Pasar Bergejolak, Strategi Buy The Dip Kembali Dilirik Investor
Pasar saham global masih bergejolak di tengah konflik AS dan Iran. Kondisi ini mendorong sebagian investor melirik strategi beli saat harga turun atau buy the dip.
Strategi ini dilakukan dengan membeli aset ketika harga terkoreksi, lalu berharap imbal hasil saat pasar pulih. Pendekatan ini populer di kalangan investor ritel saat pasar turun pada 2025, tetapi kini mulai melemah akibat ketidakpastian baru.
Perencana keuangan Joon Um menilai strategi ini sulit dijalankan meski terlihat menarik.
"Strategi ini terdengar bagus, tetapi menentukan waktunya sangat sulit," kata Um, pemilik Secure Tax and Accounting di California.
Baca juga: Upbit Gandeng ICEx, Perkuat Bursa Kripto dan Perlindungan Investor
Risiko timing dan emosi
Um menekankan tidak ada yang mampu memprediksi arah pasar secara konsisten. Risiko terbesar muncul saat keputusan didorong emosi.
"Melewatkan satu penurunan harga tidak akan merugikan Anda, tetapi membuat keputusan emosional mungkin akan merugikan."
Tekanan pasar tercermin dari pergerakan indeks utama. Dow Jones turun hampir 800 poin ke 45.166,64.
Indeks S&P 500 melemah 1,67 persen ke 6.368,85 dan menyentuh level terendah dalam tujuh bulan. Nasdaq Composite turun 2,15 persen ke 20.948,36.
S&P 500 juga sudah turun sekitar 9 persen dari puncak tertinggi 52 minggu, mendekati wilayah koreksi.
Ketidakpastian tetap tinggi
Pasar sempat mendapat sentimen positif dari pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell terkait suku bunga. Namun ketidakpastian tetap besar.
Presiden AS Donald Trump memberi sinyal campuran. Ia menyebut ada kemajuan negosiasi dengan Iran, tetapi tetap membuka opsi militer.
Baca juga: Rosan Klaim Investor Jepang-Korea Berebut Masuk, Danantara Jadi Magnet Baru Investasi
Perlu strategi disiplin
Sebagian investor tetap masuk pasar dengan tujuan jangka panjang. Penasihat keuangan Jon Ulin menekankan pentingnya disiplin.
"Kesuksesan membutuhkan disiplin," kata Ulin dari Ulin & Co. Wealth Management.
Ia menyarankan menyiapkan dana khusus untuk membeli saat harga turun. Portofolio juga perlu terdiversifikasi agar tidak terpusat pada satu aset.
Alternatif kurangi risiko
Menunggu waktu terbaik memiliki risiko kehilangan momentum. Data JPMorgan Asset Management menunjukkan kenaikan tajam sering terjadi setelah penurunan besar.
Ulin menyarankan pendekatan dollar cost averaging. Strategi ini dilakukan dengan investasi bertahap dalam periode tertentu, misalnya tiga hingga empat bulan.
Pendekatan ini membantu mengurangi risiko salah timing dan menjaga konsistensi di tengah pasar yang fluktuatif.
Tag: #pasar #bergejolak #strategi #kembali #dilirik #investor