BI Akui Suku Bunga Tinggi Hambat Kredit
– Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui suku bunga kredit yang masih relatif tinggi menjadi salah satu penghambat pertumbuhan kredit dan ekonomi nasional.
Dari sisi likuiditas, perbankan berada dalam kondisi longgar. Rasio alat likuid tercatat 27,6 persen. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio mencapai 25,9 persen, jauh di atas batas minimum 8 persen.
Meski demikian, pertumbuhan kredit belum optimal. Sepanjang 2025 kredit tumbuh 9,69 persen. Angka itu turun dari 10,39 persen pada 2024, meski masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 8 hingga 11 persen.
"Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kita lihat alat liquid, itu cukup tinggi. Tapi kita masih melihat adanya gap, GDP gap kita masih terjadi, dan itu juga sama terjadi di kredit perbankan. Artinya walaupun likuiditas bank banyak, tapi memang pertumbuhan kredit itu belum mencapai pada level yang optimal," ujar Destry saat Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 46 di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Purbaya Perpanjang Penempatan Rp 200 Triliun di Bank, OJK: Tambah Likuiditas dan Tekan Suku Bunga
Ia menjelaskan transmisi kebijakan moneter belum sepenuhnya tercermin pada suku bunga kredit.
Sepanjang 2025, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan 150 basis poin. Namun suku bunga kredit perbankan baru turun 40 basis poin, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.
"Kita lihat memang lending rate belakangan untuk yang kredit baru, dia turunnya sudah lumayan, sudah 88 basis point. Artinya bank sudah mulai siap sebenarnya, untuk lending appetite-nya bank sudah mulai tinggi," kata Destry.
Ia menilai suku bunga kredit yang masih tinggi menahan permintaan pembiayaan dari dunia usaha. Di tengah permintaan yang belum kuat, fungsi intermediasi perbankan belum berjalan maksimal.
"Artinya salah satu yang menghambat juga pertumbuhan kredit kan adalah suku bunga, yang relatif masih tinggi," ujarnya.
Baca juga: Ekonom Perkirakan BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan, Ini Pertimbangannya
Untuk mempercepat transmisi, Bank Indonesia mengoptimalkan kebijakan likuiditas makroprudensial. Kebijakan ini memberikan insentif likuiditas kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas maupun yang menurunkan suku bunga kredit lebih cepat.
Per Februari 2026, total insentif mencapai Rp 427,5 triliun. Sebesar Rp 357,9 triliun berasal dari skema lending channel. Sisanya Rp 69,6 triliun melalui interest rate channel yang diperkenalkan dalam dua bulan terakhir.
Bank Indonesia juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan untuk mendorong penyesuaian suku bunga dana, termasuk special rate simpanan, agar ruang penurunan suku bunga kredit semakin terbuka.
Destry menyebut potensi penyaluran kredit masih besar. Kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan mencapai Rp 2.506 triliun, setara 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia.
"Jadi ini angka cukup besar. Nah ini yang tentunya perlu kita dorong, sehingga dia akan menjadi nanti sumber bagi pertumbuhan ekonomi," tuturnya.