IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Ekonom Ingatkan Risiko Bubble
Optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa soal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 9.000 pada akhir 2025 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Kenaikan indeks bahkan berpotensi menyimpan risiko gelembung harga.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai penguatan IHSG perlu dicermati lebih dalam. Proyeksi indeks menembus level 10.000 pada 2026 tidak otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi riil.
"Jadi menurut saya ini lebih ke bubble yang tidak ditopang oleh fundamental. Karena secara fundamental atau rasionya itu enggak seperti itu," jelas Deni saat Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Penguatan IHSG saat ini, menurut Deni, tidak digerakkan saham berfundamental kuat. Saham perbankan besar dan emiten konsumsi utama tidak menjadi motor utama kenaikan indeks. Reli justru datang dari saham perusahaan baru dengan valuasi tinggi.
“Banyak saham yang menguat justru memiliki rasio price to earnings (PER) sangat tinggi, bahkan mencapai 500 kali. Kalau dimaknai secara sederhana, dibutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengembalikan nilai investasi tersebut,” ujar Deni.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga saham tidak sejalan dengan kinerja perusahaan. Rasio fundamental tidak mendukung lonjakan valuasi. Situasi ini membuat penguatan IHSG lebih menyerupai pembentukan gelembung harga.
Risiko terbesar, lanjut Deni, muncul saat ekspektasi pasar tidak selaras dengan kinerja emiten. Siklus boom and bust berpotensi terjadi. Koreksi tajam dapat memicu gejolak pasar keuangan.
Deni juga menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai penguatan IHSG sebagai bukti keberhasilan stimulus dan perbaikan ekonomi. Narasi tersebut dinilai berpotensi bertentangan dengan kekhawatiran pemerintah terkait praktik penggorengan saham.
“Hal ini perlu dikawal agar penguatan pasar tidak bersifat semu dan tidak menciptakan persepsi yang keliru terhadap kondisi ekonomi,” ujarnya.
Anomali lain terlihat pada pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah. Penguatan indeks tidak diikuti apresiasi rupiah. Reli pasar saham tidak didorong arus modal asing.
Tanpa dukungan investor asing dan penguatan fundamental ekonomi, reli IHSG dinilai sulit berkelanjutan. Pengawasan terhadap struktur pasar dan kualitas penguatan indeks menjadi krusial demi menjaga stabilitas pasar keuangan ke depan.
Tag: #ihsg #berpeluang #tembus #9000 #ekonom #ingatkan #risiko #bubble