Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Sepanjang 2025
Ilustrasi emas.(ANTARA FOTO/Khalis Surry)
10:44
7 Januari 2026

Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Sepanjang 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar di Indonesia sepanjang 2025.

BPS mencatat pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan atau month to month (mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, alasannya didorong oleh tren kenaikan harga emas di pasar internasional yang terus berlanjut hingga akhir tahun.

Sehingga, emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,79 persen sepanjang tahun lalu.

"Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025," ujarnya dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).

Ia mengatakan harga emas dunia terus berlanjut sampai akhir 2025.

Harga rata-rata emas 2025 sebesar 3.442 dollar AS per troy ounce. Angka itu naik dari 2.388 dollar AS per troy ounce pada 2024.

Pudji menjelaskan inflasi itu juga terjadi karena kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran.

Selain itu, komoditas lainnya yang memiliki andil besar terhadap inflasi tahunan pada 2025, lanjut dia, adalah cabai merah dengan andil 0,18 persen, diikuti oleh ikan segar, cabai rawit, dan beras yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,15 persen.

Komoditas lainnya yang turut menyumbang inflasi tahunan yang signifikan meliputi daging ayam ras dan tarif air minum PAM dengan andil masing-masing 0,14 persen, bawang merah sebesar 0,10 persen, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,06 persen.

Inflasi Sepanjang Tahun

BPS mengungkapkan, secara kumulatif hingga Desember 2025, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) maupun secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 2,92 persen.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada 2024.

Pudji menyatakan, dilihat dari kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dan memberikan andil inflasi terbesar yakni 1,33 persen.

"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras," katanya.

Ia menyampaikan, kelompok pengeluaran lain yang memberikan andil inflasi tahunan dominan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 13,33 persen dan andil 0,87 persen, yang didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.

Namun, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi secara tahunan sebesar 0,28 persen dengan andil deflasi 0,02 persen.

Sedangkan menurut komponen, Pudji mengatakan bahwa seluruh komponen mengalami inflasi, dengan inflasi tahunan tertinggi dialami oleh komponen harga bergejolak (volatile food) sebesar 6,21 persen dengan andil 1,01 persen.

Inflasi komponen tersebut dipicu oleh komoditas pangan, seperti cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.

Selanjutnya, ia menuturkan bahwa komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,38 persen dan memberikan andil inflasi terbesar mencapai 1,53 persen dengan komoditas penyumbang andil terbesar meliputi emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya akademi atau perguruan tinggi, dan kopi bubuk.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi tahunan sebesar 1,93 persen dengan andil 0,38 persen.

Tag:  #emas #perhiasan #jadi #penyumbang #inflasi #sepanjang #2025

KOMENTAR