Refleksi Satu Tahun Danantara, Langkah Reformasi dan Efisiensi BUMN
- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara telah berusia tepat satu tahun pada 24 Februari 2026.
Danantara pertama diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto sebagai sebuah holding perusahaan BUMN sekaligus menjalankan co-investment sumber daya alam hingga aset negara untuk mendorong ekonomi.
Waktu diperkenalkan, Danantara diproyeksikan akan mengelola dana lebih dari 900 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.000 triliun.
Setahun berselang, Danantara telah melakukan berbagai inisiatif melalui perbaikan fundamental perusahaan BUMN hingga upaya konsolidasi lanjutan.
Baca juga: Kesepakatan Dagang dengan AS, Bos Danantara Sebut RI Akan Beli 50 Pesawat Boeing hingga Impor Energi
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, satu tahun Danantara merupakan tonggak penting dari gagasan besar yang lahir dari visi dan keberanian Presiden Prabowo.
“Memastikan aset negara dikelola secara lebih terintegrasi, disiplin, terarah, dan berorientasi jangka panjang bagi masa depan investasi Indonesia,” tulis unggahan Rosan dikutip dari Instagram pribadinya @rosanroeslani, Kamis (26/2/2026).
Dalam unggahan yang sama, ia bilang, ke depan BUMN tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan melangkah selaras dalam satu orkestrasi nasional.
Selain itu, tata kelola BUMN terus diperkuat, arah investasi disatukan, kepercayaan global dibangun, arah kolaborasi lintas negara diperluas.
Dalam perjalanan ke depan, langkah strategis Danantara yang diambil berpijak pada prinsip kredibilitas, transparansi, dan komitmen untuk memberikan nilai tambah berkelanjutan.
“Inilah esensi One Danantara: satu visi, satu gerak, satu kekuatan untuk Indonesia yang lebih kokoh,” imbuh dia.
Danantara tak bertumpu pada satu figur, satu masa, atau satu situasi
Senada, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir juga mengunggah refleksinya terhadap satu tahun Danantara melalui akun media sosial.
Pandu memaknai tanggal 24 Februari sebagai sebuah kebetulan yang manis atau serendipity. Pasalnya, tanggal yang sama juga merupakan hari ulang tahun almarhum ayahnya yakni Dr. Sjahrir.
“Momen ini membuat saya tidak hanya mengenang sosok ayah sebagai keluarga, tetapi juga kembali memikirkan fondasi serta nilai yang beliau tanamkan sejak dulu,” tulis Pandu pada akun Instagram @pandusjahrir.
Pandu menceritakan, sosok ayahnya tak hanya mengajarkan nilai melalui kata-kata besar atau slogan, tetapi menunjukkan lewat praktik sehari-hari.
Salah satu hal yang diingat adalah menjaga integritas saat tak ada yang melihat, memikul tanggung jawab yang melampaui diri sendiri, hingga berani mengambil keputusan tetapi tetap rendah hati untuk terus belajar.
“Serta membangun sesuatu yang dapat hidup lebih lama daripada nama kita sendiri,” tulis dia.
Lebih lanjut, Pandu mencoba menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam Danantara Indonesia.
Ia berupaya untuk membangun institusi yang tak bertumpu pada satu figur, satu masa, atau satu situasi tertentu.
Pandu berpandangan, Danantara merupakan institusi yang berakar pada tanggung jawab jangka panjang bagi Indonesia.
Dengan begitu, Danantara harus dibangun menjadi tangguh melalui tata kelola yang sehat, reputasi yang baik, dan tujuan yang lebih besar dari siapa pun yang ada di dalamnya hari ini.
“Seperti keluarga, institusi juga mewarisi nilai. Selama fondasinya kuat, maka dampaknya akan terus bertumbuh lintas generasi,” ucap dia.
Pandu berharap, Danantara juga dapat menjadi institusi yang berdampak bagi generasi selanjutnya.
Wisma Danantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Reformasi perusahaan BUMN pada 2026
Memasuki 2026, Danantara telah menetapkan agenda besar untuk melakukan reformasi perusahaan BUMN.
Dalam dokumen Danantara Economics Outlook 2026, Danantara menyebut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berada di posisi tepat untuk pemulihan pendapatan seiring biaya dana yang menurun dan pertumbuhan pinjaman yang membaik.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai berada di posisi yang tepat untuk siap memberikan nilai kepada para pemegang saham dengan memanfaatkan aset yang lebih tinggi.
Danantara juga menegaskan telah memperoleh kredibilitas pasar sampai batas tertentu, dari upaya pemulihan yang tengah berlangsung di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Timah Tbk (TINS).
Sedikit catatan, Danantara mencatat total aset BUMN secara kolektif mencakup lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia.
Dengan skala tersebut, Danantara percaya, setiap perbaikan operasional BUMN diyakini akan berdampak luas terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Danantara menargetkan BUMN untuk berkembang menjadi entitas yang lebih tangguh, mampu menghadapi siklus ekonomi makro seperti fluktuasi harga komoditas dan volatilitas yang meningkat di pasar keuangan global, yang dapat mengganggu keputusan pembiayaan.
Baca juga: Target Keuntungan Aset Danantara 7 Persen: Ambisi atau Ilusi?
Danantara akan gabungkan perusahaan BUMN
Secara konkret, BPI Danantara telah berencana melakukan konsolidasi terhadap perusahaan BUMN yang berjumlah lebih dari 1.000 entitas menjadi sekitar 300 perusahaan saja.
Rencana ini dinilai dapat membuat kinerja perusahaan pelat merah lebih efisien dan mudah dipantau.
BPI Danantara akan merampingkan jumlah BUMN dari sekitar 1.044 entitas menjadi 300 perusahaan.
Langkah ini untuk menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisien, dan memiliki daya saing.
Selain itu, restrukturisasi keuangan juga dilakukan secara selektif.
Injeksi modal atau equity injection kini hanya diberikan kepada BUMN yang memiliki model bisnis yang jelas dan mampu mencatatkan kontribusi margin positif.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi menyeluruh dalam pengelolaan BUMN.
“Bagi kami transformasi ini harus dilakukan dan pilihan untuk melakukan dari 1.000 menjadi 300 itu sebetulnya adalah pilihan yang sangat logis dan profesional,” kata Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026.
Target Laba Bersih BUMN Rp 350 Triliun pada 2026
Pada peringatan satu tahun ini, Danantara juga telah menancapkan target laba bersih seluruh BUMN mencapai Rp 360 triliun pada 2026.
Target ini naik dari realisasi tahun lalu yang mencapai sekitar Rp 285 triliun.
Dony bilang, kenaikan target laba tersebut didorong hasil transformasi dan restrukturisasi BUMN yang telah dijalankan dalam satu tahun terakhir.
“Tahun 2026, kami memasukkan rencana kerja kurang lebih Rp 350 triliun laba, tetapi saya tentu mengekspektasikan lebih,” ujarnya dalam acara diskusi di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, sejatinya laba BUMN pada 2025 mencapai sekitar Rp 332 triliun.
Namun, setelah dilakukan penyesuaian berupa penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp 55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp 280 triliun hingga Rp 285 triliun.
“Jadi sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik, itu baru laba, belum lagi pajak dan lain sebagainya,” kata Dony.
Baca juga: Menakar Untung Rugi Konsolidasi BUMN, Masih Realistis?
Target rasio tingkat laba atas aset Danantara 7 persen
Kinerja Danantara juga disoroti oleh Presiden Prabowo Subianto yang meminta rasio tingkat laba atas aset Danantara atau return of asset (ROA) sebesar 7 persen.
Permintaan tersebut disampaikan kepada CEO Danantara Rosan P Roeslani, dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengapresiasi kinerja Danantara yang dinilai telah menunjukkan hasil signifikan dalam waktu relatif singkat sejak lembaga tersebut dibentuk pada Februari 2025.
Dia menyebut laporan sementara yang diterimanya menunjukkan hasil efisiensi dan reformasi yang dilakukan manajemen mampu menghasilkan capaian empat kali lipat dibandingkan tahun 2024.
“Saya dapat laporan sementara, hasil efisiensi dan reformasi Saudara sudah melahirkan hasil empat kali lipat daripada tahun 2024. Ini luar biasa, tapi harus terus dikejar,” ujar Prabowo.
Konsolidasi buat bisnis BUMN lebih efisien
Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan mengatakan, konsolidasi perusahaan BUMN sebagai salah satu rencana kerja Danantara harus segera dilakukan karena selama ini banyak bisnis BUMN yang tidak efisien.
“Bahkan tumpang tindih,” kata dia kepada Kompas.com.
Sebagai contoh, ia menceritakan, banyak BUMN yang punya bisnis air minum dalam kemasan maupun perhotelan.
Padahal, sektor-sektor itu bukan bisnis intinya.
Bisnis yang seharusnya bisa digarap oleh satu perusahaan, tapi dilakukan oleh banyak perusahaan, dalam hal ini adalah BUMN.
“Karena itu, konsolidasi menjadi keharusan untuk segera dilakukan,” tutup dia.
Baca juga: Eks Jubir KPK: Menilai Kerugian BUMN Harus Pakai Paradigma Bisnis
Tag: #refleksi #satu #tahun #danantara #langkah #reformasi #efisiensi #bumn