Pertumbuhan Ekonomi di Persimpangan: Stabil atau Melompat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
07:56
18 Januari 2026

Pertumbuhan Ekonomi di Persimpangan: Stabil atau Melompat

OPTIMISME, kewaspadaan, dan keraguan—tiga nada yang saling bersilang—mewarnai pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sepanjang awal 2026.

Pada 1 Januari 2026, Purbaya menyampaikan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia tahun ini bisa tumbuh hingga 6 persen.

Namun, hanya sepekan kemudian, pada 8 Januari 2026, peringatannya terdengar lebih tajam: pertumbuhan ekonomi sedang dihadang jebakan.

Dan akhirnya, pada 16 Januari 2026, pengakuan jujur disampaikan ke publik—bahwa pemulihan ekonomi tidak secepat yang diperkirakan.

Rangkaian pernyataan ini bukan kontradiksi, melainkan refleksi realitas ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia.

Ketika pengelola kebijakan bergerak dari optimisme ke kehati-hatian, lalu sampai pada pengakuan perlambatan, persoalannya bukan lagi sekadar tekanan global atau sentimen jangka pendek.

Yang dipertaruhkan adalah pilihan arah: apakah Indonesia akan bertahan pada stabilitas pertumbuhan yang aman, atau berani melompat menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dengan perubahan struktural nyata.

Dalam satu dekade terakhir, ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5 persen. Stabilitas ini penting karena menjaga daya beli, menekan volatilitas, dan menghindari krisis besar.

Namun dalam teori pertumbuhan, stabilitas yang terlalu lama tanpa akselerasi justru berisiko menahan ekonomi pada lintasan rata-rata yang sulit ditembus (World Bank, 2024).

Model pertumbuhan neoklasik menjelaskan bahwa tanpa lonjakan produktivitas, ekonomi akan kembali ke steady state—titik keseimbangan pertumbuhan jangka panjang yang cenderung stagnan (Solow, 1956).

Inilah yang mulai terlihat di Indonesia: investasi terus mengalir, tetapi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) masih relatif tinggi, menandakan bahwa setiap tambahan modal belum menghasilkan pertumbuhan output yang sebanding (Todaro & Smith, 2020).

Selama ini, konsumsi rumah tangga menjadi jangkar utama pertumbuhan. Konsumsi memang menjaga stabilitas, tetapi jarang menciptakan lompatan struktural karena dampak pembelajarannya terbatas dan tidak mendorong transformasi sektor secara luas (Keynes, 1936).

Akibatnya, pertumbuhan tetap berjalan, tetapi dengan kecepatan yang nyaris sama dari tahun ke tahun.

Kondisi ini kerap disebut sebagai jebakan pendapatan menengah—situasi ketika sebuah negara terlalu maju untuk tumbuh cepat dengan cara lama, tetapi belum cukup produktif untuk naik ke level berikutnya (Gill & Kharas, 2007). Stabil, ya. Melompat, belum.

Vietnam dan arti pilihan

Di titik inilah perbandingan dengan Vietnam menjadi relevan. Dalam beberapa periode, Vietnam mampu mencatat pertumbuhan mendekati, bahkan melampaui 8 persen.

Pencapaian ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pilihan kebijakan yang tegas dan dijalankan secara konsisten lintas pemerintahan.

Vietnam sejak awal mengunci manufaktur berorientasi ekspor sebagai mesin utama pertumbuhan.

Insentif investasi, kepastian regulasi, pengembangan kawasan industri, hingga integrasi dengan rantai pasok global diarahkan ke satu tujuan yang sama: meningkatkan produktivitas dan ekspor bernilai tambah (Rodrik, 2016).

Perbedaan utama bukan terletak pada kecanggihan kebijakan, melainkan pada keteguhan arah.

Setiap kebijakan diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah ia memperkuat ekspor dan produktivitas? Jika tidak, maka kebijakan tersebut ditinggalkan.

Konsistensi inilah yang menurunkan ketidakpastian, menekan risk premium, dan mendorong investor menanamkan modal jangka panjang—faktor kunci pertumbuhan tinggi dalam teori ekonomi institusional (North, 1990; Alesina & Perotti, 1996).

Pelajaran dari Vietnam jelas sekaligus menyentil. Pertumbuhan 7–8 persen bukan mitos, melainkan hasil dari keputusan yang dipilih secara sadar dan dipertahankan dengan disiplin kebijakan.

Dalam konteks ini, keraguan yang disampaikan Purbaya tidak seharusnya dibaca sebagai pesimisme, melainkan sebagai alarm kebijakan.

Sejarah pembangunan menunjukkan bahwa banyak negara justru berubah arah ketika para pengambil kebijakan berani mengakui bahwa sesuatu tidak berjalan sesuai rencana (Stiglitz, 2002).

Jika periode 2026–2030 dimanfaatkan sebagai fase koreksi strategis, maka beberapa langkah menjadi krusial.

Pertama, menurunkan ICOR melalui efisiensi logistik, percepatan perizinan, dan belanja negara yang benar-benar produktif—sebuah pendekatan yang dalam teori pertumbuhan endogen memberikan efek berlipat pada output jangka menengah (Romer, 1990).

Kedua, mendorong rasio investasi terhadap PDB ke kisaran 35 persen dengan komposisi yang tepat.

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa negara berkembang yang mampu tumbuh di atas 6 persen hampir selalu ditopang investasi produktif yang kuat, bukan sekadar besar secara nominal (IMF, 2024).

Ketiga, melompatkan produktivitas tenaga kerja melalui vokasi industri dan adopsi teknologi. Teori modal manusia menegaskan bahwa kualitas tenaga kerja adalah penentu utama daya saing jangka panjang dan keberlanjutan pertumbuhan (Becker, 1993).

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi memang berada di persimpangan. Stabilitas memberikan rasa aman, tetapi tidak menjamin masa depan.

Keraguan di awal 2026 menyajikan pilihan sejarah: tetap bertahan di jalur nyaman, atau mengambil risiko terukur untuk melompat lebih tinggi.

Seperti alarm yang berbunyi di pagi hari, keraguan hanya memiliki dua nasib—dimatikan lalu dilupakan, atau dijadikan tanda untuk bangun dan bergerak. Pilihan itulah yang akan menentukan arah pertumbuhan Indonesia ke depan.

Tag:  #pertumbuhan #ekonomi #persimpangan #stabil #atau #melompat

KOMENTAR