Mentan Ungkap Penyebab Produksi Gula Rendah: 70-80 persen Ratoon Tebu Rusak
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut produksi tebu dalam negeri rendah karena 70-80 persen ratoon-nya tidak layak atau bahkan rusak.
Informasi itu Amran sampaikan dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI saat menjelaskan persoalan produktivitas dan tata kelola gula nasional.
“Kami setelah mengecek 70-80 persen itu rusak, jadi tidak layak,” kata Amran di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Adapun ratoon merupakan tanaman tebu yang kembali tumbuh dari sisa batang maupun akar setelah sebelumnya dipanen.
Baca juga: Bulog Siap Salurkan Tebu Rakyat Blora ke Pabrik BUMN
Penggunaan ratoon dinilai lebih hemat bagi petani namun produktivitasnya tanaman menurun sehingga perlu dibongkar.
Amran mengatakan, saat bertugas menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di sektor gula puluhan tahun silam, ia sudah menemui persoalan perkebunan tebu salah satunya adalah ratoon.
“Itu 80 persen itu ratoon 10 atau 7, artinya umurnya 7 tahun, 10 bahkan 20 tahun tapi kembali lagi ratoon 4,” ujar Amran.
Ia mengaku sudah berkeliling bersama tim dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan mendapati data produktivitas tebu di tahun 1930 mencapai 14 ton gula per hektar.
Namun, setelah masa kemerdekaan produktivitas perkebunan tebu merosot dan hanya menghasilkan 4,9 ton per hektar.
“Kenapa? Ini ada saling keterkaitan,” kata Amran.
“Sekarang ini karena ratoon-nya sudah tua tidak dipelihara, seharusnya itu 25 persen kita bongkar setiap tahun, itu mutlak kalau mau produktivitas tinggi. Tapi ini dibongkar hanya 10 persen dan seterusnya,” sambung Amran.
Untuk menangani persoalan ini, pemerintah menggelontorkan dana hibah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Rp 1,7 triliun untuk membongkar ratoon masyarakat.
“Solusinya adalah kami sudah mengambil langkah bersama swasta dan PTPN kita anggarkan 100.000 hektar satu tahun,” tutur Amran.
Menurutnya, jika program tersebut dijalankan secara konsisten Indonesia bisa mencapai swasembada gula putih pada 2027.
“Kalau ini konsisten tahun 2027 itu swasembada gula putih, kemudian kita lanjutkan untuk industri,” kata dia.
Sebagai informasi, pemerintah mencatat, dari luas areal panen 563.000 hektar pada 2025 dan produktivitas 4,7 ton per hektar menghasilkan gula kristal putih 2,67 juta ton.
Sementara, kebutuhan konsumsi gula konsumsi dalam negeri 2,8 juta ton dan industri 3,9 juta ton.
“Dengan demikian kita masih perlu 4,03 juta ton,” ucap Amran.
Baca juga: Mentan Pastikan Stok Beras Nasional Aman: Enggak Usah Diragukan!
Tag: #mentan #ungkap #penyebab #produksi #gula #rendah #persen #ratoon #tebu #rusak