Investor Ritel Kuasai Separuh Transaksi Saham, Didominasi Milenial dan Gen Z
Pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) dilakukan oleh Direktur Utama BEI Iman Rachman, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Ketua Dewan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, dan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, dan sejumlah pejabat terkait di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2026).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAY
10:24
2 Januari 2026

Investor Ritel Kuasai Separuh Transaksi Saham, Didominasi Milenial dan Gen Z

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti lonjakan signifikan peran investor ritel di pasar modal Indonesia yang kini telah menguasai 50 persen dari total transaksi saham.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang besar sekaligus tantangan serius, terutama dalam menjaga integritas pasar dan melindungi investor dari praktik transaksi tidak wajar atau saham gorengan.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, saat pembukaan perdagangan bursa efek 2026, Jumat (2/1/2026).

Ilustrasi investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investasi.

Ia menyebut porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir.

Angka tersebut tergolong besar dibandingkan dengan banyak negara lain yang pasar modalnya masih didominasi investor institusional, baik domestik maupun asing.

“Porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38 persen di akhir tahun 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir. Dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institusional, dalam maupun luar negeri,” ujar Mahendra.

Seiring dengan dominasi investor ritel, Mahendra mencatat penting untuk meningkatkan penguatan aspek pelindungan, termasuk melindungi investor ritel dari praktik “goreng-menggoreng” saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya.

“Seiring itu, penguatan literasi dan edukasi yang lebih masif, targeted, dan berkualitas menjadi sangat krusial untuk memastikan partisipasi investor ritel yang sehat dan berkelanjutan,” paparnya.”

Lebih dari 70 persen investor ritel Indonesia berasal dari Generasi Milenial dan Generasi Z (GenZ). Oleh karena itu, pasar saham diharapkan tidak dipandang semata sebagai sarana transaksi harian untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 di Surabaya, Senin (3/11/2025).KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 di Surabaya, Senin (3/11/2025).

“Sehingga investor retail kita yang lebih 70 persen diantaranya adalah milenial dan Gen Z tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek, justru menjadikannya salah satu sumber pendanaan untuk jangka menengah dan panjang dalam meningkatkan kesejahteraan keuangan mereka,” bebernya.

Menurutnya, potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia masih sangat besar.

Namun, realisasi potensi itu menuntut perbaikan ekosistem secara berkelanjutan, terutama pada aspek integritas pasar sebagai fondasi terciptanya pasar modal yang berfungsi dengan baik dan efisien (a well-functioning and efficient capital market).

Lebih jauh, Mahendra juga menyinggung kinerja pasar modal yang secara umum sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejumlah indikator menunjukkan capaian positif sepanjang 2025, sebagaimana telah disampaikan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan akhir tahun, 30 Desember 2025 lalu.

Pada akhir 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94, menguat 22,13 persen sepanjang tahun. Kendati demikian, Mahendra menilai masih terdapat ruang perbaikan yang cukup besar.

Ia mencontohkan kinerja indeks LQ45, yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar dan menjadi rujukan investor institusional global maupun domestik, hanya tumbuh 2,41 persen, jauh tertinggal dibandingkan kenaikan IHSG.

Selain itu, kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia memang melonjak signifikan, dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025.

Meski demikian, angka tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

“India kontribusi pasar sahamnya sudah mencapai 140 persen dari PDB, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen. Artinya, ruang pengembangan pasar modal Indonesia masih sangat besar,” ucap Mahendra.

Ke depan, OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat perlindungan investor, meningkatkan kualitas edukasi, serta menjaga integritas pasar, agar pertumbuhan pasar modal Indonesia tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan berkelanjutan.

Tag:  #investor #ritel #kuasai #separuh #transaksi #saham #didominasi #milenial

KOMENTAR