Viral Orang Indonesia Diduga Palsukan Riset di Konferensi Internasional, Tuai Hujatan
Ilustrasi pemalsuan riset. (Pixabay/ Geralt)
15:32
26 Mei 2026

Viral Orang Indonesia Diduga Palsukan Riset di Konferensi Internasional, Tuai Hujatan

Sebuah utas mengenai kejanggalan karya ilmiah viral di media sosial. Sejumlah orang Indonesia diduga memalsukan riset di konferensi internasional sehingga menuai hujatan publik.

Kehebohan bermula dari postingan akun Threads milik Ida Bagus Mandhara Brasika @mandharabrasika.

"Merusak nama Indonesia di mata dunia. Skandal pemalsuan di konferensi internasional. Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia diseluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis @mandharabrasika.

Para periset yang tertuduh yaitu Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti.

Postingan @mandharabrasika diunggah ulang oleh akun Ardianto Satriawan (@ardisatriawan) sehingga viral di X.

Unggahan viral setelah memperoleh 7.300 Retweet dan ratusan komentar dari netizen.

Viral dugaan skandar pemalsuan riset internasional oleh orang Indonesia. (Threads)Viral dugaan skandar pemalsuan riset internasional oleh orang Indonesia. (Threads)

Skandal ini bukan sekadar masalah akademis biasa, melainkan sebuah aksi manipulasi identitas yang terorganisir.

Dalam unggahannya, Mandhara menyebutkan bahwa pelaku melakukan pemalsuan identitas selama presentasi berlangsung

Modusnya tergolong berani sekaligus janggal. Oknum tersebut diduga berganti-ganti nama identitas hanya dengan bermodalkan perubahan jilbab dan nametag agar terlihat sebagai orang yang berbeda di hadapan ribuan ilmuwan internasional.

Kecurigaan semakin menguat ketika materi penelitian yang dipresentasikan mulai dibedah.

Data riset yang mencakup lokasi dari Peruvian Andes hingga dataran tinggi Ethiopia tersebut diduga kuat merupakan hasil fabrikasi total.

"Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisan juga," ungkap Mandhara.

Keanehan lain muncul karena riset global tersebut tidak melibatkan kolaborator lokal maupun izin etik yang jelas, namun semua perisetnya tercatat berasal dari Indonesia.

Bahkan, lembaga yang dicatut seperti AI-BioMedicine Research Group terdeteksi sebagai institusi fiktif.

"Lokasi riset tidak masuk akal: Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India utara. Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik. Bahkan afiliasinya: Al-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia tidak ditemukan," tulis Mandhara.

Motif di balik aksi nekat ini diduga kuat adalah demi mendapatkan Travel Grant.

Itu adalah bantuan biaya perjalanan ke luar negeri yang diberikan oleh penyelenggara konferensi kepada peneliti yang abstrak penelitiannya terpilih.

Publik turut penasaran mengapa abstrak penelitian terduga pelaku bisa lolos di konferensi bergengsi.

Akun @ardisatriawan berpendapat bahwa panitia hanya memilih abstrak dengan metode Blind Review.

"Kenapa bisa lolos? Saya highlight 3 alasan. Karena yang disubmit buat diseleksi itu HANYA ABSTRAK. Ya paling 200-300 kata aja. Bukan riset keseluruhannya. Karena BLIND REVIEW. Jadi reviewer Gak tau siapa yang nulis abstrak ini. Semuanya. Tidak ada nama-nama dan instansi. Niatnya biar OBJEKTIF. Dan mereka juga asumsi peniliti yang submit itu semuanya punya INTEGRITAS. Tapi juga jadi loophole ternyata. Ya karena paper tim ini abstraknya WAH banget, datanya dari mancanegara dan pakai metode terbaru yang WAH. Jadi terlihat outstanding dibanding abstrak lain," cuit @ardisatriawan.

Postingan viral mengenai orang Indonesia yang diduga memalsukan riset menuai beragam komentar.

"Ini mah mimpiku pas demam. Jalan-jalan keluar negeri sambil dianggap pintar," tulis @re**p**rlily.

"Kalau terbukti bener-bener keterlaluan. Bayangkan gimana efeknya sama periset lain yang jujur pasti bakalan dicurigai," pendapat @b**an_o*dal.

"Bukan konferensinya yang abal. Blind review memang by design gak bisa cek identitas — niatnya objektif. Yang dieksploitasi justru celah kepercayaan itu," tambah @g**i*ya.

Editor: Cesar Uji Tawakal

Tag:  #viral #orang #indonesia #diduga #palsukan #riset #konferensi #internasional #tuai #hujatan

KOMENTAR