Paus Leo XIV Kritik AI untuk Perang dan Profit, Silicon Valley Bereaksi
Paus Leo XIV menolak ajakan Presiden AS Donald Trump bergabung dengan Dewan Perdamaian.(Instagram/pontifex)
11:36
26 Mei 2026

Paus Leo XIV Kritik AI untuk Perang dan Profit, Silicon Valley Bereaksi

- Paus Leo XIV menyampaikan bahwa kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) menjadi tantangan terbesar umat manusia saat ini.

Pemimpin tertinggi umat Katolik itu juga menyerukan regulasi ketat terhadap AI, serta meminta pengembang AI memprioritaskan kepentingan manusia, bukan sekadar keuntungan bisnis.

Hal itu disampaikan lewat dokumen resmi Vatikan bertajuk “Magnifica Humanitas” atau “Magnificent Humanity” yang dirilis resmi pada Senin (25/5/2026) waktu setempat.

Ini sekaligus menjadi ensiklik pertama Pope Leo XIV sejak terpilih memimpin Gereja Katolik. Berbeda dari pidato atau pernyataan biasa Paus, ensiklik merupakan salah satu dokumen resmi paling penting dan paling tinggi tingkatnya dalam Gereja Katolik. 

Baca juga: Paus Leo XIV Khawatir AI Bisa Bikin Manusia Kehilangan Pekerjaan

Dokumen seperti ini biasanya panjang, mendalam, dan disusun selama berbulan-bulan dengan melibatkan Paus sendiri serta banyak pakar, akademisi, hingga penasihat Vatikan.

Isi ensilik ini biasanya menyampaikan pandangan, ajaran, atau sikap resmi Gereja terhadap isu besar yang dianggap penting bagi dunia.

Karena ditulis langsung oleh pemimpin Gereja Katolik dengan sekitar 1,4 miliar umat di dunia, isi ensiklik biasanya punya pengaruh besar, bukan cuma di ranah religius, tetapi juga politik, sosial, ekonomi, hingga teknologi.

Pope Leo XIV resmi merilis ensiklik pertama bertajuk ?Magnifica Humanitas? atau ?Magnificent Humanity? di Vatikan, pada Senin (25/5/2026) waktu setempat.AP/Alessandra Tarantino Pope Leo XIV resmi merilis ensiklik pertama bertajuk ?Magnifica Humanitas? atau ?Magnificent Humanity? di Vatikan, pada Senin (25/5/2026) waktu setempat.

Nah dalam dokumen Magnificent Humanity, Paus Leo XIV menyebut AI sebagai salah satu tantangan terbesar bagi umat manusia saat ini. Ia menilai perkembangan AI tidak boleh hanya dikendalikan kepentingan bisnis dan perlombaan kekuasaan antarkorporasi teknologi.

Paus Leo XIV bahkan secara tegas meminta adanya pengawasan independen, kerangka hukum yang kuat, serta keterlibatan politik yang lebih aktif dalam mengatur perkembangan AI.

“Tidak cukup hanya berbicara soal etika secara abstrak. Dibutuhkan kerangka hukum yang kuat, pengawasan independen, pengguna yang teredukasi, serta sistem politik yang tidak lepas tangan dari tanggung jawab,” tulis Pope Leo XIV dalam dokumen tersebut.

Baca juga: Paus Leo XIV Khawatir Dampak AI pada Kehidupan Manusia

Ia juga menyoroti bagaimana AI kini mulai dipakai untuk kepentingan perang hingga sistem senjata otomatis. Menurut Paus pertama yang lahir di Amerika Utara ini, keputusan mematikan dan tidak dapat dibatalkan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sistem AI.

“AI sekarang perlu dilucuti dari logika yang menjadikannya alat dominasi, eksklusi, dan kematian,” kata Paus Leo XIV saat peluncuran dokumen tersebut di Vatikan.

Bos teknologi dekati Vatikan

Paus Leo XIV dan Pastor Eric Salobir bertemu dengan perwakilan Meta, Google, dan Amazon di Vatikan.via Politico Paus Leo XIV dan Pastor Eric Salobir bertemu dengan perwakilan Meta, Google, dan Amazon di Vatikan.

Yang menariknya, di tengah kritik keras terhadap AI, sejumlah perusahaan teknologi besar justru ramai-ramai mendekati Vatikan dalam beberapa bulan terakhir.

Laporan Politico menyebut perwakilan dari Meta, Google, Amazon, hingga OpenAI aktif berdialog dengan pejabat Gereja Katolik menjelang perilisan ensiklik tersebut.

Mereka disebut mencoba meyakinkan Vatikan bahwa AI bisa dikembangkan secara bertanggung jawab dan tetap berpihak pada manusia.

Salah satu pertemuan bahkan digelar di Kedutaan Besar Prancis untuk Vatikan pada April lalu. Diskusi tersebut dihadiri perwakilan Meta, Google, Amazon, hingga pejabat Vatikan yang membahas dampak AI terhadap anak-anak, kehidupan sosial, dan masa depan manusia.

Baca juga: Paus Leo XIV Bikin Akun Instagram dan Twitter, Ini Namanya

Selain itu, co-founder perusahaan AI Anthropic, Christopher Olah, juga hadir langsung dalam acara peluncuran ensiklik Paus Leo XIV di Vatikan.

Dalam acara peluncuran ensiklik tersebut, Olah dilaporkan berterima kasih kepada Paus Leo XIV karena berani menyoroti dampak dan risiko AI secara terbuka.

Menurut Olah, perusahaan AI seperti Anthropic memang menghadapi tekanan bisnis yang besar sehingga tetap membutuhkan pengawasan dari luar.

“Setiap laboratorium frontier AI, termasuk Anthropic, beroperasi di bawah tekanan dan insentif bisnis yang terkadang bisa bertentangan dengan melakukan hal yang benar,” kata Olah.

Anthropic sendiri merupakan perusahaan pengembang chatbot AI Claude yang saat ini menjadi salah satu pesaing utama ChatGPT milik OpenAI. 

Perusahaan yang didirikan pada 2021 oleh duo saudara Dario Amodei dan Daniela Amodei juga dikenal fokus pada pengembangan AI dengan pendekatan keamanan dan etika.

Olah juga menyebut kritik dan kekhawatiran Paus Leo XIV penting karena AI memiliki potensi besar menggantikan tenaga kerja manusia dalam skala masif.

“Ada kemungkinan nyata bahwa AI akan menggantikan pekerjaan manusia dalam skala sangat besar,” ujar Olah.

Co-founder perusahaan AI Anthropic, Christopher Olah, hadir langsung dalam acara peluncuran ensiklik Paus Leo XIV di Vatikan, Senin (25/5/2026).
Vatican News Co-founder perusahaan AI Anthropic, Christopher Olah, hadir langsung dalam acara peluncuran ensiklik Paus Leo XIV di Vatikan, Senin (25/5/2026).

Ia pun meminta lebih banyak pihak di luar industri teknologi ikut terlibat mengawasi perkembangan AI, mulai dari komunitas agama, akademisi, masyarakat sipil, hingga pemerintah.

“Kita membutuhkan lebih banyak pihak seperti yang dilakukan Yang Mulia Paus di sini, melihat isu ini dengan serius dan mendorong perkembangan AI ke arah yang lebih baik,” kata Olah.

“Kita membutuhkan suara-suara moral yang tidak bisa dibelokkan oleh kepentingan dan insentif bisnis,” lanjut dia.

Paus soroti dominasi perusahaan AI

Dalam dokumen yang sama, Paus Leo XIV juga mengkritik konsentrasi kekuasaan AI yang hanya berada di tangan segelintir perusahaan teknologi besar.

Menurut Paus kelahiran 14 September 1955 ini, data dan sistem AI tidak boleh dikuasai sepenuhnya oleh sektor swasta. Ia meminta pemerintah ikut mengambil peran lebih besar demi melindungi pekerja, anak-anak, serta kelompok rentan dari dampak negatif AI.

Paus Leo XIV juga mengingatkan bahwa perlombaan AI berisiko memperbesar konflik global dan mempercepat normalisasi perang digital.

Ia menilai dunia perlu “memperlambat laju” perkembangan AI agar manusia masih punya ruang untuk memahami dampaknya secara sosial dan moral.

“Apa yang dibutuhkan adalah keterlibatan politik yang lebih aktif, yang mampu memperlambat segala sesuatu ketika semuanya bergerak terlalu cepat,” tulis Paus Leo XIV.

Ensiklik “Magnifica Humanitas” sendiri memiliki panjang hampir 43.000 kata dan disebut menjadi fondasi awal sikap resmi Vatikan terhadap perkembangan AI di masa depan.

Banyak pihak menilai ensiklik ini bisa menjadi referensi global penting soal AI, mirip seperti ensiklik “Rerum Novarum” yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891 saat Revolusi Industri.

Kala itu, dokumen tersebut membahas hak pekerja dan dampak industrialisasi, lalu menjadi fondasi penting ajaran sosial Gereja modern.

Kini, Paus Leo XIV mencoba melakukan hal serupa untuk era AI. Ia melihat perkembangan AI saat ini punya dampak besar terhadap pekerjaan manusia, kehidupan sosial, hingga masa depan peradaban, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari AP News, Politico, dan Reuters.

Tag:  #paus #kritik #untuk #perang #profit #silicon #valley #bereaksi

KOMENTAR