Keliru Memahami Dana Darurat, Risiko Keuangan Mengintai
Dana darurat sering disebut sebagai fondasi kesehatan keuangan rumah tangga.
Dalam banyak panduan keuangan pribadi, dana darurat ditempatkan sebagai benteng pertama sebelum seseorang mulai berinvestasi atau mengejar tujuan finansial jangka panjang.
Namun, di balik popularitas istilah ini, pemahaman tentang dana darurat justru kerap keliru.
Ilustrasi dana darurat. Cara mengumpulkan dana darurat ala Kemenkeu. Besaran dana darurat yang ideal.
Alih-alih menjadi penyangga keuangan saat krisis, dana darurat sering diperlakukan sebagai angka baku, disimpan di tempat yang salah, atau disamakan dengan tabungan biasa.
Kesalahan-kesalahan ini membuat dana darurat kehilangan fungsi utamanya, yaitu menyediakan likuiditas cepat tanpa menimbulkan masalah keuangan lanjutan.
1. Aturan 3 sampai 6 bulan pengeluaran: pedoman yang sering disalahpahami
Salah satu pemahaman paling umum sekaligus paling sering disalahartikan adalah anggapan bahwa dana darurat harus setara dengan tiga sampai enam bulan pengeluaran, tanpa pengecualian.
Prinsip ini banyak dipopulerkan oleh tokoh keuangan personal asal Amerika Serikat (AS) Dave Ramsey.
"Sisihkan dana darurat yang cukup untuk menutupi pengeluaran selama tiga sampai enam bulan," kata Ramsey dalam panduan Baby Steps-nya.
Pernyataan tersebut kerap dikutip sebagai aturan mutlak, padahal Ramsey sendiri menyusunnya sebagai panduan praktis untuk masyarakat umum, bukan formula yang berlaku sama untuk semua kondisi.
Masalah muncul ketika angka tiga sampai enam ulan diperlakukan sebagai target kaku, tanpa mempertimbangkan konteks risiko masing-masing individu.
Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah
Seorang pekerja lepas dengan penghasilan fluktuatif jelas menghadapi risiko berbeda dibanding karyawan tetap di sektor yang relatif stabil.
Demikian pula keluarga dengan satu pencari nafkah memiliki kerentanan lebih besar dibanding rumah tangga dengan dua sumber pendapatan.
Pandangan yang lebih konservatif disampaikan oleh pakar keuangan pribadi Suze Orman.
“Usahakan untuk mengumpulkan dana di rekening Anda agar dapat menutupi setidaknya biaya hidup selama delapan bulan. Lebih baik lagi jika cukup untuk satu tahun," kata Orman dalam tulisan di situs resminya.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa dana darurat bukan sekadar soal angka, melainkan soal manajemen risiko.
2. Ketika dana darurat disimpan di tempat yang keliru
Kesalahpahaman berikutnya berkaitan dengan di mana dana darurat disimpan. Banyak orang menyimpan dana ini di rekening giro atau tabungan biasa dengan bunga sangat rendah, dengan alasan kemudahan akses.
Di sisi lain, ada pula yang menempatkannya di saham atau reksa dana saham demi mengejar imbal hasil lebih tinggi.
Keduanya mengandung masalah.
Dana darurat yang disimpan di instrumen berisiko tinggi berpotensi menyusut nilainya justru ketika kondisi ekonomi memburuk.
Dana darurat harus tersedia saat krisis, sementara pasar saham cenderung turun bersamaan dengan meningkatnya risiko kehilangan pendapatan.
Sebaliknya, menyimpan seluruh dana darurat di rekening dengan bunga rendah membuat nilainya tergerus inflasi dari waktu ke waktu.
Ilustrasi dana darurat, menabung dana darurat.
Karena itu, banyak analis keuangan merekomendasikan instrumen yang tetap likuid namun relatif aman, seperti tabungan berbunga tinggi atau reksa dana.
3. Dana darurat bukan tabungan seragam sepanjang hidup
Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah memperlakukan dana darurat sebagai kebutuhan yang sama di setiap fase kehidupan. Padahal, kebutuhan likuiditas berubah seiring perubahan kondisi rumah tangga.
Analisis Investopedia menunjukkan bahwa untuk rumah tangga di AS, dana darurat enam bulan bisa mencapai rata-rata sekitar 33.000 dollar AS, tergantung struktur biaya hidup seperti perumahan, asuransi kesehatan, dan transportasi.
Angka tersebut bukan patokan universal, melainkan ilustrasi bahwa biaya hidup sangat menentukan besaran dana darurat.
Seorang lajang yang menyewa apartemen kecil jelas membutuhkan cadangan berbeda dengan keluarga dengan cicilan rumah, anak usia sekolah, dan kewajiban asuransi yang lebih besar.
4. Mengandalkan kartu kredit: solusi semu saat darurat
Sebagian orang beranggapan bahwa limit kartu kredit yang besar dapat menggantikan fungsi dana darurat. Pandangan ini berbahaya.
Kartu kredit memang menyediakan likuiditas instan, tetapi dengan biaya bunga yang tinggi. Menghadapi situasi darurat dengan menambah utang berbunga berarti memindahkan masalah dari jangka pendek ke jangka menengah.
Setelah krisis berlalu, beban cicilan justru dapat menekan arus kas rumah tangga.
Karena itu, banyak penasihat keuangan menekankan bahwa akses kredit bukanlah pengganti dana darurat, melainkan pelengkap terakhir jika cadangan kas benar-benar tidak mencukupi.
Contoh perhitungan dana darurat berbasis pengeluaran
Ilustrasi dana darurat.
Agar konsep dana darurat lebih konkret, berikut contoh perhitungan sederhana berbasis pengeluaran bulanan.
Contoh 1: Karyawan tetap, lajang
Pengeluaran bulanan:
- Sewa tempat tinggal: Rp 3.000.000
- Makan dan kebutuhan harian: Rp 2.000.000
- Transportasi dan utilitas: Rp1.000.000
Total pengeluaran bulanan: Rp 6.000.000
Dengan profil pekerjaan relatif stabil, target dana darurat 4 sampai 6 bulan pengeluaran berarti:
Rp 6.000.000 × 4 = Rp 24.000.000 hingga Rp 6.000.000 × 6 = Rp 36.000.000
Contoh 2: Pekerja lepas, satu pencari nafkah, berkeluarga
Pengeluaran bulanan:
- Cicilan rumah: Rp 4.000.000
- Kebutuhan keluarga dan anak: Rp 4.000.000
- Transportasi, pendidikan, utilitas: Rp 2.000.000
Total pengeluaran bulanan: Rp 10.000.000
Dengan penghasilan fluktuatif, target dana darurat 9 sampai 12 bulan pengeluaran:
Rp 10.000.000 × 9 = Rp 90.000.000 hingga Rp 10.000.000 × 12 = Rp 120.000.000
Contoh ini menunjukkan besaran dana darurat sangat bergantung pada struktur pengeluaran dan risiko pendapatan, bukan pada angka baku semata.
Masalahnya bukan sekadar teori
Survei Bankrate menunjukkan hanya sekitar 46 persen orang dewasa di AS yang memiliki tabungan cukup untuk menutup tiga bulan pengeluaran.
Artinya, lebih dari separuh masyarakat berada dalam posisi rentan jika terjadi guncangan pendapatan mendadak.
Ilustrasi dana darurat.
Di tingkat makro, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi global membuat rumah tangga semakin bergantung pada likuiditas jangka pendek.
Namun, tanpa pemahaman yang tepat, peningkatan tabungan tidak selalu berarti peningkatan ketahanan finansial.
Dana darurat sebagai alat manajemen risiko
Dari berbagai pandangan dan data tersebut, terlihat salah kaprah dana darurat bukan terletak pada niat menabungnya, melainkan pada cara memaknainya.
Dana darurat bukan sekadar angka ideal, bukan pula tabungan yang dikejar imbal hasilnya.
Dana darurat adalah alat manajemen risiko yang harus disesuaikan dengan realitas hidup masing-masing individu, yakni stabilitas pekerjaan, beban tanggungan, serta biaya hidup yang terus berubah.
Dengan pemahaman ini, dana darurat kembali ke fungsi awalnya, yaitu menjadi penyangga keuangan yang bekerja saat kondisi tidak ideal, tanpa menciptakan masalah baru di kemudian hari.
Tag: #keliru #memahami #dana #darurat #risiko #keuangan #mengintai