Sawit Menuju 2026: Produksi Naik, Pasar Domestik Kian Menentukan
— Industri kelapa sawit Indonesia diproyeksikan memasuki fase baru pada 2026, ketika pertumbuhan tidak lagi bertumpu pada ekspansi lahan, melainkan pada produktivitas, tata kelola, dan penguatan pasar domestik. Gambaran tersebut tertuang dalam laporan Outlook Sawit Indonesia 2026 yang dirilis Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS).
Dalam laporan riset yang diumumkan di Jakarta, 5 Januari 2025, IPOSS memetakan bahwa sawit tetap memegang peran penting bagi perekonomian nasional, mulai dari sumber devisa, penggerak ekonomi daerah, hingga penopang ketahanan energi melalui program biodiesel. Namun, arah pengelolaan industri dinilai perlu bertransformasi seiring tekanan kebijakan dan dinamika pasar global.
Dari sisi produksi, IPOSS memproyeksikan output sawit Indonesia tumbuh moderat hingga sekitar 49,8 juta ton pada 2026. Kenaikan ini ditopang oleh pemulihan fase produksi tanaman serta perbaikan kondisi iklim. Di tingkat global, pasokan minyak sawit mentah atau CPO masih terkonsentrasi di Indonesia dan Malaysia, sehingga kinerja kedua negara menjadi faktor penentu stabilitas harga minyak nabati dunia.
Penguatan konsumsi domestik menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Implementasi mandatori biodiesel B40, serta potensi penguatan menuju B50, diperkirakan akan meningkatkan serapan CPO di dalam negeri secara signifikan. Kondisi ini dinilai akan mengubah struktur pasar sawit nasional, dengan konsekuensi ruang ekspor yang lebih terbatas.
Meski demikian, IPOSS menilai peningkatan konsumsi domestik berperan dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan energi nasional. Permintaan dalam negeri yang menguat diperkirakan akan menahan harga CPO global tetap berada pada level relatif tinggi sepanjang 2026, meskipun tetap dipengaruhi oleh dinamika produksi global dan kebijakan perdagangan negara mitra.
Ketua Pengurus IPOSS Nanang Hendarsah mengatakan, laporan Outlook Sawit Indonesia 2026 disusun untuk memberikan arah strategis alternatif bagi pengelolaan industri sawit di tengah perubahan kebijakan, pasar, dan tata kelola global.
“IPOSS menyusun Outlook Sawit 2026 untuk memetakan risiko dan pilihan kebijakan yang perlu diambil agar industri sawit Indonesia tetap berdaya saing dan berkelanjutan,” ujar Nanang dalam pernyataan resminya di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Menurut Nanang, laporan tersebut juga menjadi dasar untuk mendorong perbaikan tata kelola, peningkatan produktivitas, serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan kepentingan ekspor.
IPOSS merekomendasikan percepatan peremajaan kebun rakyat, penguatan kepastian legalitas, serta integrasi tata kelola industri sawit.
Selain itu, IPOSS menekankan pentingnya penyelarasan kebijakan energi dan perdagangan agar penguatan pasar domestik tidak menggerus daya saing ekspor.
Pengembangan hilirisasi dan pemanfaatan sawit secara berkelanjutan juga dinilai krusial untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional.
“Ke depan, pengelolaan industri sawit tidak bisa lagi berjalan secara business as usual. Transformasi berbasis produktivitas, tata kelola yang kuat, dan keberlanjutan menjadi kunci agar sawit Indonesia tetap menjadi pemain utama minyak nabati dunia,” kata Nanang.
Tag: #sawit #menuju #2026 #produksi #naik #pasar #domestik #kian #menentukan