Angka Kelahiran Anjlok, Konsumsi Tertekan: Alarm Baru Ekonomi China
Lalu lintas kendaraan di Kota Shanghai, China.(KOMPAS.com/DIO DANANJAYA)
15:56
19 Januari 2026

Angka Kelahiran Anjlok, Konsumsi Tertekan: Alarm Baru Ekonomi China

China mencatatkan tingkat kelahiran terendah sepanjang sejarah pada 2025, di saat ekonomi negara itu tetap tumbuh sesuai target pemerintah.

Data demografi dan ekonomi yang dirilis otoritas statistik pada awal pekan ini memperlihatkan dua tren yang berjalan beriringan, yakni stabilitas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara tahunan dan pelemahan struktural yang kian terasa pada basis permintaan domestik, pasar tenaga kerja, serta prospek jangka panjang akibat penuaan penduduk.

Dikutip dari CNN, Senin (19/1/2026), Biro Statistik Nasional China atau National Bureau of Statistics of China melaporkan tingkat kelahiran turun menjadi 5,63 kelahiran per 1.000 penduduk pada 2025.

Ilustrasi bendera China.SHUTTERSTOCK/CRYSTAL51 Ilustrasi bendera China.

Angka ini berada di bawah rekor terendah sebelumnya pada 2023 sebesar 6,39 per 1.000 penduduk.

Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan tipis jumlah kelahiran pada 2024 lebih merupakan anomali ketimbang pembalikan tren penurunan yang telah berlangsung sejak 2016.

Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi China mencapai 5 persen sepanjang 2025, sejalan dengan target pemerintah “sekitar 5 persen”.

Namun, kinerja ekonomi kuartal IV 2025 melambat, dengan pertumbuhan hanya 4,5 persen secara tahunan, terendah sejak akhir 2022, menegaskan tantangan yang dihadapi perekonomian terbesar kedua dunia itu.

Kelahiran anjlok, populasi China menyusut empat tahun berturut-turut

Data statistik menunjukkan, pada 2025 jumlah kelahiran mencapai 7,92 juta bayi, sementara jumlah kematian mencapai 11,31 juta jiwa. Selisih tersebut menyebabkan total populasi China menyusut 3,39 juta orang dalam setahun.

Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China. UNSPLASH/HANNY NAIBAHO Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China.

Dengan demikian, populasi China, masih terbesar kedua di dunia setelah India, berada di kisaran 1,4 miliar jiwa pada 2025.

Penurunan populasi ini menandai tahun keempat berturut-turut penyusutan jumlah penduduk.

Bagi Beijing, tren tersebut menjadi tantangan besar karena terjadi bersamaan dengan penyusutan angkatan kerja dan membengkaknya populasi usia lanjut penerima pensiun.

Penuaan penduduk juga semakin dalam. Jumlah penduduk berusia di atas 60 tahun mencapai 323 juta orang pada 2025, atau sekitar 23 persen dari total populasi, naik satu poin persentase dibandingkan 2024.

Proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa hingga separuh populasi China berpotensi berusia di atas 60 tahun pada 2100, skenario yang membawa implikasi luas bagi pertumbuhan ekonomi, fiskal, hingga ambisi geopolitik China.

Warisan kebijakan satu anak dan perubahan sosial

Para pejabat China menilai perubahan demografi ini sebagai tantangan struktural. Selama puluhan tahun, China menerapkan kebijakan pengendalian penduduk yang ketat melalui kebijakan satu anak, yang baru dihapuskan pada 2016.

Kebijakan tersebut mempercepat tren yang juga terlihat di negara-negara Asia Timur lain seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana tingkat kelahiran rendah dipengaruhi oleh meningkatnya pendidikan, perubahan pandangan terhadap pernikahan, urbanisasi cepat, serta tingginya biaya membesarkan anak.

Presiden China Xi Jinping berulang kali menyinggung pentingnya “keamanan populasi” dan menempatkan “pengembangan populasi berkualitas tinggi” sebagai prioritas nasional.

Di bawah kepemimpinannya, pemerintah juga mendorong otomatisasi dan peningkatan teknologi manufaktur untuk menggantikan tenaga kerja manusia dengan robot dan kecerdasan buatan.

Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam di Hanoi, 14 April 2025.AFP/POOL/NHAC NGUYEN Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan saat bertemu Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam di Hanoi, 14 April 2025.

Sepanjang 2025, pemerintah China memperkenalkan berbagai insentif untuk mendorong kelahiran, mulai dari bonus tunai tahunan bagi keluarga dengan anak di bawah tiga tahun, penyederhanaan aturan pencatatan pernikahan, hingga program pendidikan prasekolah negeri gratis.

Pemerintah daerah menambah insentif berupa keringanan pajak, bantuan pembelian dan sewa rumah, cuti melahirkan lebih panjang, serta bantuan tunai langsung.

Namun, sejumlah analis menilai langkah-langkah tersebut belum cukup untuk membalikkan tren.

Faktor budaya juga disebut berperan. Tahun 2025 yang merupakan “Tahun Ular” dalam kalender zodiak China dianggap kurang menguntungkan untuk kelahiran dibandingkan “Tahun Naga” pada 2024, sehingga turut memengaruhi keputusan sebagian pasangan.

Dampak ekonomi langsung: konsumsi tertekan

Penurunan kelahiran tidak hanya berdampak jangka panjang, tetapi juga berpotensi menekan ekonomi dalam waktu dekat.

Yi Fuxian, pakar demografi dan ilmuwan senior di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat (AS), menilai rendahnya angka kelahiran akan memperlemah permintaan domestik di China.

“Anak-anak adalah ‘konsumen super’. Dengan kelahiran yang sangat rendah, permintaan domestik China kemungkinan tetap lemah, sehingga ekonomi semakin bergantung pada ekspor,” kata Yi.

Data ekonomi China 2025 mendukung pandangan tersebut. Sepanjang tahun, konsumsi rumah tangga menunjukkan pemulihan yang rapuh.

Pada Desember 2025, penjualan ritel hanya tumbuh 0,9 persen, melambat dari 1,3 persen pada November, menandakan lemahnya belanja konsumen di tengah tekanan deflasi.

Ilustrasi: Salah satu sudut Kota Beijing di malam hari.KOMPAS.com/Bill Clinten Ilustrasi: Salah satu sudut Kota Beijing di malam hari.

Pertumbuhan ekonomi China 5 persen, tetapi momentum melemah

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi China pada 2025 mencapai 5 persen, sesuai sasaran pemerintah.

Kinerja ini ditopang lonjakan ekspor yang mengimbangi lemahnya konsumsi domestik dan ketegangan dagang dengan Amerika Serikat.

China mencatat surplus perdagangan rekor sebesar 1,2 triliun dollar AS pada 2025, meskipun menghadapi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang naik-turun.

Ekspor China berhasil menembus pasar Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin ketika akses ke pasar AS tertekan.

Namun, data kuartal IV 2025 memperlihatkan perlambatan signifikan. Pertumbuhan ekonomi China 4,5 persen secara tahunan menjadi yang terendah sejak ekonomi dibuka kembali pascapandemi Covid-19.

Angka ini sedikit di atas perkiraan konsensus analis yang disurvei Reuters sebesar 4,4 persen, sehingga tetap memungkinkan pencapaian target tahunan 5 persen.

Kepala Biro Statistik Nasional China, Kang Yi, menyebut ekonomi menunjukkan “stabilitas yang luar biasa” di tengah “situasi eksternal yang kompleks dan berat serta tantangan domestik yang meningkat”.

“Pada 2025, ekonomi China mampu menahan tekanan dan mempertahankan kemajuan yang stabil, serta mencapai hasil baru dalam pembangunan berkualitas tinggi,” kata Kang dalam konferensi pers.

Investasi melemah, properti terus tertekan

Di balik capaian tahunan tersebut, sejumlah indikator menunjukkan tekanan yang meningkat pada sisi domestik.

Pemerintah kota Beijing akan membatasi kendaraan bermotor dengan penerapan sistem ganjil genap untuk memerangi polusi udara.AP Photo Pemerintah kota Beijing akan membatasi kendaraan bermotor dengan penerapan sistem ganjil genap untuk memerangi polusi udara.

Investasi di sektor perumahan, manufaktur, dan infrastruktur sepanjang 2025 mencatat kontraksi 3,8 persen. Ini merupakan penurunan tahunan pertama yang pernah tercatat.

Di dalamnya, investasi pengembangan properti anjlok 17,2 persen di tengah krisis berkepanjangan sektor properti.

Laba industri juga merosot tajam, mencerminkan lemahnya permintaan dan tekanan harga.

Sementara itu, belanja modal perusahaan cenderung tertahan karena ketidakpastian prospek ekonomi dan lemahnya konsumsi.

Analis Economist Intelligence Unit mencatat, salah satu titik terang ekonomi China pada 2025 adalah investasi di bidang kecerdasan buatan dan teknologi, serta aktivitas pasar keuangan yang relatif kuat.

“Otoritas tidak terburu-buru menggelontorkan stimulus pada akhir tahun karena target 5 persen sudah dalam jangkauan, terbantu oleh ekspor yang kuat,” tulis EIU dalam catatan analisnya.

Ketergantungan China pada ekspor dan risiko global

Kinerja ekspor yang kuat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi China 2025, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran baru. Sejumlah negara mitra dagang semakin waspada terhadap pelebaran ketidakseimbangan perdagangan global.

Tarif AS terhadap produk China kini berada di kisaran 20 persen di atas tarif sebelumnya, setelah gencatan dagang yang dicapai pada akhir 2024.

Di dalam negeri, ketergantungan pada ekspor menyoroti lemahnya mesin pertumbuhan berbasis konsumsi. Para ekonom mencermati bahwa tanpa pemulihan belanja rumah tangga yang lebih kuat, pertumbuhan China akan tetap rapuh menghadapi guncangan eksternal.

Lalu lintas kendaraan di Kota Shanghai, China.KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Lalu lintas kendaraan di Kota Shanghai, China.

Proyeksi ke depan dan perdebatan data

Ke depan, pemerintah China akan menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada Maret 2026, bersamaan dengan sidang legislatif tahunan.

Beijing juga dijadwalkan merilis cetak biru pembangunan ekonomi lima tahunan berikutnya yang akan menentukan prioritas kebijakan hingga paruh kedua dekade ini.

Organisasi internasional telah memberikan proyeksi yang lebih moderat. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,4 persen pada 2026 dan 4,3 persen pada 2027.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China sekitar 4,5 persen pada 2026.

Adapun dalam laporanya, Rhodium Group menilai angka resmi PDB China mungkin terlalu optimistis. Kelompok riset tersebut memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh antara 2,5 hingga 3 persen pada 2025, jauh di bawah angka resmi 5 persen.

Perdebatan mengenai akurasi data PDB ini bukan hal baru.

Sejumlah pengamat berpendapat bahwa pemerintah daerah memiliki insentif untuk melaporkan pertumbuhan lebih tinggi, meskipun Beijing dalam beberapa tahun terakhir berupaya meningkatkan transparansi statistik.

Antara stabilitas jangka pendek dan tantangan struktural

Perlambatan ekonomi kuartal IV-2025, lemahnya konsumsi, penurunan investasi, serta krisis demografi yang kian nyata menempatkan pemerintah China pada persimpangan jalan.

Di satu sisi, capaian pertumbuhan ekonomi 5 persen menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global.

Di sisi lain, penurunan angka kelahiran dan penuaan penduduk mempersempit ruang manuver jangka panjang, terutama dalam upaya mengalihkan mesin pertumbuhan dari ekspor ke konsumsi domestik.

Para analis memperkirakan pemerintah akan melanjutkan kombinasi kebijakan pro-pertumbuhan, dukungan terbatas bagi sektor properti, serta insentif demografi.

Namun, dengan angkatan kerja yang menyusut dan biaya sosial yang meningkat, tantangan yang dihadapi China pada dekade mendatang diperkirakan semakin kompleks.

Tag:  #angka #kelahiran #anjlok #konsumsi #tertekan #alarm #baru #ekonomi #china

KOMENTAR