Senja di Pemecah Ombak Baru Pantai Glagah Kulon Progo, Seperti di Bali
Suasana sore di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).(KOMPAS.com/DANI JULIUS ZEBUA)
09:14
18 April 2026

Senja di Pemecah Ombak Baru Pantai Glagah Kulon Progo, Seperti di Bali

— Angin berembus cukup kencang, membawa embun laut yang terasa lengket di kulit.

Angin juga seolah menyapu hamparan pasir abu-abu keemasan di kawasan pemecah ombak baru Pantai Glagah, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sore itu, langit perlahan berubah warna. Biru terang di siang hari bergeser menjadi jingga lembut, lalu lembayung yang menggantung tepat di atas garis cakrawala.

Baca juga: Desa Wisata Segajih di Kulon Progo: Alam, Budaya, dan Healing yang Autentik

Ombak datang berulang, menghantam pemecah ombak, menciptakan irama konstan—nyaris seperti latar musik alami yang tak pernah berhenti.

Di atas pasir, orang-orang duduk santai. Sebagian tenggelam dalam obrolan, sebagian lain sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel, sementara yang lain menikmati panorama laut dari antara susunan batu-batu raksasa berkaki empat sebagai pemecah ombak.

Tak jauh dari situ, payung-payung putih berjumbai berdiri berderet. Di sekelilingnya, penjor-penjor kain (umbul-umbul) melingkari area nongkrong yang dipenuhi kursi bambu dan bean bag menghadap laut.

Semua hal yang berkibar kencang ditiup angin, dengan tulisan “de-Cafa, Iron Beach” tampak pada beberapa bagian area.

Dari kejauhan, lanskap ini kerap mengingatkan pengunjung pada pantai tropis yang berseliweran di media sosial, oleh sebagian orang disebut memiliki “rasa Bali”.

Baca juga: Pemandangan Langka, Indahnya Lembayung Senja di Persawahan Nanggulan, Kulon Progo

Entah karena deretan payung putihnya, atau karena cahaya senja yang jatuh tepat di sudut-sudut fotogenik tersebut.

Viral dan bikin orang-orang penasaran

Tempat ini tumbuh dari dunia yang sama: dunia yang membuat orang datang karena sebuah gambar.

Salah satunya adalah Dea Rista (21), warga Temon. Ia datang sepulang kerja, didorong rasa penasaran setelah berulang kali melihatnya di layar ponsel.

“Awalnya lihat di TikTok, katanya bagus buat foto. Ternyata memang unik. Jadi betah,” ujar dia.

Suasana sore di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).KOMPAS.com/DANI JULIUS ZEBUA Suasana sore di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).

Untuk menikmati suasana, pengunjung juga dapat memesan makanan di area seberang jalan yang menggunakan bangunan kontainer sebagai dapur sekaligus tempat pemesanan.

Menu yang ditawarkan beragam, mulai dari kopi dan minuman segar, camilan seperti cireng dan kentang goreng, hingga makanan berat seperti kwetiau dan bakmi.

Dea Rista datang lalu memesan makanan untuk menemani sore harinya. Camilannya dirasa pas,  cukup menemani waktu yang berjalan pelan, meski sempat merasakan antrean mengular.

Baca juga: Caving Sumitro, Petualangan Bawah Tanah 1,5 Jam di Goa Kiskendo Kulon Progo

Dea sendiri mengaku sempat menunggu cukup lama sebelum akhirnya bisa kembali ke area duduk dan menikmati langit yang mulai berubah warna.

“Begitu lihat view-nya, terbayar,” katanya singkat sambil sesekali mengarahkan kamera ke arah matahari yang hampir tenggelam.

Romantisnya malam di pesisir selatan Kulon Progo

Di sisi lain, anak-anak bermain di ayunan tali yang digantung pada kayu gelondongan. Tawa mereka terdengar sesekali, terbawa angin.

Sementara itu, kelompok pengunjung lain duduk berderet, berbincang ringan sambil tertawa, menikmati suasana yang perlahan bergeser menjadi malam.

Menjelang malam, suasana berubah. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, menciptakan kehangatan di tengah gelap yang turun perlahan. Musik dari panggung kecil mengisi ruang, bercampur dengan suara ombak yang semakin dominan.

Suasana Malam di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).KOMPAS.com/DANI JULIUS ZEBUA Suasana Malam di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).

Bagi Dias (25), warga Kapanewon Kokap, suasana malam justru menjadi alasan untuk bertahan lebih lama.

“Kalau malam lebih enak,” ujarnya. “Lampunya bikin suasana jadi beda.”

Namun, di balik pesona yang lahir dari viralitas, tempat ini belum sepenuhnya sempurna. Di beberapa sudut, sampah masih terlihat, terselip di antara kursi atau terbawa angin ke tepi area duduk.

Hal kecil yang cukup mengganggu momen, terutama bagi pengunjung yang datang untuk mencari ketenangan.

Baca juga: Pemkab Kulon Progo Kenalkan Candi Borobudur Lewat Festival Arung Jeram

“Jadi agak kurang nyaman kalau lagi makan,” kata Dias.

Keterbatasan tempat duduk juga terasa saat pengunjung membeludak. Kursi bambu yang tersusun rapat menciptakan suasana hangat, namun sekaligus padat.

Baru sekitar dua minggu beroperasi

Tempat ini sendiri masih sangat baru, baru sekitar dua minggu beroperasi. Nama “de Cafa” tertera pada penjor, panggung, hingga bangunan kontainer yang menjadi pusat aktivitas kuliner.

Manajer de Cafa, Willy Octavino Rossi, menyebut kawasan ini dirancang sebagai ruang jeda bagi pengunjung.

“Kami ingin menghadirkan tempat untuk refreshing, bukan sekadar spot foto,” ujarnya.

Suasana sore di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).KOMPAS.com/DANI JULIUS ZEBUA Suasana sore di De Cafa, Tempat Nongkrong di Pantai Glagah Kulon Progo (17/4/2026).

Ia mengakui masih banyak hal yang perlu dibenahi, namun antusiasme pengunjung menjadi tanda bahwa ada kebutuhan akan ruang sederhana di tepi laut untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Operasional tempat ini dimulai pukul 15.00 hingga 20.00 WIB. Pengunjung masih diperbolehkan menikmati suasana hingga sekitar pukul 21.00, bahkan sebagian bertahan lebih lama untuk merasakan malam di tepi pantai.

Untuk memasuki kawasan ini, pengunjung terlebih dahulu melewati pintu retribusi Pantai Glagah dengan tiket Rp 10.000 per orang.

Baca juga: Lari Sambil Wisata di Pantai Glagah Kulon Progo, Lewati Aspal, Pasir, hingga Hutan Cemara

Dari sana, perjalanan berlanjut menyusuri jalan aspal pesisir yang membentang di tepi pantai. Di sepanjang jalur menuju pemecah ombak baru, kafe-kafe mulai bermunculan di antara vegetasi pandan laut dan cemara, sebagian besar dipenuhi pengunjung yang berburu senja.

Tidak seperti kafe-kafe yang seolah berebut mendapatkan potongan suasana pantai, de Cafa berdiri sedikit terpisah pada hamparan pantai terbuka tanpa banyak vegetasi, menghadirkan pandangan laut yang bebas tanpa halangan.

Di sini ada parkir tersedia dengan tarif sekitar Rp 3.000 untuk motor hingga Rp 20.000 untuk bus besar.

Daya tarik kawasan ini juga terlihat dari beragamnya pelat nomor kendaraan yang datang, tentu paling banyak dari Yogyakarta dan sekitarnya, tapi juga  ada Tangerang, Bandung, hingga Jawa Timur—menandakan potensi Pantai Glagah sebagai destinasi masih memiliki banyak potensi di pesisir selatan.

Baca juga: Nglarak Blarak, Tradisi Unik Kulon Progo yang Tetap Bertahan

Pantai Glagah sendiri berjarak sekitar 15 kilometer dari Alun-alun Wates atau sekitar 25 menit perjalanan. Dari kawasan Malioboro, jaraknya sekitar 45 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan darat.

Menjelang malam, suara ombak semakin dominan di sela musik yang mengalun. Sebagian pengunjung memilih bertahan lebih lama, sekadar menikmati angin laut dan suasana santai sebelum kembali ke rutinitas.

Di tempat ini, senja bukan sekadar pemandangan yang ditunggu, tetapi jeda singkat yang dicari.

Tag:  #senja #pemecah #ombak #baru #pantai #glagah #kulon #progo #seperti #bali

KOMENTAR