Swasembada Beras dan Hilirisasi 3 Komoditas, Mentan Amran: Indonesia Siap Guncang Perdagangan Dunia
- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan dampak strategis keberhasilan swasembada beras serta rencana hilirisasi tiga komoditas pertanian utama yang dinilainya berpotensi mengubah konfigurasi perdagangan dunia. Langkah tersebut, kata dia, menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk naik kelas sebagai kekuatan global.
Amran menjelaskan, percepatan swasembada pangan terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menilai langsung lompatan kinerja sektor pertanian nasional. Target awal yang diproyeksikan tercapai dalam empat tahun terus direvisi menjadi lebih singkat.
“Target swasembada pangan yang awalnya dipatok empat tahun oleh Presiden Prabowo Subianto terus dipercepat setelah melihat langsung kinerja dan perubahan besar di sektor pertanian,” kata Amran dalam diskusi bersama pimpinan Jawa Pos Group di kediamannya, Jakarta, Minggu (11/1).
Ia merinci, target empat tahun sempat dipangkas menjadi tiga tahun hanya dalam dua pekan. Bahkan, dalam 45 hari awal pemerintahan, Presiden Prabowo kembali menaikkan ambisi dengan menetapkan target swasembada dalam satu tahun.
“Alhamdulillah tercapai, tapi kerjanya tidak ada hari libur,” katanya sambil tertawa.
Menurut Amran, percepatan ekstrem tersebut hanya dapat diwujudkan melalui reformasi menyeluruh, baik dari sisi tata kelola, budaya kerja, hingga penegakan integritas. Ia menegaskan, tidak ada ruang bagi praktik korupsi maupun permainan mafia pangan.
“Semua harus berubah. Tidak boleh ada korupsi, tidak boleh ada mafia. Target jelas, kalau tidak tercapai mundur. Kalau tidak mampu mencapai target, ya jadi target,” tegasnya.
Lebih lanjut, Amran menilai transformasi sektor pertanian dari pola tradisional menuju sistem modern menjadi keniscayaan. Salah satu langkah awal yang diambil Kementerian Pertanian adalah melakukan efisiensi anggaran secara signifikan.
Ia menyebut, Kementan memangkas anggaran hingga Rp 1,7 triliun yang sebelumnya dialokasikan untuk perjalanan dinas, seminar, dan pos belanja lainnya. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan produksi beras nasional yang melonjak 4,09 juta ton.
Keberhasilan swasembada beras tersebut, lanjut Amran, turut memberikan efek domino di tingkat global. Indonesia kini menghentikan impor beras yang sebelumnya menelan nilai sekitar Rp 100 triliun.
Namun, ia menekankan bahwa swasembada hanyalah gerbang awal. Menurutnya, kunci kekuatan sesungguhnya terletak pada strategi hilirisasi. Amran menyoroti tiga komoditas pertanian yang dinilai mampu memberikan guncangan besar bagi pasar dunia jika diolah di dalam negeri.
Pertama adalah beras. Penghentian impor oleh Indonesia secara langsung mengganggu keseimbangan pasar internasional dan menekan negara-negara eksportir utama seperti Thailand, Vietnam, Pakistan, dan India.
Kedua, kelapa. Di tingkat petani, harga kelapa mentah hanya sekitar Rp 1.350 per kilogram. Namun setelah melalui proses pengolahan, nilainya bisa melonjak hingga Rp 18.000 per kilogram.
Ketiga, gambir. Indonesia saat ini menguasai sekitar 80 persen pasar ekspor gambir dunia. Sayangnya, selama ini komoditas tersebut lebih banyak dikirim ke India untuk diolah sebelum diekspor kembali dalam bentuk produk jadi.
“Kalau hilirisasi kita lakukan di dalam negeri, nilai tambahnya luar biasa,” pungkas Amran.
Tag: #swasembada #beras #hilirisasi #komoditas #mentan #amran #indonesia #siap #guncang #perdagangan #dunia