HKI: Tata Ruang Masih Jadi Penghambat Utama Pengembangan Kawasan Industri
Ketua Umum HKI, H. Akhmad Ma’ruf Maulana, minta pemerintah percepat harmonisasi regulasi dan perizinan (KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/HKI)
14:44
2 Januari 2026

HKI: Tata Ruang Masih Jadi Penghambat Utama Pengembangan Kawasan Industri

- Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai persoalan tata ruang masih menjadi hambatan paling dominan dalam pengembangan kawasan industri nasional, termasuk kawasan yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN).

Ketidaksinkronan regulasi dan lambatnya penerbitan perizinan dasar dinilai menahan laju investasi, meskipun minat investor global terus meningkat.

Ketua Umum HKI  Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan persoalan tata ruang harus menjadi prioritas lintas kementerian pada 2026.

Menurutnya, banyak kawasan industri masih terhambat oleh belum terbitnya Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) maupun Rencana Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (RKKPR), meskipun regulasi sebenarnya telah mengamanatkan adanya percepatan.

“Tata ruang adalah urat nadi kawasan industri. Selama perizinan dasar belum sinkron, percepatan investasi akan selalu tertahan. Ini harus menjadi fokus penyelesaian lintas kementerian di 2026,” ujar Ma’ruf lewat keterangan pers, Jumat (2/1/2025).

Selain tata ruang, tantangan lain juga datang dari keterbatasan utilitas dan infrastruktur dasar.

Ketersediaan listrik serta pasokan gas industri dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Sejumlah kawasan industri dinilai masih menghadapi kendala akses logistik yang berdampak pada tingginya biaya produksi dan rendahnya efisiensi distribusi.

Meski demikian, HKI mencatat 2025 menjadi fase penting transformasi kawasan industri nasional.

Digitalisasi dan agenda hijau mulai berjalan melalui penerapan digital estate, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pemantauan kawasan, serta integrasi sistem perizinan berbasis OSS-RBA, yang dinilai memperbaiki tata kelola dan transparansi.

Sepanjang 2025, HKI aktif mendorong berbagai inisiatif strategis, antara lain pembentukan Satuan Tugas Percepatan PSN dan Kawasan Industri Prioritas RPJMN, perluasan fasilitas Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK), serta pengawalan penyelesaian hambatan lintas kementerian di lapangan.

Di tingkat global, HKI membuka jalur kerja sama dengan mitra internasional dari Jepang, Rusia, Tiongkok, hingga Singapura untuk memastikan kawasan industri Indonesia terintegrasi dalam rantai pasok global yang terus berkembang.

Memasuki 2026, HKI menyampaikan optimisme yang terukur.

Pergeseran rantai pasok global, relokasi industri dari Asia Timur, serta meningkatnya permintaan pada sektor manufaktur berteknologi tinggi membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat arus investasi.

“Jika hambatan tata ruang dan utilitas bisa dituntaskan, 2026 dapat menjadi tahun percepatan investasi. Kawasan industri berpotensi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi menuju target 8 persen,” paparnya.

Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mampu mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi menuju visi Indonesia Emas.

“Disamping itu kami optimis bahwa di bawah komando presiden Prabowo Subianto Indonesia pasti bisa mengejar pertumbuhan ekonomi untuk menyongsong Indonesia Emas,” lanjut Ma’ruf.

Refleksi sepanjang 2025 menunjukkan bahwa perjalanan pengembangan kawasan industri bukan proses singkat.

Menurutnya, dibutuhkan keselarasan kebijakan, ketegasan implementasi, serta kolaborasi antara pemerintah, pengembang kawasan, dan investor internasional agar potensi tersebut dapat terealisasi.

Menutup tahun 2025, ia melihat dinamika kawasan industri sebagai cerminan ekonomi Indonesia yang terus bergerak, beradaptasi, dan menata ulang strategi.

Tahun ini dinilai bukan semata soal capaian, tetapi juga tentang ketahanan dan pembelajaran menghadapi kompetisi yang semakin ketat.

“Tahun ini menunjukkan bahwa kawasan industri bukan lagi sekadar lokasi pabrik. Kawasan industri telah menjadi ekosistem masa depan, tempat teknologi, logistik, energi, dan talenta bertemu. Tahun 2025 adalah fase konsolidasi dan fondasi untuk melangkah lebih cepat di 2026,” ujar Ma’ruf.

Tag:  #tata #ruang #masih #jadi #penghambat #utama #pengembangan #kawasan #industri

KOMENTAR