Perkumpulan Developer Game Bertemu Komdigi, Bahas Keresahan Tentang RC di IGRS
Rating usia IGRS. [ist]
15:16
9 April 2026

Perkumpulan Developer Game Bertemu Komdigi, Bahas Keresahan Tentang RC di IGRS

AGI Bertemu Komdigi

Beberapa pelaku industri termasuk Kris Antoni dan Adam Ardisasmita membagikan hasil pertemuan mereka dengan Komdigi pada 8 April 2026 lalu.

"Kemarin bareng teman-teman gamedev dan AGI (Asosiasi Game Indonesia berdialog bersama Komdigi perihal IGRS. Yang dibahas antara lain: keresahan mengenai RC, penilaian klasifikasi, dan apa yang terjadi di Steam. Semoga bisa menjadi lebih baik," tulis Kris Antoni selaku founder Toge Productions di X.

Sebelumnya, banyak gamer dan developer lokal dibuat bingung dan khawatir ketika menemukan game anak-anak mendapat rating 18+, sementara judul dewasa justru lolos dengan rating 3+.

Menjawab kehebohan ini, Adam Ardisasmita sebagai perwakilan dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) memberikan pernyataan setelah berdiskusi langsung dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Menurut hasil diskusi yang dibagikan lewat Medium, kekacauan ini disebabkan oleh miskomunikasi dan bug teknis.

"Nah, ini berikut beberapa poin yang kita minta klarifikasi bersama. Isu pertama adalah soal rating yang salah. Jadi Komdigi dan Steam itu memang sudah tektokan komunikasi dari 2 tahun lalu. Diskusinya pun cukup lancar dan aman-aman aja. Karena buat Steam regulasi rating seperti ini hal yang biasa mereka lakukan. Tapi kenapa bisa nggak pas nih hasilnya? Penyebabnya pertama adalah tidak semua game di Steam sudah mengisi kuesioner. Jadi kan tiap negara ini punya ratingnya sendiri-sendiri, dan itu di-compile jadi satu kuesioner, yang ketika kita selesai mengisi, kita akan punya rating ESRB, PEGI, dan lain-lain. Masalahnya Steam itu baru mengimplementasikan kuesioner ini belum lama ini. Jadi sebelum Steam punya kuesioner, game-game yang ada sebelum ini, yang lama-lama itu memang otomatis tidak bisa di-convert ke rating, dan dia pasti akan dapat RC di semua negara termasuk di Indonesia," kata Adam.

Sistem IGRS yang seharusnya masih dalam tahap sinkronisasi, terlanjur tayang ke publik.

Selain itu, banyak game lama di Steam belum mengisi kuesioner rating yang baru, sehingga otomatis mendapatkan label RC.

Meski sudah ada penjelasan, para pelaku industri alias gamedev tetap menyuarakan keresahan yang lebih dalam.

Mereka khawatir sistem IGRS dan label RC bisa menjadi senjata untuk melakukan pemblokiran dan sensor sewenang-wenang di masa depan.

Hal ini dinilai dapat menghambat pertumbuhan developer baru dan membuat pasar lokal tidak ramah bagi karya anak bangsa.

Pihak Komdigi sendiri menyatakan bahwa tujuan IGRS adalah melindungi konsumen, layaknya label informasi alergi pada makanan, dan pemblokiran adalah langkah terakhir setelah teguran berulang.

Dialog antara pemerintah dan pelaku industri masih terus berjalan untuk menyempurnakan regulasi yang dinilai belum matang ini.

Kejelasan dan transparansi menjadi kunci agar IGRS benar-benar berfungsi sebagai pemandu, bukan sebagai gerbang penghalang kreativitas.

"Pak Sony menjelaskan lagi bahwa Komdigi tidak bisa memblok karya kecuali memang sudah diberikan teguran berulang-ulang dan memang ada dorongan dari keresahan masyarakat. Tapi sayangnya RC ini memang digunakan di negara lain sebagai produk yang diblokir. Jadi sebaiknya ada label lain yang diberikan agar konsumen tahu bahwa game ini masih dalam pemeriksaan atau belum memberikan info konten mereka, tetapi masih bisa dikonsumsi," bunyi keterangan ringkasan FGD AGI dengan Komdigi.

Editor: Farah Nabilla

Tag:  #perkumpulan #developer #game #bertemu #komdigi #bahas #keresahan #tentang #igrs

KOMENTAR