IEA Peringatkan Krisis Minyak Terbesar, Dorong WFH hingga Berkendara Lebih Pelan
- International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa dunia tengah menghadapi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam laporan terbarunya, IEA menegaskan bahwa mengandalkan peningkatan pasokan saja tidak cukup untuk meredam lonjakan harga energi. Sebaliknya, penurunan permintaan dinilai menjadi cara paling cepat untuk mengurangi tekanan pada konsumen.
“Menangani sisi permintaan adalah alat yang krusial dan segera untuk mengurangi tekanan pada konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung ketahanan energi,” tulis IEA seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (21/3/2026).
Baca juga: Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam Akibat Serangan di Teluk
Sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari, harga minyak melonjak lebih dari 40 persen dan kini berada di level tertinggi sejak 2022. Gangguan pasokan terjadi terutama akibat penutupan efektif Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global.
Tak hanya minyak mentah, harga bahan bakar olahan seperti solar dan avtur juga ikut meroket. Kondisi ini berdampak langsung pada biaya transportasi, logistik, hingga harga barang konsumsi.
IEA mencatat, ketegangan geopolitik yang meningkat telah mengguncang pasar dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.
Menekan permintaan minyak
Untuk meredam dampak tersebut, IEA mendorong langkah-langkah sederhana namun berdampak besar.
“Menangani sisi permintaan adalah alat yang krusial dan segera untuk mengurangi tekanan pada konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung ketahanan energi,” kata IEA.
Langkah yang paling berdampak antara lain mendorong bekerja dari rumah (WFH), meningkatkan penggunaan kendaraan bersama dan transportasi publik, serta mengurangi perjalanan udara yang tidak mendesak.
ilustrasi WFH.Kebijakan ini terutama menyasar transportasi darat, yang menyumbang sekitar 45 persen dari permintaan minyak global.
Bekerja dari rumah dapat mengurangi konsumsi bahan bakar untuk perjalanan harian, sementara berkendaraan dengan lebih pelan, peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, serta pembatasan penggunaan kendaraan di kota dapat menekan kemacetan dan konsumsi bahan bakar.
Selain itu, pengalihan penggunaan gas petroleum cair (LPG) dari sektor transportasi ke kebutuhan penting seperti memasak juga dapat membantu menjaga harga tetap rendah, termasuk dengan mengadopsi solusi memasak bersih alternatif.
Cadangan minyak dilepas
Di sisi pasokan, sejumlah negara mulai mengandalkan cadangan minyak strategis. IEA bahkan telah menyepakati pelepasan 400 juta barrel minyak, yang disebut sebagai langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut, meski belum ada kepastian waktu distribusinya ke pasar.
Untuk meredam tekanan inflasi, beberapa negara juga mulai mengambil langkah fiskal.
Spanyol dilaporkan akan memangkas PPN bahan bakar menjadi 10 persen dari sebelumnya 21 persen, sekaligus menghapus pajak listrik.
Italia telah menurunkan cukai bahan bakar, sementara Jerman tengah menyiapkan kebijakan untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga, termasuk opsi pajak tambahan bagi perusahaan energi.
Dengan kombinasi gangguan pasokan dan lonjakan permintaan, IEA menilai tekanan terhadap harga energi masih akan berlanjut. Tanpa pengendalian konsumsi, beban ekonomi dikhawatirkan semakin besar bagi masyarakat global.
Baca juga: Strategi Hemat Energi: WFH Satu Hari dalam Seminggu Segera Berlaku
Tag: #peringatkan #krisis #minyak #terbesar #dorong #hingga #berkendara #lebih #pelan