PM Inggris Kesal Tagihan Energi Naik-Turun karena Aksi Trump dan Putin
– Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer mengaku kesal dengan naik-turunnya biaya energi di Inggris yang dipicu oleh dinamika global, terutama tindakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Pernyataan itu disampaikan Starmer dalam wawancara dengan ITV News melalui podcast Talking Politics, Kamis (9/4/2026), di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Harga minyak sebelumnya melonjak seiring konflik antara AS dan Israel dengan Iran, lalu bergerak tidak stabil selama gencatan senjata rapuh yang berlangsung dua pekan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Serangan ke Arab Saudi Ganggu Pasokan
Starmer keluhkan tagihan energi naik-turun
“Saya muak melihat keluarga di seluruh negeri menghadapi tagihan energi yang naik-turun, bisnis juga mengalami hal yang sama, hanya karena tindakan Putin atau Trump di berbagai belahan dunia,” kata Starmer, dikutip dari CNBC, Jumat (10/4/2026).
Seperti diketahui, Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Perang yang berlangsung hingga kini telah menewaskan ratusan ribu orang dan mengguncang perekonomian global, termasuk memicu volatilitas harga energi.
Sementara itu, Gedung Putih membela kebijakan Trump. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan banyak pemimpin dunia telah lama membicarakan ancaman dari Iran tanpa mengambil tindakan nyata.
“Presiden Trump mengambil langkah berani untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Selain itu, kami juga telah mencapai kemajuan menuju kesepakatan yang dapat menghadirkan perdamaian jangka panjang,” ujarnya.
Baca juga: Harga Minyak Naik 1 Persen di Tengah Rencana Pembicaraan Damai Israel-Lebanon
Kritik terhadap serangan Israel
Di sisi lain, Starmer juga mengkritik tindakan Israel yang melancarkan serangan mematikan ke Lebanon saat masa gencatan senjata. Menurut dia, langkah tersebut merupakan tindakan yang keliru.
Iran sebelumnya menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata, salah satunya dengan merujuk pada serangan yang terjadi di Lebanon.
Harga minyak naik di tengah ketegangan Selat Hormuz
Harga minyak dunia kembali bergerak naik dalam perdagangan yang berfluktuasi pada Jumat, seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran vital tersebut masih sebagian besar tertutup meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,4 persen menjadi dollar AS 98,29 per barel.
Baca juga: Wall Street Menguat di Tengah Lonjakan Minyak, Investor Diingatkan Waspada Risiko Energi
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni menguat 0,56 persen ke level dollar AS 96,48 per barel.
Trump pada Kamis memperingatkan Iran untuk berhenti mengenakan biaya pada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah tersebut dinilai berisiko merusak kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang mensyaratkan pembukaan kembali jalur tersebut.
Arus pengiriman melalui jalur sempit yang sebelumnya menangani sekitar 20 persen pasokan minyak global itu masih sangat terbatas, sehingga menjaga pasar tetap dalam ketidakpastian.
“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, tidak terhormat, dalam membiarkan minyak melewati Selat Hormuz,” tulis Trump di media sosial Truth Social.
Penasihat ekonomi utama Trump, Kevin Hassett, mengatakan bahwa keberhasilan mengirim bahkan satu kapal tanker minyak melalui jalur tersebut akan memberikan kontribusi besar terhadap pasokan yang saat ini terganggu.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah 100 Dollar AS di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Serangan ke infrastruktur Arab Saudi tekan pasokan
Selain faktor Selat Hormuz, serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi juga turut memengaruhi kapasitas produksi minyak negara tersebut.
Berdasarkan laporan Saudi Press Agency yang mengutip sumber Kementerian Energi, serangan tersebut memangkas kapasitas produksi sekitar 600.000 barel per hari serta mengurangi aliran melalui pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari.
Serangan Iran dilaporkan menghantam stasiun pompa di sepanjang pipa East-West, yang mengalirkan minyak dari fasilitas di Teluk Persia menuju terminal ekspor Laut Merah di Yanbu.
Selama konflik berlangsung, Riyadh mengandalkan pipa ini sebagai jalur utama ekspor karena pengiriman melalui Selat Hormuz semakin tidak memungkinkan.
Di sisi lain, serangan terpisah terhadap ladang minyak Manifa dan Khurais juga memangkas produksi Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari.
Sejumlah kilang minyak turut menjadi sasaran dalam serangan terbaru, yang semakin memperburuk gangguan pasokan global.
Tag: #inggris #kesal #tagihan #energi #naik #turun #karena #aksi #trump #putin