Rahmat Pambudy Soal Buku Ginandjar Kartasasmita, “Dia Meletakkan Dasar Hilirisasi dan Wirausaha”
- Buku biografi tokoh nasional Ginandjar Kartasasmita berjudul “Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan dan Pemikiran” resmi diluncurkan.
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK) ini mengulas panjang perjalanan karier dan pemikiran Ginandjar sejak era Presiden Soekarno hingga masa reformasi.
Dalam peluncuran tersebut, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyoroti kontribusi besar Ginandjar dalam meletakkan fondasi pembangunan nasional, khususnya di bidang hilirisasi dan pengembangan wirausaha.
Buku ini merekam perjalanan panjang Ginandjar Kartasasmita yang telah berkiprah sejak 1965, mulai dari masa pemerintahan Presiden Soekarno, kemudian selama 32 tahun di era Presiden Soeharto, hingga masa Presiden BJ Habibie.
Selain itu, Ginandjar juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR (1999–2004), Ketua DPD (2004–2009), serta Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2009–2014).
Rachmat mengaku telah mengenal sosok Ginandjar sejak usia muda, meski awalnya hanya melalui cerita orang tua dan lingkungan sekitarnya.
“Saya mengenal Pak Ginandjar sejak remaja, dari cerita orang tua dan rekan-rekan mereka. Dari situ saya membayangkan bagaimana sosok beliau pada masa itu,” ujar Rachmat di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Baca juga: Menteri Rachmat Pambudy: MBG Dorong Diversifikasi Pangan, Tak Melulu Nasi
Rachmat juga menggambarkan Ginandjar sebagai sosok pemimpin yang disiplin dan memiliki standar kerja tinggi, yang turut membentuk kultur kerja di Bappenas hingga saat ini.
“Saya mengenal Pak Ginandjar sebagai sosok yang sangat tegas dan disiplin. Cara beliau bekerja membentuk kualitas sumber daya manusia di Bappenas yang saya rasakan hingga sekarang,” kata Rachmat.
Menurutnya, warisan kepemimpinan tersebut terlihat dari kualitas para pejabat dan birokrat yang merupakan hasil didikan era Ginandjar.
“Saya mewarisi orang-orang terbaik di Bappenas, dan itu tidak lepas dari karya dan didikan Pak Ginandjar,” ujarnya.
Dalam pandangannya, salah satu kontribusi penting Ginandjar adalah dalam meletakkan fondasi pembangunan ekonomi modern Indonesia, terutama melalui konsep hilirisasi dan pengembangan wirausaha.
“Pak Ginandjar meletakkan dasar-dasar pengembangan wirausaha. Beliau juga meletakkan dasar-dasar hilirisasi,” tegas Rachmat.
Ia menjelaskan, pemikiran tersebut tercermin dalam gagasan industrialisasi berbasis agroindustri yang pernah disampaikan Ginandjar dalam pidato akademiknya.
“Konsep industrialisasi yang beliau dorong saat itu adalah agroindustri. Ini sangat relevan dengan kebutuhan pembangunan kita,” lanjutnya.
Rachmat menilai, gagasan-gagasan Ginandjar masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini, termasuk dalam upaya menuju Indonesia Emas 2045.
“Kalau ide-ide Pak Ginandjar ini dilanjutkan, insya Allah kita selamat mencapai Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan buku tersebut sebagai referensi bagi para perencana pembangunan, khususnya di lingkungan Bappenas.
“Saya akan mewajibkan para pimpinan di Bappenas untuk membaca buku ini sebagai bahan pembelajaran,” tegas Rachmat.
Baca juga: Profil Rachmat Pambudy, Guru Besar IPB yang Menjabat Menteri PPN di Kabinet Merah Putih
Sebagai informasi, Ginandjar Kartasasmita merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik dan pembangunan Indonesia. Dia lahir pada 9 April 1941, dan dikenal sebagai politikus senior yang pernah menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari menteri di era Orde Baru, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), hingga anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Sejak muda, Ginandjar telah menunjukkan jiwa nasionalisme yang kuat. Ia mengenyam pendidikan di Kolese Kanisius Jakarta sebelum melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama kemudian, ia memperoleh beasiswa ke Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Jepang, dan menempuh pendidikan teknik kimia pada 1960–1965. Pengalaman bergaul dengan berbagai latar belakang selama masa pendidikan turut membentuk pandangan kebangsaannya.
Sekembalinya ke Indonesia pada 1965, ia memulai karier di lingkungan militer dan pemerintahan, termasuk di Komando Operasi Tertinggi (KOTI) dan Sekretariat Kabinet. Kariernya terus berkembang hingga masuk ke lingkaran pemerintahan Orde Baru, di mana ia aktif sejak 1970-an. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, serta Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
Dalam perjalanan kariernya, Ginandjar dikenal sebagai teknokrat yang berperan dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional. Meski kerap dikaitkan dengan rezim Orde Baru, ia menegaskan posisinya sebagai profesional dalam pemerintahan. Ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang turut mendorong Presiden Soeharto mundur pada 1998, setelah menolak bergabung dalam kabinet baru yang direncanakan saat itu.
Pada era reformasi, perannya tetap berlanjut. Ia terpilih sebagai Ketua pertama DPD RI pada 2004 dan menjabat hingga 2009, serta sebelumnya menjadi Wakil Ketua MPR RI periode 1999–2004. Setelah itu, ia juga dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2010–2014.
Di luar jabatan politik, Ginandjar juga aktif di bidang akademik dan organisasi, termasuk menjadi profesor di Universitas Brawijaya serta terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan dan profesi. Ia dikenal sebagai sosok yang meletakkan dasar penting dalam pembangunan nasional, khususnya dalam perencanaan ekonomi dan industrialisasi.
Meski sempat tersandung kasus hukum pada 2001 terkait dugaan korupsi, ia membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya bermuatan politik. Kasus tersebut menjadi bagian dari dinamika perjalanan hidupnya sebagai tokoh publik.
Tag: #rahmat #pambudy #soal #buku #ginandjar #kartasasmita #meletakkan #dasar #hilirisasi #wirausaha