Usai Penangkapan Maduro, Siapa Pengendali Industri Minyak Venezuela?
Pegawai kilang minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengikuti latihan mitigasi bencana dan serangan bersenjata di El Palito, Puerto Cabello, Negara Bagian Carabobo, 27 September 2025.(AFP)
19:40
6 Januari 2026

Usai Penangkapan Maduro, Siapa Pengendali Industri Minyak Venezuela?

- Operasi AS terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro membuat dunia kembali menyoroti salah satu industri minyak yang paling sarat dengan ketegangan politik di dunia.

Peristiwa ini sekaligus memaksa investor untuk menilai kembali siapa yang mengendalikan sumber daya minyak mentah negara itu dan apakah sumber daya tersebut dapat dihidupkan kembali secara signifikan setelah puluhan tahun mengalami penurunan.

Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow menjelaskan, saat ini perusahaan minyak milik negara Petróleos de Venezuela (PDVSA) mengendalikan sebagian besar produksi dan cadangan minyak.

Selain itu, perusahaan energi Amerika Serikat (AS), Chevron juga beroperasi di negara tersebut melalui produksi sendiri dan usaha patungan dengan PDVSA.

Di samping itu, perusahaan Rusia dan China juga berpartisipasi melalui kemitraan.

Adapun, kendali mayoritas industri minyak di Venezuela masih berada di tangan PDVSA.

Sebagai catatan, Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada tahun 1970-an yang menyebabkan terbentuknya PDVSA.

Data Lipow Oil Associates melaporkan, produksi minyak mencapai puncaknya sekitar 3,5 juta barrel per hari pada 1997, tetapi sejak itu anjlok menjadi sekitar 950.000 barrel per hari, dengan sekitar 550.000 barrel per hari diekspor.

Kepala Riset Energi di MST Financial Saul Kavonic menjelaskan, ketika pemerintahan yang lebih pro-AS dan pro-investasi terbentuk, Chevron akan berada di posisi terbaik untuk memperluas perannya di negara tersebut.

Perusahaan-perusahaan Eropa seperti Repsol dan Eni juga bisa mendapat manfaat, mengingat posisi mereka saat ini di Venezuela.

Perubahan Rezim Bisa Ganggu Rantai Perdagangan

Para ahli industri memperingatkan bahwa perubahan rezim apa pun dapat mengganggu rantai perdagangan yang menjaga kelancaran pasokan minyak Venezuela.

"Karena saat ini belum jelas siapa yang berkuasa di Venezuela, kita mungkin akan melihat ekspor terhenti sepenuhnya karena para pembeli tidak tahu kepada siapa harus mengirim uang," kata Lipow dikutip dari CNBC, Selasa (6/1/2025).

Ia menambahkan bahwa sanksi terbaru AS terhadap armada tanker bayangan telah sangat memengaruhi ekspor dan memaksa Venezuela untuk mengurangi produksi.

Armada bayangan merujuk pada kapal tanker yang beroperasi di luar sistem pelayaran, asuransi, dan regulasi tradisional untuk mengangkut minyak mentah dari negara-negara yang dikenai sanksi.

Kapal-kapal ini umumnya digunakan untuk mengangkut minyak dari negara-negara seperti Venezuela, Rusia, dan Iran, yang menghadapi pembatasan ekspor energi oleh AS.

Perwakilan dari Rapidan Energy Group Bob McNally menjelaskan, pentingnya Venezuela dalam jangka panjang terletak pada jenis minyak yang diproduksinya.

Minyak mentah berat dan asam dari negara itu sulit diekstraksi, tetapi sangat dihargai oleh kilang-kilang kompleks, terutama di AS.

"Kilang-kilang Amerika... sangat suka menyedot minyak kental dari Venezuela dan Kanada," ucap McNally.

"Permasalahan sebenarnya adalah, apakah industri minyak mampu kembali ke Venezuela dan membalikkan kerusakan dan pengabaian selama dua dekade serta membangkitkannya kembali?" kata dia.

Tag:  #usai #penangkapan #maduro #siapa #pengendali #industri #minyak #venezuela

KOMENTAR