Pemerintah Siapkan BUMN Khusus Tekstil Setelah Sritex Pailit
Pemerintah mempersiapkan BUMN baru khusus tekstil dengan pendanaan sebesar 6 miliar dollar AS melalui BPI Danantara untuk memperkuat industri tekstil dan garmen nasional serta tingkatkan ekspor.()
21:52
19 Januari 2026

Pemerintah Siapkan BUMN Khusus Tekstil Setelah Sritex Pailit

– Pemerintah tengah menyiapkan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang fokus pada sektor tekstil.

Langkah ini dilakukan setelah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan tekstil raksasa di Indonesia, mengalami pailit dan menutup operasionalnya.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia akan mengelola BUMN baru tersebut untuk menangani masalah garmen dan tekstil.

“Kita harapkan dalam waktu dekat prosesnya selesai agar kegiatan ekonomi Sritex tetap berjalan meski statusnya pailit,” ujar Prasetyo dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (19/1/2026).

Meski Sritex resmi pailit, Prasetyo menegaskan operasional dan kegiatan ekonomi perusahaan harus tetap berjalan.

Sritex mempekerjakan lebih dari 10 ribu karyawan dan menghasilkan produk tekstil serta garmen untuk pasar domestik dan ekspor.

Arahan Presiden dan Roadmap Industri Tekstil

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pembentukan BUMN baru tekstil ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, 11 Januari 2026.

“BUMN baru khusus tekstil akan dibentuk, bukan menghidupkan perusahaan lama,” kata Airlangga.

Airlangga menjelaskan, pembentukan BUMN baru tersebut akan diikuti dengan penyusunan peta jalan (roadmap) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Studi awal terkait rencana ini disebut telah rampung dan siap ditindaklanjuti.

Pemerintah berharap roadmap tersebut mampu menjadi panduan untuk modernisasi industri tekstil nasional, sekaligus memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir.

Kemudian untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah juga menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dollar AS atau setara Rp 101,2 triliun (kurs Rp 16.868) melalui BPI Danantara.

Dana ini akan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis di sektor tekstil, seperti pengadaan barang modal, adopsi teknologi baru, serta peningkatan kapasitas ekspor industri tekstil.

Targetnya, ekspor tekstil yang saat ini sekitar 4 miliar dollar AS dapat meningkat hingga 40 miliar dollar AS dalam 10 tahun.

Dukungan DPR dan Fungsi BUMN Tekstil

Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono menyambut baik rencana pembentukan BUMN tekstil. Menurut Bambang, sandang merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara berdasarkan UUD 1945 dan UU No. 13/2011 tentang penanganan fakir miskin.

“BUMN sandang diharapkan menjadi stabilisator industri dan harga di pasar, sekaligus menjaga kualitas produk,” ujarnya.

Bambang mengkritik pembubaran Industri Sandang Nusantara (ISN) pada 2020 yang dinilai merugikan rakyat dan industri dalam negeri.

Ia berharap BUMN tekstil baru dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku, terutama dari China yang mencapai 60-90 persen, serta mendukung peningkatan konsumsi produk dalam negeri.

Pendapat CEO Danantara Soal Investasi Tekstil

Rosan Roeslani, CEO Danantara sekaligus Kepala BKPM, menyatakan Danantara terbuka terhadap investasi di sektor tekstil, termasuk aset bermasalah seperti Sritex.

Selain aspek finansial, Danantara juga memiliki sejumlah parameter lain yang menjadi pertimbangan utama.

“Kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi,” kata Rosan di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Salah satu parameter penting yang menjadi perhatian Danantara adalah penciptaan lapangan kerja.

Rosan menyebut, Danantara terbuka untuk masuk ke investasi dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah, selama mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.

“Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi penciptaan lapangan pekerjaan itu sangat besar,” tambah dia.

Terkait isu restrukturisasi PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Rosan tidak menyebut secara spesifik, namun mengakui Danantara melihat potensi pada aset-aset yang masuk kategori distressed asset atau aset bermasalah.

Menurutnya, selama ada keyakinan perusahaan dapat dipulihkan, Danantara siap mempertimbangkan langkah restrukturisasi.

“Jadi kita melihat potensi-potensi yang ada saja. Apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset. Kita lihat, selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal,” jelas dia.

Ia menambahkan, pendekatan restrukturisasi yang dilakukan tidak hanya terbatas pada penguatan permodalan, tetapi juga mencakup pembenahan pasar, kepastian pembeli (off-taker), serta aspek bisnis lainnya.

“Seperti yang kita lakukan misalnya di perusahaan-perusahaan BUMN lainnya yang memang perlu mendapatkan penyehatan secara keseluruhan tidak hanya dari permodalan saja tapi juga dari marketnya, dari off-takernya dan lain-lain. Jadi kita terbuka untuk itu,” tegas dia.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul

Tag:  #pemerintah #siapkan #bumn #khusus #tekstil #setelah #sritex #pailit

KOMENTAR