Di Tengah Tekanan Global, Lebaran Jadi Harapan Ekonomi Kuartal I 2026
Sejumlah warga memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, jelang acara bertajuk “Eid Mubarak Jakarta: Rhythm of Fountain” yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jumat (20/3/2026).(KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA)
10:12
23 Maret 2026

Di Tengah Tekanan Global, Lebaran Jadi Harapan Ekonomi Kuartal I 2026

Momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026 diperkirakan kembali menjadi penopang utama aktivitas ekonomi nasional pada kuartal I tahun ini.

Peningkatan konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat melalui mudik Lebaran, serta distribusi pendapatan musiman seperti tunjangan hari raya (THR), bonus, dan zakat mendorong perputaran ekonomi pada awal tahun.

Namun, dorongan konsumsi tersebut berlangsung di tengah tekanan eksternal dan domestik yang tidak ringan.

Baca juga: Airlangga Sebut Diskon dan WFA Dongkrak Ekonomi saat Lebaran

Pengendara mengantre saat penerapan sistem satu arah (one way) dari arah Bukittinggi menuju Padang di jalur Lembah Anai, Minggu (22/3/2026). Arus lalu lintas terpantau padat merayap akibat tingginya volume kendaraan pada momen arus mudik Lebaran.Dharma Harisa Pengendara mengantre saat penerapan sistem satu arah (one way) dari arah Bukittinggi menuju Padang di jalur Lembah Anai, Minggu (22/3/2026). Arus lalu lintas terpantau padat merayap akibat tingginya volume kendaraan pada momen arus mudik Lebaran.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang turut memengaruhi prospek ekonomi Indonesia menjelang Lebaran.

Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta gangguan pada jalur strategis Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasokan energi global.

Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent, sehingga meningkatkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah lonjakan konsumsi musiman.

Konsumsi Lebaran dan redistribusi ekonomi

Ekonom INDEF Abdul Manap Pulungan menjelaskan, Ramadhan dan Idul Fitri merupakan momentum penting bagi perekonomian karena adanya peningkatan konsumsi masyarakat yang didorong oleh penyaluran THR.

Baca juga: ISEAI: Perputaran Uang Lebaran 2026 Tembus Rp 417 T, Ekonomi Kuartal I Terdongkrak

Aktivitas belanja masyarakat meningkat pada berbagai sektor, mulai dari pangan, sandang, transportasi, hingga pariwisata.

“Ramadhan dan Lebaran menjadi shock musiman pada sisi permintaan yang mendorong konsumsi rumah tangga,” ujar Abdul Manap dalam paparannya, dikutip pada Senin (23/3/2026).

Warga memilih pakaian lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Menurut pemilik toko pakaian modern, penjualan pakaian menjelang Lebaran 1447 Hijriah mengalami peningkatan dari hari biasa sebanyak 25 barang per hari menjadi 60-65 barang per hari dengan barang terlaris seperti pakaian, sandal, sepatu dan tas.ANTARA FOTO/Yudi Manar Warga memilih pakaian lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Medan, Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026). Menurut pemilik toko pakaian modern, penjualan pakaian menjelang Lebaran 1447 Hijriah mengalami peningkatan dari hari biasa sebanyak 25 barang per hari menjadi 60-65 barang per hari dengan barang terlaris seperti pakaian, sandal, sepatu dan tas.

Ia juga menyoroti bahwa fenomena mudik memiliki dampak ekonomi yang luas. Selain meningkatkan mobilitas masyarakat, mudik mendorong redistribusi aktivitas ekonomi dari kota besar ke daerah tujuan.

Perputaran uang di daerah meningkat seiring naiknya konsumsi masyarakat, yang berdampak pada penguatan sektor informal dan UMKM.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja

Namun, peningkatan konsumsi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli.

Abdul Manap mencatat, pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) memang meningkat selama periode Lebaran, tetapi lajunya cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini mengindikasikan adanya tekanan pada daya beli, terutama pada kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Selain itu, biaya tambahan selama periode mudik seperti kemacetan, kenaikan harga bahan bakar, serta biaya transportasi turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat

Dalam konteks ini, momentum Lebaran tetap menjadi penggerak ekonomi, tetapi efeknya dapat tereduksi oleh tekanan biaya yang meningkat.

Inflasi pangan dan tekanan harga domestik

Di sisi lain, dinamika inflasi menjelang Ramadhan juga menjadi perhatian. Peneliti INDEF Afaqa Hudaya mencatat inflasi Februari 2026 meningkat menjadi 4,76 persen secara tahunan.

Kenaikan ini terutama didorong oleh komponen administered prices (harga yang diatur pemerintah) yang mencapai 12,66 persen serta kenaikan harga yang berdampak langsung pada inflasi bulanan.

Pada saat yang sama, komponen volatile food (harga pangan bergejolak) kembali meningkat tajam, mencerminkan naiknya permintaan menjelang Ramadhan meskipun volatilitas harga relatif lebih moderat dibanding tahun sebelumnya.

Suasana jual beli di Pasar Daging Arimbi, Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya menjelang H-1 Lebaran, Jumat (20/3/2026).KOMPAS.com/DIKI FEBRIANTO Suasana jual beli di Pasar Daging Arimbi, Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya menjelang H-1 Lebaran, Jumat (20/3/2026).

Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Harga beras medium, gula, dan minyak goreng menjadi indikator tekanan pangan yang masih persisten.

Afaqa menyebut, tekanan ini berpotensi menguat apabila peningkatan permintaan menjelang Ramadhan dan Lebaran tidak diimbangi dengan pengelolaan pasokan yang memadai.

Di tingkat global, harga pangan pada awal 2026 menunjukkan fase stabilisasi. Perbaikan sisi pasokan, termasuk peningkatan output pertanian dan kondisi cuaca yang lebih mendukung di sejumlah negara, menjadi faktor pendorong stabilisasi tersebut.

Meski demikian, risiko ketahanan pangan masih tinggi, terutama di negara berpendapatan rendah yang menghadapi tekanan fiskal, konflik, dan potensi cuaca ekstrem.

Baca juga: Lebaran, Bos Freeport Berharap Dunia Lebih Damai dan Ekonomi Stabil

Sementara itu, di dalam negeri, disparitas harga antarwilayah masih terjadi. Data menunjukkan harga sejumlah komoditas seperti cabai rawit dan bawang merah mengalami perbedaan signifikan antar daerah meskipun stok secara nasional mencukupi.

Kondisi ini mencerminkan adanya persoalan struktural dalam rantai pasok, termasuk distribusi logistik yang belum merata dan asimetri informasi harga.

Gejolak energi global dan risiko makroekonomi

Tekanan eksternal juga datang dari sektor energi. Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Teluk Persia, khususnya pada jalur Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

INDEF memandang, kondisi tersebut memicu premi risiko di pasar energi dan mendorong kenaikan harga minyak global.

Ilustrasi harga minyakThinkstockphotos.com Ilustrasi harga minyak

Baca juga: Geliat Ramadhan dan Lebaran Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen

Harga acuan minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran 66,7 dollar AS per barrel pada akhir Januari 2026 melonjak hingga sekitar 90 dollar AS per barrel, dan diproyeksikan mencapai lebih dari 110 dollar AS per barel pada pertengahan tahun.

Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi serta biaya impor energi bagi Indonesia. Sebagai negara net importer migas, Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global.

Data INDEF menunjukkan, neraca perdagangan migas Indonesia selama periode 2016–2025 secara konsisten berada dalam kondisi defisit.

Pada akhir 2025, defisit tercatat sebesar 2,09 miliar dollar AS. Kondisi ini mencerminkan kesenjangan antara produksi domestik yang menurun dan konsumsi energi yang terus meningkat.

Baca juga: Ada Ramadhan, Purbaya Optimistis Ekonomi Q1 Tumbuh hingga 5,7 Persen

Selain itu, volume impor migas Indonesia meningkat dalam tiga tahun terakhir dan mencapai level tertinggi dalam satu dekade pada 2025. Nilai impor yang bersifat volatil menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap pasar energi global.

Digitalisasi konsumsi dan peluang UMKM

Di tengah tekanan tersebut, momentum Lebaran juga membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi sektor UMKM dan ekonomi digital.

Peneliti INDEF Nur Komaria menyoroti bahwa meningkatnya mobilitas pemudik serta tren konsumsi musiman, seperti belanja pakaian Lebaran dan fenomena “war takjil”, mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Perkembangan e-commerce dan sistem pembayaran digital seperti QRIS dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat dinamika konsumsi selama Ramadhan dan Lebaran.

Baca juga: Pemerintah: Mudik Idul Fitri Instrumen Penguatan Ekonomi yang Konsisten

Transaksi digital menjadi salah satu kanal utama dalam mendukung perputaran ekonomi, khususnya di sektor ritel dan jasa.

Namun, tantangan masih muncul dalam bentuk ketimpangan akses internet yang masih terpusat di Pulau Jawa.

Momen libur Lebaran dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata di Ibu Kota. Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi yakni anjungan halte TransJakarta yang dipadati pengunjung pada Minggu (22/3/2026). KOMPAS.com/Fristin Intan Sulistyowati Momen libur Lebaran dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata di Ibu Kota. Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi yakni anjungan halte TransJakarta yang dipadati pengunjung pada Minggu (22/3/2026).

Selain itu, keterbatasan infrastruktur pariwisata dan tingginya biaya penerbangan domestik menjadi hambatan dalam memaksimalkan potensi ekonomi dari mobilitas masyarakat selama Lebaran.

Menurut Nur Komaria, penguatan infrastruktur digital di luar Jawa, pengembangan komoditas lokal, serta peningkatan efisiensi transportasi dan infrastruktur pariwisata menjadi langkah penting untuk memperluas dampak ekonomi Lebaran secara lebih merata.

Baca juga: Senator AS Tuntut Penjelasan Trump soal Dampak Ekonomi Perang Iran: Rugikan Kelas Menengah dan Bawah

Proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026

Sejumlah ekonom dan otoritas memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 akan tetap terjaga, dengan dukungan konsumsi domestik dan stimulus fiskal.

Sejumlah ekonom dan otoritas ekonomi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 berpotensi meningkat dibanding periode akhir tahun sebelumnya.

Proyeksi ini terutama ditopang oleh penguatan konsumsi rumah tangga, stimulus fiskal, serta momentum hari besar keagamaan nasional seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen secara tahunan.

Baca juga: Lebaranomics: Transformasi Mudik Jadi Stimulus Ekonomi Daerah

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menyebut permintaan domestik menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan, seiring sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dengan stimulus pemerintah.

Optimisme serupa juga disampaikan pemerintah. Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Wahyu Utomo menilai pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dapat memperkuat konsumsi masyarakat pada awal tahun.

Dengan percepatan belanja negara dan stimulus musiman, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan berpeluang berada di kisaran 5,5 persen hingga 6 persen.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan proyeksi serupa. Pemerintah menargetkan akselerasi realisasi belanja APBN pada kuartal I 2026 hingga Rp 809 triliun guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Mudik Gratis, dari Kebijakan Ekonomi hingga Jalan Pulang Penuh Makna

Dengan dukungan program prioritas dan stimulus, pertumbuhan ekonomi awal tahun diperkirakan berada pada rentang 5,5 persen hingga 6 persen.

Dari sisi dunia usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai lonjakan konsumsi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri berpotensi menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang memperkirakan konsumsi rumah tangga saat Lebaran dapat meningkat sekitar 10 persen hingga 15 persen, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang ditargetkan berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.

Dengan berbagai dinamika tersebut, momentum Ramadhan dan Idul Fitri tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi pada awal tahun.

Baca juga: Krisis Hormuz dan Ujian Integrasi Ekonomi Asia

Peningkatan konsumsi dan mobilitas masyarakat memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi domestik, meskipun di saat yang sama tekanan inflasi, gejolak energi global, serta kondisi daya beli masyarakat menjadi faktor yang membentuk arah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026.

Tag:  #tengah #tekanan #global #lebaran #jadi #harapan #ekonomi #kuartal #2026

KOMENTAR