Ekonomi China Tumbuh Positif, Harga Minyak Dunia Menguat
Ilustrasi China. [Javier Quiroga/Unsplash]
12:21
20 Januari 2026

Ekonomi China Tumbuh Positif, Harga Minyak Dunia Menguat

Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI naik pada Selasa (20/1/2026) didorong optimisme permintaan pasca data ekonomi China melampaui estimasi.
  • Pasar mencermati ancaman tarif AS 10% terhadap Eropa per 1 Februari terkait sengketa Presiden Trump mengenai Greenland.
  • Penguatan harga juga didukung pelemahan dolar AS 0,3% akibat aksi jual menyikapi potensi konflik perdagangan internasional.

Harga minyak naik pada perdagangan Selasa (20/1/2026), menyusul data pertumbuhan ekonomi China yang melampaui ekspektasi sehingga memicu optimisme permintaan.

Pada saat yang sama, pasar tengah mencermati ancaman kenaikan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa terkait keinginan Presiden Donald Trump untuk membeli Greenland.

Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka naik 19 sen, atau 0,3 persen, menjadi 64,13 dolar AS per barel pada pukul 01.00 GMT atau pukul 08.00 WIB.

Minyak mentah West Texas Intermediate AS untuk bulan Februari, yang berakhir pada hari Selasa, naik 25 sen atau 0,4 persen dibanding pada perdagangan Jumat, menjadi 59,69 dolar AS.

Sementara itu, kontrak WTI Maret yang lebih aktif diperdagangkan menguat 0,08 sen atau 0,13 persen ke level 59,42 dolar AS per barel.

Untuk sekedar diketahui, tidak ada penetapan harga pada Senin kemarin karena pasar Amerika Serikat libur memperingati Martin Luther King Jr. Day.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam laporannya menjelaskan bahwa harga minyak mentah WTI sedikit menguat berkat dukungan data PDB China kuartal IV-2025 yang melampaui estimasi pasar.

"Ketahanan di negara pengimpor minyak terbesar di dunia ini memberikan dorongan pada sentimen permintaan," katanya dalam sebuah catatan.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (19/1), Ekonomi China tumbuh 5,0 persen tahun lalu, memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global untuk barang yang mencapai rekor tertinggi, mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.

Strategi itu meredam dampak tarif AS tetapi semakin sulit untuk dipertahankan.

Data pemerintah juga menunjukkan bahwa kinerja kilang minyak China sepanjang 2025 meningkat 4,1 persen secara tahunan (yoy), sementara produksi minyak mentah tumbuh 1,5 persen. Keduanya berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Di sisi lain, kekhawatiran akan pecahnya perang dagang kembali meningkat pada akhir pekan lalu.

Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.

Tarif tersebut diancam akan naik menjadi 25 persen pada 1 Juni jika kesepakatan mengenai pembelian Greenland tidak tercapai.

Sycamore menambahkan bahwa penguatan harga komoditas tersebut juga didorong oleh pelemahan dolar AS.

Hal ini terjadi akibat aksi jual dolar oleh pelaku pasar sebagai respons terhadap ancaman tarif yang terus dilontarkan Presiden Trump terkait isu Greenland.

Ilustrasi Greenland dan Presiden Donald Trump PerbesarIlustrasi Greenland dan Presiden Donald Trump

Dolar AS turun 0,3 persen terhadap mata uang lainnya. Melemahnya dolar AS membuat kontrak minyak berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Di samping itu, pasar saat ini juga tengah memantau sektor minyak Venezuela menyusul pernyataan, Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan mengelola industri tersebut pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Menurut sejumlah sumber perdagangan menyebutkan bahwa perusahaan trading Vitol telah menawarkan minyak Venezuela kepada pembeli di China, dengan diskon sekitar 5 dolar AS per barel terhadap harga patokan ICE Brent untuk pengiriman April.

Di sisi lain, China mencatatkan volume impor minyak mentah jenis Urals asal Rusia tertinggi sejak 2023.

Berdasarkan data pelayaran dan sumber perdagangan, minyak Rusia tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan minyak Iran.

Lonjakan ini terjadi setelah pembeli utama sebelumnya, India, memangkas impor secara tajam akibat sanksi Barat, serta sebagai langkah antisipasi sebelum diberlakukannya larangan Uni Eropa terhadap produk olahan minyak Rusia.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #ekonomi #china #tumbuh #positif #harga #minyak #dunia #menguat

KOMENTAR