Survei Salesforce: 70 Persen Karyawan di Indonesia Lebih Percaya Diri Kerja Pakai AI
- Sebagian besar karyawan di Indonesia dilaporkan sudah siap bekerja dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) maupun agentic AI. Bahkan, kepercayaan diri mereka meningkat ketika bekerja dengan AI.
Laporan itu didasarkan pada survei yang dilakukan oleh perusahaan teknologi Salesforce, tentang sikap dan penerimaan karyawan di Indonesia terhadap AI dan AI agen.
Survei ini melibatkan 1.000 profesional, yaitu mereka yang didefinisikan sebagai karyawan yang bekerja dengan data.
Responden dalam survei ini mencakup karyawan di lintas industri, termasuk keuangan, pemasaran, teknologi informasi, serta manufaktur.
Sebanyak 70 persen dari responden menyatakan bahwa kepercayaan diri mereka meningkat saat bekerja memakai AI. Hanya sekitar 3 persen saja yang menyatakan mereka tidak berencana memakai AI.
Baca juga: Salesforce: Indonesia Jadi Kunci Ekspansi AI di Asia Tenggara
Dalam survei yang sama, 68 persen responden jugamengatakan bahwa penggunaan AI secara pribadi mendorong kepercayaan mereka memanfaatkan AI dalam pekerjaan.
President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, memaparkan studi Salesforce tentang sikap dan penerimaan karyawan di Indonesia terhadap AI dan agentic AI, di hotel Ritz Carlton Pacific Place, Kamis (23/4/2026).
Menurut President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, kesiapan itu selayaknya diimbangi pula dengan kesiapan perusahaan dalam menciptakan kerangka kerja dan keterampilan AI yang tepat guna. Sayangnya hasil survei menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia belum sepenuhnya siap.
Pasalnya, hanya 33 persen pekerja/responden yang mengaku mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaannya.
Baca juga: Salesforce Tunjuk Andreas Diantoro sebagai Presiden Direktur di Indonesia
Padahal untuk mencapai nilai tinggi bagi perusahaan, antusiasme pekerja dan tingkat penggunaan AI pribadi saja dinilai tidak cukup.
"Membuat prompt atau pertanyaan ke ChatGPT adalah perkara mudah bagi para pekerja. Namun, adopsi di lingkungan perusahaan perlu jauh lebih banyak dari itu," kata Andreas dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
"(Diperlukan) Konteks perusahaan, data dari perusahaan serta batasan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang dapat diandalkan. Singkatnya, untuk dapat memanfaat peluang agentic AI secara optimal, diperlukan transformasi baik dari sisi sumber daya manusia maupun dari segi teknologinya," jelas dia.
Selain itu, perusahaan juga dinilai perlu merombak dan merancang ulang rangkaian teknologi yang dipakai serta memastikan bahwa pekerja memiliki akses ke alat-alat AI kelas enterprise yang bermutu, agar mencegah shadow AI, yakni ketika karyawan memakai alat AI bukan dari sumber terpercaya.
Pasalnya, visibilitas yang rendah dinilai dapat menciptakan celah besar dalam aspek keamanan, terutama yang berkaitan dengan data sensitif.
Baca juga: Salesforce PHK 4.000 Karyawan, Perannya Diambil Alih AI
Nah, untuk mengadopsi dan membantu karyawan beradaptasi dengan AI, Andreas juga membagikan empat hal yang perlu dilakukan perusahaan. Rinciannya sebagai berikut.
- Menyederhanakan cara kerja agar AI dapat membantu hidup manusia tetapi tetap dikendalikan manusia
- Peningkatan keterampilan dengan membekali karyawan agar mampu mengarahkan dan mengelola tools dari AI
- Memberikan fleksibilitas kepada karyawan untuk mengejarkan tugas-tugas bernilai tinggi.
- Menyesuaikan peran manusia dan AI sesuai keunggulan masing-masing, manusia dengan kreativitas dan penilaian subjektifnya, dan AI pada kecepatan atau skala yang lebih besar.
Andreas sendiri meyakini bahwa agentic AI dapat membuka potensi kreativitas, produktivitas hingga kapasitas pengguna, khususnya ketika manusia tetap memegang kendali utama.
Tag: #survei #salesforce #persen #karyawan #indonesia #lebih #percaya #diri #kerja #pakai