Pasar Perkantoran Diproyeksikan Rebound pada 2026
Ilustrasi kantor Anabatic Technologies.(DOK. ANABATIC TECHNOLOGIES)
13:40
7 Januari 2026

Pasar Perkantoran Diproyeksikan Rebound pada 2026

Sektor properti, khususnya pasar perkantoran, diproyeksikan mulai masuk fase pemulihan pada 2026. Proses rebound dinilai masih bertahap, tetapi arah pergerakannya semakin jelas.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai optimisme pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi mulai menguat. Kepercayaan bisnis kembali terbentuk setelah periode penyesuaian yang panjang.

“Dan ini menjadi sinyal penting bahwa kepercayaan bisnis mulai pulih. Dan pelaku usaha juga sudah mulai melihat bahwa tahun 2026 ini lebih optimistis dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi di sisi lain, hampir tidak ada gedung baru yang masuk pasar,” kata Ferry secara virtual, Rabu (7/1/2026).

Kepercayaan bisnis yang membaik memberi dorongan awal bagi pasar perkantoran. Pelaku usaha dinilai mulai berani merencanakan ekspansi ruang kerja. Pasokan gedung baru yang sangat terbatas menjaga keseimbangan pasar.

Pemilik gedung saat ini lebih fokus mempertahankan penyewa eksisting. Upaya peningkatan kualitas bangunan menjadi prioritas utama. Kenaikan harga sewa dilakukan secara terbatas dan selektif.

“Pemilik gedung sekarang ini lebih fokus untuk menjaga penyewa yang ada di gedung mereka dan juga di saat yang bersamaan memperbaiki kualitas gedung. Mereka tidak menaikkan harga secara agresif,” ujar dia.

Kondisi tersebut membuat pasar masih berpihak pada penyewa. Meski begitu, gedung perkantoran kelas A dan segmen premium mulai menunjukkan kinerja yang lebih kuat dibandingkan segmen lain.

“Jadi memang pasarnya sekarang ini masih condong ke penyewa atau tenants market, tapi gedung-gedung grade A dan gedung-gedung premium ini mulai menunjukkan performer kinerja yang lebih kuat atau lebih bagus,” lanjutnya.

Tren lain yang semakin terlihat ialah meningkatnya minat terhadap gedung dengan akses transportasi publik. Kedekatan dengan MRT menjadi faktor penentu dalam pemilihan lokasi kantor.

“trend lain yang makin jelas adalah kantor yang dekat dengan transportasi publik, terutama MRT. Ini jadi incaran, kemudian aksesibilitas sekarang ini benar-benar jadi faktor pembeda,” ungkap Ferry.

Permintaan juga mulai datang dari sektor teknologi, kendaraan listrik, serta industri baterai kendaraan listrik. Kehadiran perusahaan asal China dan Eropa ikut memperkuat dinamika pasar perkantoran Jakarta.

“Selain itu juga permintaan dari sektor teknologi, kemudian kendaraan listrik yang berkantor juga, kemudian baterai untuk kendaraan listrik, jadi sesuatu yang berhubungan dengan electric vehicle, sehingga perusahaan asli dari China dan Eropa juga mulai masuk ke sini,” tambahnya.

Colliers memperkirakan 2026 menjadi fase awal rebound pasar perkantoran. Permintaan diproyeksikan membaik secara perlahan, sementara pasokan tetap terkendali. Gedung dengan konsep ramah lingkungan dan efisiensi energi diperkirakan semakin diminati.

“Nah, kedepannya 2026 kami perkirakan menjadi fase rebound, walaupun memang reboundnya ini baru bergerak. Permintaannya membaik, pasokan tetap terkendali, dan kami perkirakan yang green building, gedung-gedung yang energi efisien yang dikeluarkan dengan baik akan jadi gedung-gedung yang akan diminati,” kata dia.

Secara umum, pasar perkantoran Jakarta belum memasuki fase euforia. Arah pemulihan dinilai semakin tegas dan pasar bergerak lebih sehat serta selektif.

Segmen penjualan gedung masih mencatat permintaan terbatas. Harga relatif stabil dan cenderung menunggu pemulihan pasar sewa sebagai pemicu lanjutan.

“Intinya, pasar kantor Jakarta memang belum eforia, tapi arahnya sudah jelas, semakin sehat dan makin selektif. Nah, ini pasar jual ya, permintaannya masih belum banyak,” ujarnya.

“Tapi harga jualnya stabil, karena memang kita masih menunggu gimana nanti pasar sewanya ke depan, kalau pasar sewanya sudah mulai membaik, ini biasanya akan mengikuti,” tegas Ferry.

Tag:  #pasar #perkantoran #diproyeksikan #rebound #pada #2026

KOMENTAR