Techno9 Indonesia (NINE) Perkuat Bisnis Tambang lewat Aset di Mongolia
Ilustrasi tambang. (SHUTTERSTOCK/PARILOV)
17:52
9 Januari 2026

Techno9 Indonesia (NINE) Perkuat Bisnis Tambang lewat Aset di Mongolia

— PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) mengumumkan langkah strategis yang mendapat dukungan penuh dari pemegang saham mayoritasnya, yakni Poh Group asal Singapura.

Dukungan tersebut akan direalisasikan melalui integrasi aset tambang yang berlokasi di Mongolia ke dalam portofolio NINE melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Aksi korporasi ini menandai fase baru transformasi bisnis NINE yang sebelumnya bergerak di bidang teknologi informasi (TI) menjadi pemain di sektor pertambangan, baik di Indonesia maupun kawasan regional.

Ilustrasi tambang.PIXABAY/MARTINA JANOCHOVA Ilustrasi tambang.

Ekspansi tersebut disebut sebagai tindak lanjut dari peta jalan strategis Poh Group selaku pemegang saham mayoritas perseroan.

Direktur Utama Techno9 Indonesia Nuzwan Gufron, mengatakan opsi pembelian aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) berpotensi memberikan dampak positif bagi pemegang saham.

Nuzwan menuturkan, integrasi aset-aset Mongolia ke dalam Techno9 Indonesia ini berpotensi memiliki dampak positif bagi para pemegang saham NINE, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia dilaksanakan.

"Hal ini membuka jalur yang lebih terstruktur untuk monetisasi aset dan memperkuat keterlibatan Techno9 Indonesia di masa depan dalam proyek-proyek pertambangan,” ujar Nuzwan dalam siaran pers, Jumat (9/1/2026).

Menurut Nuzwan, PGGR telah menandatangani Framework Agreement untuk kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.

Ilustrasi pertambangan.
DOK. SHUTTERSTOCK/Maksim Safaniuk Ilustrasi pertambangan.

Mitra EPC+F tersebut berencana melakukan investasi lebih dari 100 juta dollar AS untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan yang diproyeksikan melampaui 20 juta ton.

Melalui skema kemitraan tersebut, Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal (capital expenditure/capex), baik untuk tambang milik sendiri maupun proyek kerja sama operasi.

“Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok. Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” kata Nuzwan.

Ia menambahkan, calon mitra EPC+F tersebut memiliki pengalaman panjang dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi, termasuk melakukan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan sejumlah negara lain.

Entitas itu berdiri sejak 1998 dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang dan total aset mencapai lebih dari 500 juta dollar AS.

“EPC+F ini memiliki dasar yang kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara,” papar Nuzwan.

Lebih lanjut, Nuzwan menyebutkan, NINE akan terus menjajaki dan mengembangkan berbagai peluang usaha, baik di Indonesia maupun kawasan regional, untuk memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.

“Perkembangan ini juga berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation) maupun kepemilikan langsung,” terang Nuzwan.

Ilustrasi pertambangan. SHUTTERSTOCK/SALIENKO EVGENII Ilustrasi pertambangan.

Aset tambang Mongolia yang akan diintegrasikan ke dalam NINE dimiliki 100 persen oleh Poh Kay Ping, yang saat ini menguasai dua konsesi pertambangan batu bara dan semi-soft coking coal.

PGGR bersama pihak-pihak terafiliasi dalam Poh Group, termasuk NINE, disebut akan terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.

Perseroan menargetkan pendaftaran rights issue untuk integrasi aset Mongolia tersebut paling lambat pada kuartal II 2026. NINE juga menegaskan bahwa langkah akuisisi ini tidak berdampak terhadap kas perseroan.

“Tidak terdapat biaya untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia, aset tersebut akan dimasukkan ke dalam perseroan melalui proses PMHMETD,” jelas Nuzwan.

PT Techno9 Indonesia Tbk tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2022, dengan kegiatan usaha utama sebagai penyedia layanan teknologi informasi.

Seiring masuknya Poh Group sebagai pemegang saham mayoritas dan dalam proses menjadi pengendali baru, perseroan melakukan transformasi menyeluruh dengan mengalihkan fokus usaha ke sektor pertambangan dan energi.

Poh Group merupakan perusahaan investasi asal Singapura dengan portofolio usaha yang terdiversifikasi di Asia, mencakup sektor sumber daya alam, teknik, akuakultur, teknologi informasi, properti, dan bidang lainnya.

Tag:  #techno9 #indonesia #nine #perkuat #bisnis #tambang #lewat #aset #mongolia

KOMENTAR