



Gibran Berkali-kali Sebut Ketersediaan Pupuk Kunci Produktivitas Pangan, Contohkan Pabrik di Fakfak, Guru Besar Unila Ungkap Fakta Lain
– Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 Gibran Rakabuming Raka menyebut ketersediaan pupuk merupakan kunci meningkatkan produktivitas pangan. Hal itu dia sampaikan berkali-kali dalam beberapa sesi debat yang digelar Minggu (21/1) lalu.
Misalnya saat menanggapi jawaban dari Muhaimin Iskandar yang ditanya mengenai strategi paslon untuk menghadapi dampak perubahan iklim terhadap produksi dan kualitas gizi pangan.
Terhadap pertanyaan ini, Cawapres nomor urut 01 itu memberikan jawaban soal pengadaan lahan yang memadai, reforma agraria, pemberian pupuk yang cukup dengan harga terjangkau, serta membuat program perlindungan gagal tanam/gagal panen. Cak Imin, sapaan Muhaimin, juga menyebut perlunya pengembangan irigasi serta subsidi pupuk.
"Kualitas pangan kita bergantung juga kemampuan kita memfasilitasi agar petani kita lebih produktif lagi. Dengan cara ini, desa-desa kita libatkan untuk menjadi bagian dari satu kesatuan pengadaan pangan berkualitas, sekaligus kita hentikan ketergantungan dari produksi di luar kita," kata Ketua Umum PKB itu.
Menanggapi jawaban Cak Imin, Gibran menyampaikan bahwa kunci peningkatan produktivitas pangan adalah dengan ekstensifikasi dan intensifikasi lahan pertanian. Namun, putra sulung Presiden Joko Widodo dan Iriana Jokowi itu tidak menjelaskan lebih jauh mengenai strategi ini. Lalu, dia menyinggung tentang pentingnya ketersediaan pupuk.
"Kemarin, tahun lalu kita sudah bangun pabrik pupuk di Fakfak. Kuncinya untuk meningkatkan produktivitas ya kita harus genjot kawasan industri pupuk. Kita dekatkan pupuknya dengan lahan-lahan pertaniannya," katanya.
"Kuncinya pupuk, dan pupuk harus didekatkan dengan lahan-lahan pertanian. Otomatis produktivitas akan meningkat," jelas Wali Kota Surakarta ini. Lebih lanjut, Gibran juga menyebut soal mekanisasi serta pelibatan generasi muda melalui smart farming.
Kemudian pada sesi interaktif dengan Mahfud MD, Gibran ditanya oleh Cawapres nomor urut 03 itu tentang bagaimana menyelesaikan masalah impor pangan. Lagi-lagi, Gibran menjawab kuncinya adalah melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi lahan, baik di tingkat desa maupun nasional secara efektif.
"Pupuk. Pupuk itu kunci. Makanya kemarin ada pabrik pupuk di Fakfak. Ini kunci untuk meningkatkan produktivitas. Lalu mekanisasi. Kalau tidak ada mekanisasi produktivitasnya tidak akan meningkat," ucap Gibran.
Alokasi pupuk bersubsidi di Kabupaten Mojokerto turun drastis. (Radar Mojokerto)
Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian, Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin punya pandangan lain dari Gibran. Menurutnya, kunci dari peningkatan produksi pertanian adalah Good Agricultural Practices (GAP) dan perubahan teknologi.
"Pupuk hanyalah satu elemen. Pemupukan mungkin jauh lebih penting dari pupuk itu sendiri," kata Bustanul dihubungi JawaPos.com, Kamis (25/1).
Alumnus IPB itu mengatakan, memperlakukan tanah, menjaga dan menyehatkan tanan, bahkan dapat berkontribusi bagi keberlanjutan pembangunan pertanian. Jika kondisi tanah sudah kelelahan seperti sekarang (ada gejala land fatigue), lanjut Bustanul, maka pemupukan dengan pupuk organik, pupuk hayati, pembenahan tanah (ameliorasi) dan lain-lain adalah tindakan wajib yang perlu segera dilakukan.
"Kebanyakan pupuk kimia akan mengurangi ketersediaan bahan organik di dalam tanah. Akibatnya, jika kekeringan sedikit saja, tanah pertanian menjadi kerontang, mudah pecah, dan pasti mengurangi produktivitas," sambung Ketua Umum PP Perhepi tersebut.
Bustanul juga khawatir, memanjakan petani dengan pupuk kimia murah bersubsidi akan berdampak buruk pada banyak hal. "Kecuali, mungkin untuk populisme politik," imbuhnya.
Adapun yang dibutuhkan petani sebenarnya adalah pendampingan, bimbingan teknis, fasilitasi akses teknologi, akses pasar, akses pembiayaan, akses pengetahuan, dan lain-lain.
Sementara itu terkait teknologi, Bustanul menjelaskan bahwa dalam menghadapi iklim yang tidak menentu seperti sekarang, penggunaan varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim menjadi amat krusial.
Para peneliti sejauh ini telah menghasilkan banyak varietas unggul yang adaptif tersebut. PR-nya adalah bagaimana varietas sejenis Inpari (Inbrida padi irigasi) 41, 42, dan 43 bisa segera diadopsi oleh petani.
Menurut Bustanul, suatu invensi teknologi baru yang dihasilkan para peneliti di kampus dan Litbang harus diperkenalkan atau didiseminasikan kepada petani dan masyarakat luas. Inilah esensi dari suatu inovasi.
"Invensi yang belum diadopsi masyarakat atau belum dikomersialisasi, namanya bukan inovasi," pungkas Bustanul.
Tag: #gibran #berkali #kali #sebut #ketersediaan #pupuk #kunci #produktivitas #pangan #contohkan #pabrik #fakfak #guru #besar #unila #ungkap #fakta #lain