Bukan Soal Gaji, Kebiasaan Sehari-hari Ini Menggerus Tabungan
Ilustrasi tabungan, menabung.(SHUTTERSTOCK/ELLE AON)
17:24
21 Januari 2026

Bukan Soal Gaji, Kebiasaan Sehari-hari Ini Menggerus Tabungan

Meski keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih terjaga hingga akhir 2025, ruang menabung rumah tangga Indonesia tetap menghadapi tekanan.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Desember 2025 mencatat proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 14,9 persen, meningkat tipis dibanding bulan sebelumnya, tetapi masih jauh di bawah porsi konsumsi yang mencapai 74,3 persen.

Sementara itu, alokasi pendapatan untuk pembayaran cicilan tercatat mencapai 10,8 persen.

Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.

Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di level optimis, namun hal tersebut tidak otomatis mencerminkan kekuatan tabungan rumah tangga.

“Optimisme konsumen mencerminkan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan, tetapi pengelolaan pendapatan tetap sangat bergantung pada disiplin masing-masing rumah tangga dalam mengatur konsumsi dan tabungan,” ujarnya.

Tekanan terhadap tabungan juga tercermin dari data perbankan. Rata-rata simpanan per rekening masih cenderung stagnan, bahkan sebagian kelompok nasabah tercatat mengalami penurunan saldo.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tabungan kerap digunakan untuk menopang konsumsi harian, bukan bertambah sebagai cadangan keuangan.

Di tingkat global, situasi serupa juga terjadi. Rasio tabungan rumah tangga di sejumlah negara maju memang sempat meningkat, tetapi berbagai laporan menunjukkan kebiasaan finansial sehari-hari tetap menjadi faktor penentu apakah tabungan bisa tumbuh atau justru terkuras.

Dalam konteks Indonesia, kombinasi konsumsi tinggi dan kebiasaan belanja yang berubah menjadi latar penting untuk melihat sumber kebocoran tabungan yang sering luput dari perhatian.

1. Langganan digital yang menumpuk

Ilustrasi layanan pesan antar makanan.PEXELS/ROMAN ODINTSOV Ilustrasi layanan pesan antar makanan.

Salah satu kebocoran paling umum berasal dari langganan digital. Layanan streaming, aplikasi berbayar, penyimpanan data, hingga paket pesan antar makanan kerap dibeli dengan skema autopay.

Nilainya terlihat kecil per bulan, tetapi jika dijumlahkan, bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam setahun.

Masalah utama bukan hanya harga, melainkan minimnya evaluasi rutin.

Banyak konsumen lupa menghentikan langganan setelah masa uji coba berakhir atau tetap membayar layanan yang jarang digunakan.

Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai kebocoran semacam ini kerap terjadi karena kurangnya kesadaran mengelola arus kas.

“Banyak masyarakat sebenarnya sudah memiliki akses ke produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelola pengeluaran rutin, sehingga pendapatan habis untuk konsumsi dan tidak menyisakan ruang tabungan yang memadai,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

2. Pembelian impulsif dari media sosial

Perkembangan e-commerce, live shopping di platform commerce, dan promosi berbasis media sosial mendorong peningkatan pembelian impulsif.

Iklan bertarget dan diskon kilat menciptakan rasa urgensi untuk belanja, meski barang yang dibeli tidak selalu dibutuhkan.

Di Indonesia, tren ini semakin kuat seiring kemudahan pembayaran digital. Pengeluaran impulsif yang terjadi berulang kali membuat tabungan tergerus secara perlahan, tanpa terasa sebagai beban besar pada satu waktu.

Menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), perubahan perilaku konsumsi menjadi faktor penting dalam stagnasi tabungan rumah tangga.

Ilustrasi layanan digital, belanja online.DOK. Shutterstock/SuPatMaN. Ilustrasi layanan digital, belanja online.

“Sekarang bukan hanya soal pendapatan naik atau tidak, tapi bagaimana perilaku konsumsi berubah. Banyak pengeluaran kecil yang dulu tidak ada, sekarang menjadi rutin karena semuanya serba digital dan instan,” ujarnya kepada Kontan.

Kecenderungan pembelian impulsif ini tak cuma terjadi di Indonesia. Reuters melaporkan, di Amerika Serikat (AS), pembeli impulsif rata-rata menghabiskan ratusan dollar AS per tahun untuk barang yang dilihat di media sosial.

Ini adalah angka yang bila dikumulasi berdampak pada tabungan jangka pendek.

"Saya terkejut dengan betapa tingginya angka-angka ini,” kata Ted Rossman, analis senior Bankrate, mengungkapkan temuan pengeluaran impulsif konsumen AS.

3. Biaya bank dan denda keterlambatan

Biaya administrasi rekening, denda keterlambatan pembayaran, hingga bunga kartu kredit sering kali luput dari perencanaan anggaran. Padahal, biaya ini bersifat berulang dan akumulatif.

Dalam kondisi arus kas yang ketat, biaya tambahan tersebut langsung mengurangi dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan.

Banyak rumah tangga baru menyadari dampaknya setelah saldo tabungan tidak kunjung bertambah meski pendapatan relatif stabil.

4. Pengeluaran mikro sehari-hari

Kopi harian, makan di luar, layanan pesan antar, hingga transportasi daring menjadi contoh pengeluaran mikro yang sering dianggap wajar.

Namun, jika terjadi hampir setiap hari, total nilainya dalam sebulan dapat setara dengan porsi tabungan.

Survei Konsumen BI menunjukkan konsumsi masih mendominasi alokasi pendapatan rumah tangga.

Dalam konteks ini, pengeluaran mikro berperan besar menggerus ruang menabung, terutama di wilayah perkotaan dengan biaya hidup yang lebih tinggi.

Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknyaPEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknya

Untuk menekan pengeluaran mikro, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, catat pengeluaran mikro selama satu bulan penuh untuk mengetahui porsi yang bisa dikurangi.

Kemudian, terapkan anggaran kategori, misal makan di luar maksimal X kali per minggu.

Selain itu, biasakan membawa bekal atau alternatif hemat untuk mengurangi frekuensi transaksi mikro.

4. Penggunaan kartu kredit tanpa strategi

Kartu kredit memberi kemudahan dan fleksibilitas, tetapi penggunaan tanpa perencanaan yang jelas dapat menimbulkan beban bunga.

Kebiasaan membayar minimum atau menunda pelunasan membuat biaya bunga terus bertambah, mengurangi kapasitas menabung dalam jangka panjang.

Bhima menilai, tanpa strategi yang jelas, kartu kredit berpotensi mempercepat pergeseran pendapatan dari tabungan ke pembayaran bunga dan cicilan.

5. Salah kaprah mengelola pos keuangan

Membagi pendapatan ke beberapa pos atau rekening sering dianjurkan, tetapi tanpa disiplin, saldo yang tersisa justru dianggap sebagai uang bebas untuk dibelanjakan.

Akibatnya, tujuan menabung tidak tercapai meski secara nominal pendapatan terlihat cukup.

BI menilai disiplin pengelolaan keuangan rumah tangga menjadi faktor kunci agar optimisme konsumen dapat diikuti dengan penguatan tabungan.

Tantangan struktural tabungan rumah tangga

Tabungan rumah tangga lebih sering terkikis oleh kebiasaan kecil yang berulang, bukan oleh satu pengeluaran besar.

Dalam situasi di mana konsumsi masih menjadi prioritas utama, tabungan kerap berada di posisi terakhir dalam alokasi pendapatan.

Penguatan tabungan membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang arus kas dan kebiasaan belanja.

Selain itu, disiplin rumah tangga penting dalam mengelola konsumsi agar tabungan dapat berfungsi sebagai bantalan keuangan, bukan sekadar sisa pendapatan.

Tag:  #bukan #soal #gaji #kebiasaan #sehari #hari #menggerus #tabungan

KOMENTAR