Wilmar Operasikan Dua Kawasan HCV 5.211 Hektare sebagai Sekolah Alam
Wilmar International melalui PT Mentaya Sawit Mas dan PT Karunia Kencana Permai mengoperasikan dua kawasan High Conservation Value (HCV) seluas 5.211 hektare (ha) sebagai sekolah alam.
Inisiatif ini ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian pelajar terhadap hutan dan kelestarian lingkungan melalui pembelajaran langsung di kawasan konservasi.
Manager HCV Wilmar Central Kalimantan Project Moch Dasrial mengatakan, program ini dirancang agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung di alam terbuka.
Baca juga: Bulog Bakal Pakai Pabrik Wilmar untuk Produksi Beras Jemaah Haji
Taman Nasional Sebangau merupakan ekosistem rawa gambut yang menjadi habitat beragam fauna antara lain orangutan, bekantan, owa-owa, beruang madu, burung rangkong, monyet ekor panjang, juga 182 jenis burung dan 54 spesies ular.
“Inisiatif ini bertujuan agar siswa mendapatkan pengalaman dan belajar langsung tentang alam,” ujar Dasrial melalui keterangan pers, Selasa (10/2/2026).
Edukasi konservasi di kawasan eco trail HCV
Kegiatan sekolah alam dilaksanakan di kawasan Eco Trail HCV yang dikelola perusahaan.
Dalam program tersebut, Wilmar menyediakan berbagai fasilitas dan aktivitas edukatif, mulai dari pengenalan tumbuhan dan satwa liar dilindungi, edukasi nilai-nilai konservasi, hingga kegiatan survival ringan seperti berjalan di sepanjang jalur hutan (jungle track).
Para siswa juga diajak mengimplementasikan pelajaran sekolah secara langsung di alam terbuka.
Baca juga: Wilmar Group Kelola 20 Sekolah Gratis di Perkebunan Sawit Kalteng
Pembelajaran tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktik melalui pengamatan langsung terhadap flora dan fauna yang berada di kawasan konservasi.
Program edukasi ini mulai dijalankan sejak 2021. Sepanjang periode 2023 hingga 2025, kegiatan tersebut telah diikuti oleh 1.380 siswa.
Sejak 2024, perusahaan menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah untuk memperkaya materi dan aktivitas pembelajaran. Pendampingan dilakukan langsung oleh penyuluh BKSDA.
Hutan di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur.
Melalui kolaborasi ini, para siswa diperkenalkan lebih mendalam pada fungsi kawasan konservasi, jenis-jenis flora dan fauna dilindungi, serta berbagai ancaman terhadap ekosistem hutan.
Baca juga: Wilmar Group Kembangkan Kebun Sawit Plasma, Gandeng Koperasi
Pengenalan satwa dilindungi dan ancaman ekosistem
Dasrial menjelaskan, sejumlah satwa yang diperkenalkan kepada siswa antara lain orangutan, buaya muara, rangkong, rusa sambar, serta berbagai satwa liar lainnya yang hidup di kawasan HCV.
Selain mengenali jenis satwa, siswa juga diajak memahami ancaman terhadap habitat, termasuk perburuan dan pembukaan lahan.
“Sesi ini menjadi pembuka wawasan, khususnya bagi siswa SD yang baru pertama kali mengunjungi kawasan konservasi,” kata Dasrial.
Setelah sesi pemaparan materi, peserta diajak menjelajahi jalur konservasi sepanjang kurang lebih satu kilometer.
Baca juga: Dukung Swasembada Pangan, Wilmar Padi Bidik Kemitraan dengan Petani di Lahan 30.000 Hektar
Di sepanjang rute tersebut, petugas memberikan penjelasan mengenai peran penting pohon-pohon lokal, jenis burung endemik, serta jejak satwa liar yang ditemukan di area tersebut.
Penanaman pohon dan spesies terancam punah
Puncak kegiatan sekolah alam adalah penanaman pohon sebagai simbol pembelajaran konservasi. Setiap kegiatan melibatkan sekitar 100 bibit pohon.
Jenis yang ditanam antara lain Balau merah (Shorea balangeran), durian (Durio zibethinus), gaharu tanduk (Aquilaria beccariana), nangka monyet (Artocarpus rigidus), serta jambu-jambuan (Syzygium pendens).
Sejak program ini dimulai pada 2021, total 2.480 pohon telah ditanam bersama para siswa.
Baca juga: Pemkab Blora dan Wilmar Padi Kerja Sama Perkuat Ketahanan Pangan
Ilustrasi menanam pohon.
“Jenis Shorea balangeran termasuk kategori Critically Endangered (CR) menurut IUCN. Sementara jenis lain berfungsi sebagai pakan satwa liar di area HCV,” ujar Dasrial.
Menurut dia, pemilihan jenis tanaman tidak hanya mempertimbangkan aspek konservasi, tetapi juga fungsi ekologisnya bagi satwa liar yang hidup di kawasan tersebut.
Edukasi EHS dan pembentukan karakter
Dasrial menambahkan, kegiatan sekolah alam tidak hanya menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi Environment, Health, and Safety (EHS) bagi siswa.
Materi tersebut mencakup pemahaman pentingnya keselamatan kerja dasar dan perilaku hidup sehat.
Baca juga: Wilmar Nabati Ekspor Perdana Produk Kelapa Sawit lewat Dasbor Nasional
Selain itu, kegiatan di lapangan turut melatih karakter kepemimpinan, kolaborasi, dan kreativitas siswa. Proses penanaman pohon dilakukan secara gotong royong dengan menerapkan prinsip keselamatan dan kerja sama.
Suasana kegiatan, menurut perusahaan, berlangsung penuh semangat ketika para siswa bekerja bersama dalam menanam bibit pohon di kawasan konservasi.
Program sekolah alam ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memanfaatkan kawasan HCV tidak hanya sebagai area konservasi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda.
“Setiap bibit yang mereka tanam menjadi simbol harapan bagi masa depan tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi,” kata Dasrial.
Tag: #wilmar #operasikan #kawasan #5211 #hektare #sebagai #sekolah #alam