Asing Borong Saham Energi dan Tambang, AADI hingga PTBA Pimpin Net Buy
Ilustrasi aturan free float saham. (SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO)
11:32
30 Maret 2026

Asing Borong Saham Energi dan Tambang, AADI hingga PTBA Pimpin Net Buy

- Aliran dana asing kembali mengalir ke pasar saham Indonesia, khususnya pada sektor berbasis komoditas. Sepanjang periode 25-27 Maret 2026, investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy) pada sejumlah saham energi, pertambangan, dan konglomerasi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi yang paling banyak dikoleksi investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp 530,4 miliar.

Posisi berikutnya ditempati PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar Rp 205,4 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 162,7 miliar. Selain itu, PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) turut menarik perhatian dengan nilai pembelian bersih Rp 150 miliar.

Sejumlah emiten berbasis komoditas lainnya seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mencatatkan aksi beli bersih yang signifikan.

Baca juga: Perang Iran-Israel Memanas, Saham Energi dan Emas Berpeluang Melonjak

Berikut daftar sepuluh saham dengan net foreign buy terbesar:

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 530,4 miliar

PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp 205,4 miliar

PT Astra International Tbk (ASII): Rp 162,7 miliar

PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO): Rp 150 miliar

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG): Rp 127,2 miliar

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Rp 123,2 miliar

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Rp 100,7 miliar

PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Rp 99,5 miliar

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Rp 54,4 miliar

PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 54,1 miliar

Untuk diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tipis 0,14 persen pada pekan lalu yang hanya berlangsung tiga hari perdagangan, usai libur panjang Idul Fitri.

Pergerakan indeks yang relatif terbatas tersebut juga terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang cukup signifikan.

Dari data BEI, arus keluar dana asing (outflow) mencapai Rp 3,8 triliun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar saham domestik.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berada dalam kondisi deadlock turut memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi di Selat Hormuz. Situasi ini mendorong harga minyak mentah naik hingga di atas 100 dollar AS per barrel.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan lonjakan harga minyak tersebut memicu efek domino terhadap komoditas energi lainnya, termasuk batu bara yang menembus level 140 dollar AS per ton.

Menurutnya, kenaikan itu didorong oleh pergeseran konsumsi global, di mana negara-negara seperti Jepang mulai beralih ke batu bara sebagai alternatif energi domestik yang lebih stabil.

Di sektor agrikultur, sentimen positif menyertai harga CPO Malaysia yang bertahan di level MYR 4.600 per ton, didukung oleh lonjakan ekspor dan meningkatnya daya tarik biofuel seiring reli harga minyak mentah.

Di sisi domestik, percepatan program B50 di Indonesia menjadi katalis kuat bagi sektor ini. Namun, pasar tetap mencermati risiko penurunan permintaan dari India serta perlambatan data ekonomi China yang dapat mempengaruhi prospek komoditas ini ke depan.

Bagi pasar modal Indonesia, dinamika ini membawa implikasi kompleks berupa tekanan pada nilai tukar dupiah dan capital outflow yang memicu aksi ambil untung oleh investor asing. Meski demikian, terdapat peluang pada emiten sektor energi (batu bara dan migas) serta CPO yang menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga komoditas global.

Selain itu, emiten berbasis ekspor lainnya diuntungkan oleh pelemahan Rupiah yang meningkatkan daya saing mereka di pasar internasional.

Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase wait and see, dengan fokus utama pada perkembangan negosiasi geopolitik dan arah harga energi global. Selama deadlock antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi. Dengan demikian, pergerakan IHSG berpotensi cenderung sideways di rentang 6745-7323.

IHSG pada awal perdagangan Senin ini melemah. Indeks turun 48,27 poin atau 0,68 persen ke level 7.048,785 pada pukul 10.38 WIB.

Sejak awal sesi, indeks sempat dibuka di level 7.020,532 dan langsung mengalami tekanan hingga menyentuh posisi terendah di 6.945,502. Namun IHSG berhasil memangkas sebagian pelemahan dan bergerak naik mendekati angk 7.050.

Dari sisi breadth market, tekanan jual terlihat cukup dominan dengan 464 saham mengalami penurunan, 182 saham menguat dan 164 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 10,95 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 5,68 triliun, serta frekuensi perdagangan sebanyak 755.177 kali.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #asing #borong #saham #energi #tambang #aadi #hingga #ptba #pimpin

KOMENTAR