Multitrend Indo (BABY): Penutupan Selat Hormuz Belum Berdampak Signifikan ke Operasional
Emiten ritel PT Multitrend Indo Tbk menyatakan, penutupan Selat Hormuz hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan operasional maupun kinerja keuangan perseroan.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, perseroan menjelaskan bahwa ketersediaan barang dan distribusi masih berjalan normal.
“Hingga saat ini tidak terdapat dampak signifikan terhadap rantai pasok (supply chain). Ketersediaan barang dan distribusi tetap berjalan normal,” kata Direktur Utama Multitrend Indo Niraj Jain dalam keterbukaan informasi di laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Rabu (25/3/2026).
Baca juga: Harga Minyak Dunia Rontok, tapi Jalur Selat Hormuz Masih Rawan
Gerai perlengkapan ibu hamil dan anak Mothercare.
Meski demikian, imbuh Jain, perseroan mulai mengamati adanya dampak ringan terhadap pendapatan.
Hal tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain penurunan kepercayaan konsumen, pembatalan rencana perjalanan, serta sikap menunggu dan melihat (wait-and-see) dari pelanggan.
Namun, manajemen menegaskan bahwa dampak tersebut masih dalam kategori terkendali dan tidak material terhadap kinerja perseroan secara keseluruhan.
Dampak jangka menengah dinilai terbatas
Untuk jangka menengah hingga panjang, perseroan memproyeksikan dampak terhadap rantai pasok akan tetap terbatas.
Baca juga: Gangguan Selat Hormuz, Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia
Hal ini didukung oleh struktur sumber pasokan yang sebagian besar berasal dari pemasok lokal dan kawasan Asia, sementara hanya sebagian kecil produk yang diimpor dari wilayah Barat.
Perseroan menyebut strategi diversifikasi sumber pasokan yang telah diterapkan sebelumnya memberikan ketahanan terhadap potensi gangguan global.
Ilustrasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi harga komoditas global, terutama terkait energi dan logistik. Perseroan mengantisipasi adanya kenaikan biaya transportasi serta potensi peningkatan harga bahan baku tertentu.
Kendati demikian, hingga saat ini dampak terhadap biaya operasional dinilai belum signifikan. Manajemen juga terus melakukan pemantauan aktif terhadap perkembangan harga komoditas global.
Baca juga: Harga Bitcoin Melemah ke Posisi 68.784,76, Imbas Ultimatum Trump ke Iran Terkait Selat Hormuz?
Strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas operasional
Dalam menjaga stabilitas operasional dan kinerja keuangan, perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.
Strategi tersebut meliputi diversifikasi pemasok dengan fokus pada sumber lokal dan regional, optimalisasi manajemen persediaan, serta efisiensi biaya operasional tanpa mengurangi kualitas layanan.
Selain itu, perseroan juga melakukan penyesuaian strategi pemasaran untuk menjaga permintaan serta pemantauan ketat terhadap kondisi makroekonomi dan geopolitik.
Menurut Jain, langkah-langkah ini bertujuan memastikan perseroan tetap adaptif dan tangguh menghadapi dinamika global.
Baca juga: Iran Buka Terbatas Selat Hormuz, Begini Keadaan Dua Kapal Pertamina di Teluk Arab
Belum ada aksi korporasi material
Terkait rencana aksi korporasi dalam 12 bulan ke depan, perseroan menyatakan tidak memiliki rencana material yang secara langsung dipicu oleh kondisi penutupan Selat Hormuz. Perseroan juga tetap menjalankan rencana bisnis yang telah ditetapkan, dengan penyesuaian sesuai kondisi pasar.
Hingga saat ini, tidak terdapat informasi atau kejadian material lain yang dinilai dapat mengganggu kelangsungan usaha secara signifikan maupun mempengaruhi harga saham perseroan secara material.
Manajemen menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak berdampak signifikan terhadap fundamental bisnis. Perseroan juga menyatakan memiliki struktur operasional yang kuat dan terdiversifikasi serta berkomitmen menjaga kinerja, stabilitas, dan pertumbuhan berkelanjutan.
Jain menyampaikan bahwa perseroan akan terus memberikan informasi terkini sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan ketentuan yang berlaku.
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sebagai informasi, PT Multitrend Indo Tbk (BABY) adalah perusahaan ritel bagian dari Kanmo Group, yang berfokus pada fashion dan produk kebutuhan bayi, anak-anak, serta remaja awal.
Didirikan tahun 2005, perseroan mengoperasikan merek internasional seperti Mothercare, ELC, Gingersnaps, Justice, dan Wilio di ratusan titik ritel di Indonesia.
Tag: #multitrend #indo #baby #penutupan #selat #hormuz #belum #berdampak #signifikan #operasional