besar ya, 10 besar, besarannya mungkin garmen ya, yang nanti termasuk karpet, kemudian blus kemeja dan seterusnya, itu yang paling banyak ya, mungkin kebanyakan abaya begitu ya, atau mungkin gamis untuk laki-laki misalnya," kata Cindhe dalam media briefing virtual terkait Pelayanan dan Fasilitas Kepabeanan Bagi Jemaah Haji, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Proses Imigrasi Lebih Cepat, Jemaah Haji dari Soetta Bisa Langsung ke Pemondokan
Selain garmen, komoditas lain yang banyak dikirim antara lain karpet dengan nilai 391.724 dollar AS atau 19,8 persen, makanan kering sebesar 168.241 dollar AS atau 8,5 persen, serta parfum sebesar 139.342 dollar AS atau 7 persen.
Namun, DJBC mencatat pemanfaatan fasilitas pengiriman barang oleh jemaah haji masih relatif rendah. Dari total sekitar 221.000 jemaah haji Indonesia, hanya 17.232 jemaah yang tercatat mengirimkan barang ke Tanah Air.
Dari sisi titik masuk, pengiriman terbesar tercatat melalui KPUBC Soekarno-Hatta dengan 3.306 dokumen kepabeanan (consignment note/CN) senilai 300.877 dollar AS.
Sementara melalui KPPBC Kantor Pos Pasar Baru tercatat 17.814 CN dengan nilai mencapai 1,68 juta dollar AS.
DJBC juga menemukan masih adanya jemaah yang mengirim barang melebihi batas frekuensi yang ditetapkan, yakni maksimal dua kali pengiriman.
"Terkait dengan pungutan memang untuk tahun lalu ada sebagian jemaah yang mengirimnya melebih dari 2 kali, ini harapannya nanti mungkin bisa diinformasikan untuk dioptimalkan," kata Cindhe.
Dari sisi fiskal, sebagian besar kiriman mendapatkan fasilitas relaksasi. Tercatat sebanyak 20.932 CN dengan nilai devisa 1,96 juta dollar AS memperoleh pembebasan bea masuk dan pajak.
Sementara itu, hanya 188 CN yang dikenakan pungutan karena melebihi ketentuan, dengan nilai devisa 21.700 dollar AS. Dari jumlah tersebut, negara memperoleh bea masuk sebesar Rp 24,69 juta dan PPN sebesar Rp 38,58 juta.
"Nah untuk relaksasi fiskal yang diberikan secara perhitungan itu kurang lebih mungkin hitungannya sekitar Rp 2,4 miliar, PPN-nya Rp 3,8 miliar, kemudian PPHnya sekitar Rp 1,7 miliar," ujar Cindhe.
Adapun 10 besar komoditas kiriman jemaah haji didominasi oleh produk garmen dalam berbagai jenis, diikuti karpet, makanan, parfum, hingga perlengkapan perjalanan seperti koper dan tas.
Pemerintah berharap, ke depan pemanfaatan fasilitas pengiriman barang oleh jemaah haji dapat lebih optimal, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Tag: #bukan #kurma #garmen #jadi #komoditas #terbesar #kiriman #jemaah #haji