Mengurai Makna di Balik Pertemuan Presiden dengan Pengusaha
Presiden RI Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan lima pengusaha nasional di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/2/2026) malam(Tim Media Prabowo Subianto)
19:36
11 Februari 2026

Mengurai Makna di Balik Pertemuan Presiden dengan Pengusaha

Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan beberapa perwakilan pengusaha pada awal pekan ini.

Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan praktisi bisnis Rheland Kasali memperkirakan, presiden tengah melakukan konsolidasi supaya mendapatkan dukungan dari kebijakan yang diambil.

"Karena Indonesia ini menghadapi tekanan global yang sangat kuat, yaitu geopolitik. Arah kebijakan yang bergeser," kata dia ketika ditemui di kawasan Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Baca juga: Prabowo Bertemu 22 Pengusaha di Hambalang, Ini Isi Pertemuan Menurut Ketum Apindo

Presiden Prabowo dan pengusaha Apindo di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, 9 Februari 2026. Instagram @presidenrepublikindonesia Presiden Prabowo dan pengusaha Apindo di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, 9 Februari 2026.

Ia menambahkan, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mendorong pasar modal Indonesia untuk reformasi.

"Tentu presiden tidak bisa hanya memberikan pidato seperti selama ini kdenganrkan, presiden juga harus mendengarkan Apindo, para pengusaha," ungkap dia.

Rhenald bilang, pertemuan tersebut juga terkait dengan beberapa kebijakan yang harus dilakukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

"Harus sering dilakukan dengan para pengusaha supaya tidak negatif dampaknya," ungkap dia.

Baca juga: Hashim Sebut Prabowo Marah Besar karena Gejolak Pasar Modal, Ritel Rugi dan Kehormatan Negara Dipertaruhkan

"Karena dampak ekonomi global ini memang sangat berbahaya dan di dalam negeri juga ada masalah," ungkap dia.

Pasar modal hadapi masalah kepercayaan

Rhenald menyebut, pertemuan presiden dengan para pengusaha seperti Prajogo Pangestu hingga Anthony Salim juga ditengarai berkaitan dengan masalah di pasar modal.

Ekonom Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia usai orasi ilmiah Dies Natalis ke-67 Universitas Diponegoro (Undip), Selasa (15/10/2024).KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah Ekonom Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia usai orasi ilmiah Dies Natalis ke-67 Universitas Diponegoro (Undip), Selasa (15/10/2024).Ia bilang, dalam masalah ini salah satu hal yang menjadi perhatian adalah masalah kepercayaan yang terbentuk oleh persepsi.

Lima pengusaha yang bertemu presiden di Hambalang juga dikenal sebagai pemegang saham perusahaan yang memiliki tingkat price to earning ratio (P/E) sangat tinggi.

Baca juga: Pengusaha Sebut MBG Buka 1,9 Juta Lapangan Kerja Lewat 22.000 SPPG

Ini adalah rasio keuangan yang membandingkan harga saham saat ini dengan laba bersih per saham perusahaan.

Rasio ini kerap digunakan untuk mengukur apakah harga saham tergolong mahal (overvalued) atau justru murah (undervalued).

"Harapan saya si presiden juga mengingatkan bahwa, ayo bermain dengan fair," ungkap dia.

Pasalnya, Rhenald berujar, sebagian saham yang disebarkan ke pasar oleh pengusaha-pengusaha tersebut juga dikuasai oleh afiliasinya. Kondisi ini tentu menimbulkan persepsi negatif di pasar saham.

Baca juga: Pemerintah dan Pengusaha Sepakat Tahan Harga Pangan sampai Ramadhan

"Sehingga sahamnya menjadi kering di pasar dan mudah digoreng," ucap Rhenald.

Di sisi lain, masyarakat yang merupakan investor ritel jadi bertanya-tanya mengapa PE ratio dari saham-saham tersebut sangat cepat naik dan menjadi mahal.

Rhenald juga beranggapan pertemuan ini menjadi penting agar pengusaha tidak terkejut ketika terjadi penertiban baru yang dilakukan.

"Ini harus transformasi struktural. Harapan saya menjadi trust itu bisa dibangun," ucap dia.

Baca juga: Di Davos, Prabowo Kecam Greedinomics dan Tantang Pengusaha Pelanggar Hukum

Secara rinci, lima pengusaha nasional yang hadir dalam pertemuan tersebut yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), dan Sugianto Kusuma (Agung Sedayu Group).

Audiensi ini diselenggarakan atas permintaan para pengusaha untuk berdiskusi langsung dengan Prabowo.

Rhenald Kasali dalam wisuda Universitas Pancasila (UP).Dok. UP Rhenald Kasali dalam wisuda Universitas Pancasila (UP).

Pencabutan izin perusahan di Sumatera

Selain itu, Rhenald juga menyoroti terkait dengan pencabutan izin usaha perusahaan yang berbisnis di Sumatera.

Presiden belakangan ini juga mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan alam, misalnya terkait dengan apa yang terjadi di Sumatera.

Baca juga: Kejar Target Ekonomi 8 Persen, Pengusaha Dorong Pembentukan Tim Percepatan Kawasan Industri

"Itu kan bagaimana menertibkan supaya tidak terjadi lagi bencana di Sumatera," ucap dia.

Kendati demikian, pemerintah perlu mencabut izin usaha perusahaan yang di belakangnya berdiri investor.

"Di situ perlu ada konsolidasi bagaimana di satu pihak menerbitkan alam menjadi lebih baik, tetapi di lain pihak masyarakat membacanya jadi tebang pilih," ucap dia.

Ia khawatir hal tersebut akan berdampak pada kondisi fiskal, mengingat perusahaan tersebut adalah pembayar pajak dan penyedia lapangan kerja.

Baca juga: Belajar dari Penang, Pengusaha Nilai Bali Butuh Diversifikasi Agar Tak Rapuh Ekonominya

"Kalau berhenti beroperasi bagaimana pendapatan pajak, bagaimana lapangan pekerjaan, dan sebagainya," ungkap dia.

Berdasarkan catatan Kompas.com, pada awal tahun ini presiden mencabut izin usaha 28 perusahaan yang melanggar aturan terkait pemanfaatan hutan di tiga provinsi Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menteri Sekretaris Negara Prasetio Hadi menjelaskan pencabutan izin usaha di kawasan hutan itu merupakan hasil audit Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH) setelah terjadinya bencana banjir dan longsor di tiga provinsi Sumatera.

Perizinan ke-28 perusahaan itu terkait pemanfaatan hutan (PBPH), izin usaha pertambangan (IUP) tambang, dan IUP perkebunan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca juga: Prabowo Janji Tindak Pengusaha Nakal: Tak Patuh Hukum Izin Dicabut

Presiden bertemu Apindo hingga lima taipan

Pada awal pekan ini, Presiden Prabowo diketahui melakukan pertemuan dengan berbagai kalangan pengusaha.

Kemarin, presiden bertemu dengan 22 pengusaha dari anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). 

Selain menjalankan komunikasi, presiden juga mendapatkan banyak masukkan dari pengusaha.

Masukan yang disampaikan oleh para pengusaha terkait peran sektor swasta, pengusaha, dan pemerintah ini harus berjalan beriringan.

Baca juga: Pengusaha Keluhkan Sulit Akses Modal, KUR Dinilai Belum Tepat Sasaran

Beberapa poin yang dibahas juga di antaranya adalah upaya mengembangkan sektor-sektor pasat karya hingga cara agar Indonesia bisa bersaing di tingkat global.

Pertemuan dengan Apindo ini berlangsung di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Senin (9/2/2026) malam.

Adapun 22 pengusaha APINDO yang hadir antara lain Sofjan Wanandi, Sudamek, Suryadi Sasmita, Haryanto Adikoesoemo, Mucki Tan, Harijanto, Johny Darmawan, Shinta W. Kamdani, Sanny Iskandar, Eddy Hussy, Soegianto Nagaria, Lindrawati Widjojo, Hendra Widjaja, Budiarsa Sastrawinata, Ronald Walla, Adhi Lukman, Raymond Gunawan, Dedy Rochimat, Kris Adidarma, Leo Julianto Sutedja, dan Harry Lukminto.

Sehari berselang, pada Selasa (10/2/2026) malam, presiden bertemu dengan lima pengusaha nasional.

Baca juga: Arus Logistik Tertekan, Pengusaha Kritik Aturan Penyeberangan Merak-Bakauheni

Pertemuan digelar sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WIB untuk berdiskusi mengenai kondisi ekonomi nasional serta peluang pengembangan sektor-sektor strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Prabowo mengajak para pengusaha itu untuk terus berkolaborasi dalam membuka dan memperluas lapangan pekerjaan, memperkuat sektor riil, serta mendorong pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Sementara itu, lima pengusaha tersebut juga mendukung visi Prabowo dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas gizi dan pendidikan anak-anak, hingga pembangunan industri yang berpihak pada kepentingan bangsa.

Tag:  #mengurai #makna #balik #pertemuan #presiden #dengan #pengusaha

KOMENTAR