Singapura Waspadai Blokade Selat Hormuz, Risiko Resesi Global Menguat
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Singapura, pada Jumat (30/5/2025). (Tangkapan layar via CNA)
13:04
21 Maret 2026

Singapura Waspadai Blokade Selat Hormuz, Risiko Resesi Global Menguat

— Potensi blokade berkepanjangan di Selat Hormuz dinilai dapat membawa dampak serius terhadap perekonomian global.

Selain memicu lonjakan harga energi, gangguan jalur pelayaran strategis tersebut juga berisiko menimbulkan efek berantai terhadap pasokan pupuk, pangan, hingga sektor industri berteknologi tinggi.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan, pemerintahnya terus memantau perkembangan konflik yang memengaruhi jalur perdagangan energi dunia tersebut.

Baca juga: Krisis Pasokan BBM, Kamboja Alihkan Impor ke Singapura dan Malaysia

Pulau Qeshm, benteng terdepan Iran di Selat Hormuz. Melihat Qeshm, Kota Rudal Bawah Tanah Iran yang Mengendalikan HormuzGoogle Maps Pulau Qeshm, benteng terdepan Iran di Selat Hormuz. Melihat Qeshm, Kota Rudal Bawah Tanah Iran yang Mengendalikan Hormuz

“Kami memantau situasi dengan cermat karena situasinya dinamis. Awalnya AS mengatakan bahwa operasi militer ini akan berakhir dalam beberapa minggu. Sekarang kita sudah memasuki minggu ketiga. Kami tidak tahu kapan operasi ini akan berhenti,” ujar Wong dalam konferensi pers kunjungannya ke Jepang, dikutip dari tayangan di laman YouTube Channel News Asia, Jumat (20/3/2026).

Menurut dia, perhatian tidak hanya tertuju pada operasi militer yang sedang berlangsung, tetapi juga pada kemungkinan berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

“Namun, terlepas dari operasi militer, pertanyaan kuncinya adalah apakah Selat Hormuz akan terus diblokir dan berapa lama,” kata Wong.

Risiko besar bagi ekonomi global

Wong memperingatkan, dampak ekonomi dari blokade berkepanjangan di Selat Hormuz dapat sangat luas dan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global.

Baca juga: Konflik Timur Tengah, Harga BBM Singapura Tembus Rekor Tertinggi

“Sekalipun operasi militer dihentikan, tetapi Selat Hormuz terus diblokir dalam jangka waktu yang lebih lama, saya pikir akan ada konsekuensi serius bagi seluruh perekonomian global,” ujarnya.

Perdana Menteri Lawrence Wong dari Partai Aksi Rakyat (PAP) merayakan kemenangannya dalam pemilu Singapura, Sabtu (3/5/2025).AFP/ROSLAN RAHMAN Perdana Menteri Lawrence Wong dari Partai Aksi Rakyat (PAP) merayakan kemenangannya dalam pemilu Singapura, Sabtu (3/5/2025).

Ia menilai fokus publik selama ini lebih banyak tertuju pada gangguan pasokan minyak dan gas. Namun, menurut dia, dampak sebenarnya bisa meluas ke berbagai sektor lain.

“Banyak perhatian tertuju pada minyak dan gas, tetapi dampaknya lebih luas dari itu karena pasokan pupuk, misalnya, dapat terpengaruh, dan kemudian akan berdampak pada pasokan pangan,” kata Wong.

Gangguan distribusi pupuk dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian global. Dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di berbagai negara.

Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Buka Kemungkinan Cabut Sanksi Kapal Tanker Iran

Selain itu, Wong juga menyoroti potensi gangguan pada pasokan helium global yang melewati jalur tersebut.

“Atau ambil contoh lain seperti helium. Saya rasa 30 persen helium dunia masuk melalui Selat Hormuz, dan helium digunakan dalam mesin MRI, peralatan khusus di rumah sakit. Helium juga digunakan dalam produksi semikonduktor,” ujarnya.

Menurut dia, helium merupakan komoditas penting dalam berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan hingga industri semikonduktor.

“Jadi, ini digunakan di banyak bidang lain. Jadi, akan ada banyak potensi dampak berantai,” kata Wong.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Usai AS Pertimbangkan Lepas Minyak Iran

Ia menegaskan, gangguan berkepanjangan pada jalur pelayaran strategis tersebut dapat memicu dampak lanjutan yang signifikan terhadap perekonomian dunia.

“Oleh karena itu, penyumbatan selat yang berkepanjangan akan memiliki implikasi signifikan bagi ekonomi global dan dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam kemerosotan, penurunan, atau bahkan resesi,” ujar Wong.

Pemerintah Singapura siapkan langkah antisipasi

Di tengah ketidakpastian global, Wong mengatakan pemerintah Singapura telah menyiapkan berbagai langkah untuk meredam dampak ekonomi domestik.

“Jadi, ini adalah hal-hal yang kami khawatirkan. Kami tidak tahu apakah itu akan terjadi, tetapi kami memantaunya dengan sangat cermat,” katanya.

Pemerintah Singapura akan menginvestasikan lebih dari 1 miliar dollar Singapura atau atau sekitar Rp 13,07 triliun untuk riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) publik hingga 2030.

Dok. Pixabay/StockSnap Pemerintah Singapura akan menginvestasikan lebih dari 1 miliar dollar Singapura atau atau sekitar Rp 13,07 triliun untuk riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) publik hingga 2030.

Baca juga: Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam Akibat Serangan di Teluk

Ia menjelaskan, sejumlah kebijakan yang telah diumumkan dalam Anggaran 2026 akan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dunia usaha.

“Sementara itu, langkah-langkah yang telah kami umumkan dalam anggaran tahun ini sedang diterapkan, dan rumah tangga serta bisnis akan segera merasakan dampak dari langkah-langkah ini,” ujar Wong.

Program bantuan utilitas seperti U-Save serta dukungan bagi dunia usaha menjadi bagian dari paket kebijakan tersebut.

“Karena hal-hal seperti U-Save akan segera diluncurkan, dan beberapa langkah bantuan bisnis juga akan diluncurkan,” ungkap dia.

Baca juga: Harga Minyak Melonjak hingga 5,6 Persen Usai Serangan Iran ke Fasilitas Energi Timur Tengah

Menurut Wong, pemerintah ingin memastikan implementasi kebijakan yang sudah diumumkan berjalan terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan langkah tambahan.

“Jadi, kami ingin melihat langkah-langkah ini diimplementasikan terlebih dahulu. Rumah tangga dan bisnis akan merasakan dampak langsung dari langkah-langkah ini ketika diterapkan,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan pemerintah tetap siap mengambil kebijakan lanjutan jika situasi global memburuk.

“Lalu kami akan terus memantau situasi karena, seperti yang saya katakan, situasinya sangat dinamis dan kami sedang mempertimbangkan semua kemungkinan dan kontingensi yang dapat terjadi,” ucap.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen Usai Serangan Iran di Timur Tengah

“Jika diperlukan, kami siap untuk meluncurkan dan menerapkan langkah-langkah tambahan di luar apa yang telah diumumkan dalam anggaran, dan kami akan memiliki sumber daya untuk melakukannya secara tegas dan cepat,” tambahnya.

Kolaborasi energi Singapura–Jepang

Selain merespons risiko jangka pendek, Singapura juga memperkuat kerja sama energi jangka panjang dengan Jepang.

Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.WIKIMEDIA COMMONS/JOACHIMKOHLERBREMEN Ilustrasi kapal tanker pengangkut LNG.

Wong mengatakan kedua negara memiliki karakteristik serupa sebagai importir energi dan pengguna besar gas alam cair (LNG).

“Jepang adalah pengimpor energi seperti Singapura. Mereka juga pengguna LNG yang besar. Jadi mereka juga prihatin tentang keamanan energi seperti kita," sebut dia.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen Usai Serangan Iran di Timur Tengah

Menurut Wong, kesamaan kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih erat dalam menghadapi tantangan keamanan energi global.

“Saya pikir dalam beberapa hal kita dapat berbagi pengalaman dan bekerja sama karena meskipun kita sama-sama pengimpor energi, Singapura adalah pusat perdagangan minyak dan gas,” papar Wong.

Ia menambahkan, Jepang juga melakukan pengadaan dan perdagangan LNG melalui Singapura.

“Faktanya, Jepang melakukan cukup banyak pengadaan dan perdagangan LNG dari Singapura,” ujarnya.

Baca juga: Selat Hormuz Masih Tertutup, Harga Minyak Terus Tertekan

Selain itu, posisi geografis Singapura di jalur pelayaran strategis juga menjadikannya bagian penting dalam distribusi energi global.

“Dan sebagian besar pasokan minyak dan gas datang melalui Selat Malaka, di mana Singapura adalah salah satu negara pesisir,” sebut Wong.

Ia menilai kerja sama kedua negara tidak hanya berfokus pada penguatan keamanan energi, tetapi juga pada dukungan timbal balik dalam menghadapi kerentanan sebagai importir energi.

“Jadi, ini adalah salah satu area di mana bukan penguatan keamanan yang menjadi fokus utama, karena kita berdua sama-sama rentan, tetapi kita dapat saling memberikan dukungan karena kita berada dalam situasi dan keadaan yang sangat mirip sebagai importir energi dan pengguna LNG dalam jumlah besar,” ujarnya.

Baca juga: Harga Minyak Naik Lebih dari 3 Persen Usai Serangan Iran ke UEA Kembali Memanas

Fokus pada energi rendah karbon dan nuklir

Dalam jangka panjang, Wong mengatakan Jepang memiliki pengalaman yang dapat dimanfaatkan Singapura dalam pengembangan energi rendah karbon.

Ilustrasi PLTN, pembangkit listrik tenaga nuklir, reaktor nuklir.PIXABAY/DAVID ROUMANET Ilustrasi PLTN, pembangkit listrik tenaga nuklir, reaktor nuklir.“Namun di luar itu, Jepang juga memiliki pengalaman dan keahlian yang cukup besar dalam energi rendah karbon karena mereka telah berupaya melakukan diversifikasi, dan mereka telah mempertimbangkan amonia dan hidrogen,” ujarnya.

Ia menambahkan, Singapura telah menjalin sejumlah proyek bersama Jepang di bidang tersebut.

 “Jadi kami memiliki beberapa proyek dengan mereka di bidang amonia, dan kami sedang mencari cara untuk melakukan lebih banyak hal bersama di bidang energi rendah karbon yang baru ini,” kata Wong.

Baca juga: Pemerintah Pertimbangkan Impor Minyak dari Rusia

Selain itu, Jepang juga dinilai memiliki pengalaman penting dalam pengembangan energi nuklir sipil.

“Dan yang ketiga, Jepang, seperti yang telah Anda lihat dari berita, sedang menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Mereka memiliki pengalaman di bidang nuklir,” ujarnya.

Menurut Wong, pengalaman tersebut relevan bagi Singapura yang sedang mempelajari kemungkinan pemanfaatan energi nuklir sipil di masa depan.

“Saat kami mempelajari kelayakan tenaga nuklir sipil di Singapura, ini juga merupakan area di mana kami ingin belajar dari pengalaman Jepang,” kata dia.

Baca juga: Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS, WFA Jadi Opsi Hemat Energi

Tekanan terhadap perdagangan dan logistik global

Blokade jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya pengiriman barang dan memperpanjang waktu distribusi. Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan harga barang di pasar internasional, terutama untuk komoditas strategis.

Ketika biaya logistik meningkat, perusahaan di berbagai sektor akan menghadapi tekanan margin. Dalam beberapa kasus, beban biaya tersebut dapat dialihkan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan global. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi ketika risiko gangguan rantai pasok meningkat.

Ilustrasi ekspor. PIXABAY/AWADPALESTINE Ilustrasi ekspor.

Hal ini dapat berdampak pada volatilitas pasar saham, nilai tukar, serta arus modal antarnegara.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun 3 Persen, tapi Kapal Indonesia Masih Tertahan di Selat Hormuz

Dalam jangka menengah, kombinasi antara inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berpotensi menciptakan tantangan kebijakan bagi bank sentral di berbagai negara.

Dampak terhadap dunia usaha

Bagi pelaku usaha, gangguan distribusi energi dan bahan baku dapat memicu penyesuaian strategi operasional. Perusahaan mungkin perlu mencari sumber pasokan alternatif atau meningkatkan persediaan untuk mengantisipasi keterlambatan pengiriman.

Di sektor manufaktur, ketergantungan pada rantai pasok global membuat gangguan logistik berpotensi menurunkan kapasitas produksi. Hal ini dapat memengaruhi kinerja ekspor serta pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang mengandalkan sektor industri.

Sementara itu, sektor transportasi dan pelayaran juga berisiko menghadapi peningkatan biaya operasional akibat perubahan rute pengiriman atau kenaikan premi asuransi.

Baca juga: Dibayangi Perang Iran-AS dan Lonjakan Minyak, Rupiah Mandek di Rp 16.997 Per Dollar AS

Dalam konteks ini, ketahanan rantai pasok menjadi isu strategis yang semakin mendapat perhatian pemerintah dan pelaku usaha.

Diversifikasi sumber pasokan serta penguatan produksi domestik menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan untuk mengurangi risiko ketergantungan pada jalur perdagangan tertentu.

Tag:  #singapura #waspadai #blokade #selat #hormuz #risiko #resesi #global #menguat

KOMENTAR