Konsumsi Rumah Tangga Kuat, tapi 86 Juta Warga Masih di Zona Rentan
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengimbau perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD menerapkan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.(ANTARA FOTO/Salma Talita)
13:04
12 April 2026

Konsumsi Rumah Tangga Kuat, tapi 86 Juta Warga Masih di Zona Rentan

Ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah tekanan global. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto.

Mandiri Institute menilai konsumsi ini berperan sebagai bantalan saat terjadi guncangan eksternal. Namun, kekuatan tersebut bergantung pada kemampuan menjaga daya beli masyarakat.

Struktur ekonomi saat ini mengalami pergeseran. Sebanyak 86 juta orang atau sekitar sepertiga penduduk masuk dalam kelompok kelas menengah transisi.

Kelompok ini terdiri dari masyarakat yang sedang menuju kelas menengah dan kelas menengah bawah. Karakternya dinamis, tetapi rentan terhadap tekanan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut kelompok ini menjadi titik krusial dalam struktur ekonomi.

“Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat di zona transisi memiliki daya dorong yang cukup untuk terus naik ke level ekonomi yang lebih mapan secara berkelanjutan,” ujar Asmo, Minggu (12/4/2026).

Baca juga: Senator AS Tuntut Penjelasan Trump soal Dampak Ekonomi Perang Iran: Rugikan Kelas Menengah dan Bawah

Data periode 2019 hingga 2025 menunjukkan perubahan komposisi. Kelompok kelas menengah bawah berkurang lebih dari 11 juta orang. Kelompok menuju kelas menengah cenderung stagnan. Sementara kelas menengah atas bertambah sekitar 416 ribu orang.

Perbedaan utama terlihat pada kualitas pekerjaan. Lebih dari 50 persen kelompok transisi sudah bekerja di sektor formal, tetapi masih tertinggal sekitar 28 poin persentase dibandingkan kelas menengah mapan.

Kondisi ini membatasi kemampuan menabung dan mengumpulkan aset. Risiko meningkat saat terjadi tekanan ekonomi.

Struktur pengeluaran juga menunjukkan keterbatasan. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk kebutuhan dasar. Pengeluaran untuk mobilitas mencapai 20 persen, perumahan 13 persen, dan tagihan rutin 10 persen.

Alokasi untuk kesehatan dan pendidikan sekitar 15 persen. Sisa untuk konsumsi sekunder seperti gaya hidup dan barang tahan lama hanya sekitar 18 persen.

Keterbatasan ini berdampak pada kepemilikan aset cadangan. Hanya 21 persen rumah tangga kelompok menuju kelas menengah yang memiliki aset likuid seperti emas. Angka ini jauh di bawah kelompok kelas menengah atas yang mencapai 69 persen.

Baca juga: Jika Kelas Menengah Tumbang

Mandiri Institute menilai penguatan kualitas pekerjaan menjadi kunci. Perluasan lapangan kerja di sektor produktif dinilai penting untuk meningkatkan pendapatan.

Langkah ini perlu didukung perbaikan iklim investasi dan kemudahan berusaha. Stimulus fiskal juga diperlukan untuk mendorong ekspansi sektor riil.

Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta orang dari kelompok transisi siap naik kelas. Mereka memiliki pekerjaan lebih stabil, daya beli lebih kuat, dan aset cadangan yang lebih baik.

“Namun, perluasan lapangan kerja ini harus diimbangi dengan upaya peningkatan produktivitas pekerja, yang menjadi kunci utama untuk menaikkan pendapatan secara riil dan berkelanjutan,” pungkas Asmo.

Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Ekonomi RI Tahan Guncangan, Tapi 86 Juta Kelas Menengah Transisi Masih Rentan

Tag:  #konsumsi #rumah #tangga #kuat #tapi #juta #warga #masih #zona #rentan

KOMENTAR