Industri Pulp dan Kertas RI Dihantam Tekanan Geopolitik, Apa Strategi Bertahan?
- Industri pulp dan kertas Indonesia menghadapi tantangan besar imbas tekanan geopolitik dan perubahan lanskap perdagangan internasional.
Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menilai pentingnya konsolidasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri pulp dan kertas nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional.
Ketua Umum APKI, Suhendra Wiriadinata, menyebut ketidakpastian geopolitik, tekanan rantai pasok global, serta perubahan kebijakan perdagangan internasional menuntut industri untuk semakin adaptif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Industri tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan konsolidasi yang kuat antar pelaku usaha, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan agar kita mampu merespons dinamika global secara adaptif sekaligus menjaga daya saing nasional,” ujar Suhendra lewat keterangan pers pers, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Mediasi Gagal, Gugatan Kemen LH terhadap PT Toba Pulp Lestari Berlanjut
Di tingkat domestik, APKI menekankan pentingnya penguatan fundamental industri melalui peningkatan investasi, efisiensi produksi, serta penguatan kebijakan tata niaga yang berpihak pada industri dalam negeri.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif secara global juga menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan industri dalam jangka panjang.
Transformasi menuju industri hijau dan penerapan ekonomi sirkular dipandang sebagai peluang strategis yang tidak hanya menjawab tuntutan global, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global berbasis keberlanjutan.
Baca juga: Pemerintah Cabut Izin PT Toba Pulp Lestari, Masuk Daftar 28 Perusahaan yang Melanggar Aturan
Pandangan pemerintah soal industri pulp dan kertas
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa industri pulp dan kertas merupakan sektor hilir strategis dengan nilai tambah tinggi dan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Pada tahun 2025, industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan berkontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Nilai ekspor pulp mencapai 3,6 miliar dollar AS dan kertas 4,57 miliar dollar AS.
“Industri ini juga menyerap lebih dari 280.000 tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung,” ucap Putu.
Menurutnya, prospek industri tetap solid, didorong oleh peningkatan kebutuhan kemasan, terutama dari sektor makanan dan minuman serta e-commerce, serta tren global substitusi plastik ke material berbasis kertas yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga: Investasi Hijau Jadi Tantangan, Transformasi Industri Pulp dan Kertas Masih Tertahan
Tantangan ketersediaan bahan baku
Namun demikian, sejumlah tantangan struktural masih perlu menjadi perhatian bersama, antara lain keterbatasan ketersediaan bahan baku domestik, dinamika kebijakan perdagangan global, serta penyesuaian terhadap berbagai regulasi seperti kewajiban sertifikasi halal dan hambatan non-tarif.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah bersama pelaku industri terus mendorong penguatan ekosistem industri melalui konsolidasi kebijakan lintas sektor, perbaikan rantai pasok domestik, inovasi bahan baku alternatif, serta pemberian insentif fiskal dan non-fiskal guna menjaga momentum pertumbuhan industri.
APKI menegaskan penguatan kolaborasi antara industri, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan merupakan fondasi utama untuk memastikan ketahanan industri, sekaligus mengakselerasi transformasi menuju industri pulp dan kertas yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Tag: #industri #pulp #kertas #dihantam #tekanan #geopolitik #strategi #bertahan